JAKARTA, JOGLOSEMARNEWS.COM — Serangan air keras yang menimpa Wakil Koordinator KontraS, Andrie Yunus, memantik kembali kekhawatiran publik terhadap keselamatan para aktivis di Indonesia. Peristiwa yang terjadi di kawasan Senen, Jakarta Pusat, itu bahkan mengingatkan sebagian pihak pada kasus penyiraman air keras terhadap penyidik KPK, Novel Baswedan, beberapa tahun silam.
Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 RI, Jusuf Kalla, menilai terdapat kemiripan pola dalam metode serangan yang digunakan. Ia pun menyampaikan keprihatinannya atas insiden yang menimpa aktivis hak asasi manusia tersebut.
“Tentu kita pertama prihatin dan menyayangkan ini terjadi, dengan harapan polisi betul-betul (mengusut),” ujar JK saat ditemui di kediamannya di Jalan Brawijaya, Jakarta Selatan, Sabtu (14/3/2026).
Menurut JK, penggunaan cairan korosif untuk melukai korban mengingatkannya pada kasus yang dialami Novel Baswedan pada 2017 silam. Saat itu, Novel diserang air keras setelah menunaikan salat Subuh di Kelapa Gading, Jakarta Utara.
“Setelah KPK dulu, siapa namanya si, Novel Baswedan itu, ke ini lagi, kena lagi,” tutur JK.
Kasus yang menimpa Novel kala itu sempat menjadi sorotan luas, terutama karena terjadi di tengah pengusutan perkara korupsi besar proyek e-KTP. Serangan tersebut menyebabkan kerusakan permanen pada mata kiri Novel dan akhirnya berujung pada vonis penjara bagi dua pelakunya.
Dalam kasus terbaru ini, JK menduga serangan terhadap Andrie Yunus tidak dapat dilepaskan dari aktivitasnya sebagai aktivis di KontraS. Apalagi insiden tersebut terjadi tak lama setelah Andrie menjadi narasumber dalam sebuah podcast bertema “Remiliterisme dan Judicial Review di Indonesia” di kantor YLBHI.
“Berarti ada kelompok atau siapa itu kita tidak tahu. Supaya polisi tentu melihat, ada hubungannya dengan kegiatan yang bersangkutan,” ungkap JK.
Meski demikian, JK mengingatkan agar publik tidak terburu-buru menyimpulkan motif serangan sebelum ada hasil penyelidikan resmi. Ia menilai berbagai kemungkinan tetap harus dipertimbangkan.
“Ada juga, kita tahu ada anak-anak SMA yang hobinya hanya sekadar usil atau iseng melakukan begitu. Kita tidak tahu ini. Jadi perlu kita lihat siapa yang dirugikan (oleh kegiatan korban),” jelas JK.
Karena itu, ia mendorong kepolisian untuk bergerak cepat dan aktif menelusuri pihak-pihak yang mungkin memiliki kepentingan atau merasa terganggu dengan aktivitas korban.
“Jadi tinggal polisi yang harus aktif untuk melihat itu,” pungkasnya.
Sementara itu, kondisi Andrie Yunus dilaporkan masih menjalani perawatan intensif. Kepala Divisi Impunitas KontraS, Jane Rosalina, menyebut korban mengalami luka bakar kimia yang cukup serius.
“Kondisi paling serius pada mata kanan. Korban dirawat di ruang intensif yang steril untuk menghindari infeksi,” ujarnya.
Menurut Jane, luka akibat serangan tersebut mengenai beberapa bagian tubuh korban, termasuk wajah, mata, tangan, dan dada dengan tingkat luka bakar mencapai sekitar 24 persen.
Insiden itu sendiri terjadi ketika korban dihentikan oleh pelaku yang mengendarai sepeda motor di Jalan Salemba I-Talang, Jakarta Pusat. Tidak ada barang milik korban yang diambil, sehingga dugaan kuat mengarah pada aksi intimidasi.
Menanggapi peristiwa tersebut, Polri menyatakan tengah melakukan penyelidikan intensif. Kadiv Humas Polri, Irjen Johnny Eddizon Isir, mengatakan Kapolri telah memberi instruksi khusus untuk mengungkap kasus tersebut.
“Kami serius untuk membuat terang benderang, mengungkap, dan menangkap pelakunya, siapa pun dia,” tegasnya.
Tim gabungan saat ini disebut sedang melakukan penyelidikan menggunakan metode scientific investigation, termasuk menelusuri rekaman CCTV serta berbagai bukti digital guna mengidentifikasi pelaku. [*] Disarikan dari sumber berita media daring
Harap bersabar jika Anda menemukan iklan di laman ini. Iklan adalah sumber pendapatan utama kami untuk tetap dapat menyajikan berita berkualitas secara gratis.

4 hours ago
1


















































