Harga Plastik Naik Gila-gilaan! UMKM Terpukul, Ternyata Begini Solusi Pemerintah

21 hours ago 7
Es kristalEs kristal berpadu teh yang segar. Joglosemarnews.com/Aris Arianto

WONOGIRI, JOGLOSEMARNEWS.COM – Lonjakan harga plastik kini benar-benar menghantam pelaku usaha, terutama sektor makanan dan minuman. Kenaikan ini bukan tanpa sebab, tapi dipicu gangguan global yang efeknya langsung terasa hingga ke level UMKM.

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Jawa Tengah, July Emmylia, blak-blakan soal akar masalah yang bikin harga plastik melonjak tajam.

“Kenaikan harga plastik itu disebabkan dari hilirnya dulu, yaitu terganggu pasokan secara global akibat ketegangan politik di Selat Hermus, yang berdampak pada naiknya harga naphta sebagai bahan baku plastik,” ujarnya, beberapa waktu lalu.

Kondisi ini diperparah dengan lonjakan harga naphta yang tidak main-main. Dari sebelumnya sekitar 600 dolar per ton, kini tembus hingga 900 dolar per ton. Kenaikan drastis ini otomatis menyeret harga plastik ikut meroket dan membebani pelaku usaha.

Dampaknya paling terasa di sektor pangan. UMKM makanan dan minuman jadi pihak paling tertekan karena plastik digunakan sebagai kemasan utama, bukan sekadar pelengkap seperti di sektor lain.

“Tekanan yang paling berat itu adalah di IKM maupun UKM sektor pangan, karena penggunaan plastik sangat intens sebagai kemasan utama. Sektor lain tetap terdampak namun tidak sebesar industri makanan dan minuman,” lanjutnya.

Situasi ini membuat banyak pelaku usaha harus memutar otak agar tetap bertahan di tengah biaya produksi yang terus naik.

Tak tinggal diam, Pemprov Jawa Tengah langsung menyiapkan langkah cepat untuk menahan dampak yang makin meluas.

✓ Pengawasan ketat bersama kepolisian untuk mencegah penimbunan plastik
✓ Operasi lapangan guna menjaga stabilitas distribusi
✓ Kampanye masif pengurangan plastik sekali pakai
✓ Dorongan penggunaan tumbler dan tas belanja reusable

“Dalam jangka pendek kami akan turun ke lapangan bersama kepolisian, untuk mencegah penimbunan plastik, dan memperkuat kembali gerakan pengurangan penggunaan plastik sekali pakai,” terang Emmy.

Tak hanya solusi jangka pendek, strategi jangka panjang juga mulai disiapkan. Salah satunya dengan mendorong penggunaan bioplastik berbahan dasar pati singkong sebagai alternatif.

Meski saat ini harganya masih lebih mahal dibanding plastik biasa, langkah ini dinilai penting untuk masa depan industri yang lebih stabil dan ramah lingkungan.

✓ Substitusi awal bioplastik ditargetkan 20–30 persen
✓ Pengembangan industri berbasis ramah lingkungan
✓ Dorongan penggunaan energi terbarukan seperti panel surya
✓ Potensi efisiensi biaya produksi hingga 20 persen

Menurut Emmy, transformasi menuju industri hijau bukan lagi pilihan, tapi kebutuhan agar pelaku usaha tetap kompetitif.

“Kita harus mulai bertransformasi ke green industry, baik untuk IKM maupun industri besar, karena penghematan energi bisa menutup kenaikan biaya produksi,” tuturnya.

Ia juga mengajak masyarakat dan pelaku UMKM untuk mulai beradaptasi dengan perubahan ini, termasuk beralih ke bahan kemasan yang lebih ramah lingkungan.

“Kami menghimbau masyarakat maupun UMKM untuk mulai mengganti penggunaan plastik dengan bahan yang lebih ramah lingkungan. Kesulitan itu justru bisa menjadi kesempatan untuk bertransformasi,” pungkasnya.

Lonjakan harga plastik ini jadi alarm keras bagi pelaku usaha. Jika tidak segera beradaptasi, tekanan biaya bisa semakin mencekik. Namun di sisi lain, peluang menuju industri hijau justru mulai terbuka lebar bagi yang siap bergerak cepat. Aris Arianto

Harap bersabar jika Anda menemukan iklan di laman ini. Iklan adalah sumber pendapatan utama kami untuk tetap dapat menyajikan berita berkualitas secara gratis.

Read Entire Article
Politik | Local| Daerah| Finance| Sport|