Diskusi dengan 3 Menteri di UGM Ricuh, Budiman Sudjatmiko Diduga Kabur Lewat Pintu Belakang

1 hour ago 3
Ilustrasi / pixabay

YOGYAKARTA, JOGLOSEMARNEWS.COM Diskusi publik yang menghadirkan sejumlah pejabat Kabinet Merah Putih di Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta, Senin (15/6/2026) malam, berakhir ricuh.
Situasi memanas setelah mahasiswa melancarkan protes keras kepada para narasumber, sementara Kepala Badan Percepatan Pengentasan Kemiskinan (BP Taskin), Budiman Sudjatmiko, disebut-sebut menghilang saat massa menuntut dialog lanjutan.
Kegiatan bertajuk “Kopdar Bareng Mas Dar” yang digelar di Gelanggang Inovasi dan Kreativitas (GIK) UGM itu menghadirkan Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala BPN Nusron Wahid, Kepala BP Taskin Budiman Sudjatmiko, serta Wakil Menteri Pertanian Sudaryono.
Sejak awal, forum tersebut mendapat sorotan dari Aliansi Serikat Mahasiswa UGM. Mereka mempertanyakan relevansi pembahasan mengenai Pancasila di tengah berbagai persoalan nasional yang dinilai belum terselesaikan pada era pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.
Dalam pernyataan yang diunggah melalui akun Instagram Serikat Mahasiswa UGM, mahasiswa menilai berbagai kebijakan pemerintah belum menyentuh akar persoalan masyarakat.
“Rezim kita buta terhadap banyaknya kebijakan yang tidak pernah menyentuh akar permasalahan. MBG yang menyerap habis APBN, koperasi desa merah putih yang nirmanfaat. Siapa yang sebenarnya dilayani rezim, cita-cita Pancasila atau cita-cita untuk berkuasa?” tulis mereka.
Mahasiswa juga menyoroti kondisi ekonomi yang mendorong masyarakat turun ke jalan, sementara di sisi lain pemerintah dianggap masih melakukan pengeluaran yang dinilai tidak berpihak kepada rakyat.
“Omong kosong bicara Pancasila ketika pemerintah sendiri yang mengingkari nilai-nilai Pancasila itu sendiri,” lanjut pernyataan tersebut.
Ketegangan mulai meningkat setelah sesi pemaparan materi berakhir sekitar pukul 20.30 WIB. Dalam forum itu, Budiman Sudjatmiko sempat mengajak peserta menyampaikan kritik secara langsung kepada para pejabat yang hadir.
“Silakan kritik kami di sini, jangan di media sosial,” ujar Budiman.
Ajakan tersebut justru memicu gelombang pertanyaan dan kritik tajam dari mahasiswa. Mereka mempertanyakan legitimasi para pejabat untuk berbicara mengenai nilai-nilai Pancasila ketika berbagai persoalan bangsa, mulai dari konflik agraria hingga kesejahteraan rakyat, dinilai belum mendapatkan penyelesaian memadai.
Suasana semakin memanas ketika sejumlah mahasiswa naik ke atas panggung sambil membentangkan spanduk bertuliskan “UGM Menolak Pengkhianat Reformasi” dan “UGM Menolak Penjilat Rezim”. Tak lama kemudian, gelas air mineral dilemparkan ke arah area narasumber sehingga forum terpaksa dihentikan.
Panitia dan petugas keamanan segera mengevakuasi para pejabat keluar dari gedung. Namun proses tersebut tidak berjalan mulus karena ratusan mahasiswa telah berkumpul di luar dan menghadang kendaraan yang akan digunakan para narasumber meninggalkan lokasi.
Massa terus meneriakkan tuntutan agar dialog dilanjutkan secara terbuka.
“Mana Budiman! Katanya mau diskusi!” teriak mahasiswa.
Di tengah tekanan massa, Nusron Wahid dan Sudaryono akhirnya kembali menemui mahasiswa untuk melanjutkan dialog di luar gedung. Sementara itu, Budiman tidak terlihat lagi di lokasi. Mahasiswa menduga mantan aktivis tersebut keluar melalui jalur belakang saat situasi memanas.
Pada dialog lanjutan, salah seorang mahasiswa menyinggung persoalan alih fungsi lahan dalam skala besar di Papua yang dinilai berdampak terhadap masyarakat adat. Pertanyaan itu ditujukan kepada Nusron Wahid selaku Menteri ATR/BPN.
Namun jawaban Nusron yang mengajak mahasiswa melihat langsung kondisi di Papua dianggap tidak menjawab substansi persoalan. Ketidakpuasan massa kembali meningkat.
Tak berselang lama, Nusron dan Sudaryono memilih meninggalkan lokasi dengan berjalan kaki menuju kawasan Bundaran UGM dan gerbang selatan kampus. Langkah tersebut memicu upaya penghadangan dari mahasiswa yang menggunakan water barrier sebagai penghalang jalan. Aksi saling dorong dan kejar-kejaran pun sempat terjadi di sekitar area kampus.
Kekecewaan mahasiswa juga tertuju kepada Budiman Sudjatmiko yang tidak muncul kembali untuk berdialog.
“Budiman yang pernah ikut aksi demonstrasi malah kabur, dasar pengkhianat, pengecut,” teriak sejumlah mahasiswa.
Serikat Mahasiswa UGM menyebut insiden tersebut sebagai bentuk peringatan terhadap pemerintah. Mereka mempertanyakan apakah nilai-nilai Pancasila benar-benar dijalankan ketika kritik masyarakat dianggap mengganggu, konflik agraria masih terjadi, dan rakyat diminta berhemat di tengah berbagai kebijakan yang dinilai tidak berpihak pada kepentingan publik.
Di akhir pernyataannya, mereka bahkan melontarkan peringatan keras kepada pemerintah.
“Jika pemerintah terus merampas keadilan dan membiarkan perut rakyat kelaparan, jangan salahkan publik jika kesabaran ini habis. Jangan terkejut jika dalam waktu dekat revolusi menjadi satu-satunya jalan keluar,” tegas Serikat Mahasiswa UGM. [*] Disarikan dari sumber berita media daring

Harap bersabar jika Anda menemukan iklan di laman ini. Iklan adalah sumber pendapatan utama kami untuk tetap dapat menyajikan berita berkualitas secara gratis.

Read Entire Article
Politik | Local| Daerah| Finance| Sport|