Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat berkomitmen terus melestarikan budaya Jawa. Terkait itu, Keraton Solo mengakui tidak hanya membutuhkan peran Pemerintah Daerah, namun juga peran swasta. IstimewaSOLO, JOGLOSEMARNEWS.COM — Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat berkomitmen terus melestarikan budaya Jawa. Terkait itu, Keraton Solo mengakui tidak hanya membutuhkan peran Pemerintah Daerah, namun juga peran swasta.
Dalam kesempatan peringatan Hari Tari Sedunia di Solo, Jawa Tengah, Rabu petang, Ketua Lembaga Dewan Adat (LDA) Keraton Solo sekaligus putri Pakubuwana XII GKR Wandansari Koes Moertiyah atau akrab disapa Gusti Moeng mengatakan Keraton Solo berperan besar pada pergantian dari era kerajaan menuju NKRI.
Terkait itu, ia mengatakan untuk terus mendapatkan dukungan baik dari pemerintah maupun swasta untuk terus melestarikan budaya Jawa. Menurutnya, salah satu pihak swasta yang konsisten mendukung pelestarian budaya Keraton Solo yakni Wong Solo Group.
“Dalam waktu dekat kami akan menata sanggar pedalangan yang sudah lama terbengkalai. Tempatnya sedang kami renovasi supaya nanti ada pembelajaran lagi pedalangan yang pastinya pakem keraton, kelihatannya sekarang jadi keresahan dalang bahwa pakem keraton mulai ditinggalkan. Dari Wong Solo Grup ini Pak Puspo menjadi salah satu yang terus menunjukkan komitmennya mendukung pelestarian budaya di Keraton. Saya mengapresiasi karena memang tidak hanya dari pemerintah, peran swasta juga dibutuhkan,” ungkapnya, Rabu (29/4/2026) malam.
Sementara itu, Owner Wong Solo Group Puspo Wardoyo menjelaskan Keraton Solo merupakan salah satu warisan budaya kebanggaan warga Solo. Ia berharap Keraton Solo tetap dihormati masyarakat seperti halnya yang terjadi di Yogyakarta.
“Saya ikut berpartisipasi karena keraton termasuk kebanggaan saya, sebagai masyarakat Solo kita harus ikut nguri-uri, terutama termasuk budayanya. Apalagi ini kan keraton tertua. Harapan saya Keraton Solo tetap harus baik, rukun, kompak, dan kerja sama dengan pemerintah supaya bisa baik,” bebernya.
Di sisi lain, peringatan Hari Tari Sedunia di Keraton Solo diwarnai dengan pertunjukan beberapa tarian tradisional. Salah satunya tarian bernama Bedaya Sukamulya karya Gusti Moeng. Tarian tersebut sarat akan pesan moral dan spiritual.
Nama tarian diambil dari kata suka yang berarti kebahagiaan dan mulyo yang berarti kemuliaan. Lewat tarian ini diharapkan agar tradisi Mataram senantiasa hidup dalam kebahagiaan dengan dilandasi oleh keluhuran budi dan kemuliaan jiwa.
Tarian yang dimainkan oleh sembilan perempuan muda ini merupakan turunan dari tarian Bedaya Ketawang. Tari Bedaya Sukamulya sendiri diciptakan oleh Gusti Moeng saat memperingati ulang tahun ke-80 PB XII.
Selanjutnya juga tampil tarian Fragmen Tari Topeng Panji Sekartaji. Tarian tersebut menceritakan kisah cinta putri Kerajaan Kediri Dewi Sekartaji dan Raden Panji Asmorobangun yang merupakan Pangeran dari Jenggala. Di akhir acara, Gusti Moeng memberikan penghargaan kepada Puspo Wardoyo atas dedikasinya terhadap pelestarian budaya Jawa, khususnya Keraton Solo.
Harap bersabar jika Anda menemukan iklan di laman ini. Iklan adalah sumber pendapatan utama kami untuk tetap dapat menyajikan berita berkualitas secara gratis.

5 hours ago
2
















































