WONOGIRI, JOGLOSEMARNEWS.COM – Masalah sampah pangan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) mulai jadi perhatian serius. Pemerintah Provinsi Jawa Tengah tak tinggal diam. Bersama Badan Gizi Nasional dan civitas akademika sebuah perguruan tinggi, langsung bergerak cepat menggelar kampanye besar-besaran: stop boros pangan, siswa didorong habiskan makanan!
Langkah ini menyasar langsung siswa sekolah dasar di 23 sekolah di Semarang. Targetnya jelas, mengubah kebiasaan anak-anak agar tidak menyisakan makanan yang berujung jadi sampah.
Melansir laman resmi Pemprov Jateng, Kepala Dinas Ketahanan Pangan Jawa Tengah, Dyah Lukisari, menegaskan bahwa program ini bukan sekadar kampanye biasa. Ini adalah tindak lanjut kerja sama antara Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi dengan perguruan tinggi di wilayahnya.
Masalah utamanya sudah jelas terlihat di lapangan. Berdasarkan evaluasi, banyak makanan dalam program MBG justru terbuang. Penyebabnya beragam:
✓ Tidak suka menu tertentu, terutama sayur
✓ Rasa yang kurang sesuai selera anak
✓ Kebiasaan memilih makanan favorit saja
✓ Kurangnya edukasi pentingnya gizi seimbang
Kondisi ini membuat tujuan program MBG jadi tidak maksimal. Padahal, makanan yang disediakan sudah dirancang memenuhi standar B2SA (Beragam, Bergizi, Seimbang, dan Aman).
Untuk mengatasi itu, mahasiswa Udinus langsung diterjunkan. Mereka tidak hanya belajar teori, tapi ikut membuat materi kampanye yang benar-benar “kena” ke anak-anak. Metodenya dibuat beda:
• Video animasi menarik
• Konten visual edukatif
• Pesan sederhana tapi kuat: ambil secukupnya, habiskan tanpa sisa
Dyah Lukisari menegaskan pendekatan ini penting agar pesan tidak terasa menggurui. Anak-anak diajak memahami, bukan dipaksa.
“Maka kita gandeng. Kami siapkan substansinya, Udinus menyiapkan dari sisi ilmu komunikasi dan IT. Kolaborasi ini diharapkan dapat mendukung pelaksanaan program makan bergizi gratis,” ujarnya.
Dari pihak kampus, Pujiono menyebut sebanyak 230 mahasiswa dilibatkan langsung dalam kampanye ini. Mereka turun ke lapangan membawa pendekatan kreatif yang sesuai dengan dunia anak-anak SD.
“Penyampaian pesan bisa melalui animasi, video, maupun tulisan, yang disesuaikan dengan usia siswa SD,” jelasnya.
Sementara itu, perwakilan Badan Gizi Nasional, Riyan Eko Prasetyo, menilai program ini sebagai langkah strategis untuk memperbaiki pelaksanaan MBG secara menyeluruh.
Menurutnya, data dari kampanye ini akan sangat penting untuk evaluasi ke depan, termasuk dalam proses produksi makanan agar tidak berujung pemborosan.
“Output-nya menjadi data bagi kami sebagai bahan evaluasi pada SPPG dalam produksi MBG, agar tidak menimbulkan pemborosan pangan,” tegasnya.
Fokus utama tetap satu: siswa diminta menghabiskan makanan MBG agar tidak timbul sampah. Jika kebiasaan ini terbentuk sejak dini, menurut mereka dampaknya bukan hanya pada pengurangan sampah, tapi juga pada peningkatan kualitas gizi generasi muda. Aris Arianto
Harap bersabar jika Anda menemukan iklan di laman ini. Iklan adalah sumber pendapatan utama kami untuk tetap dapat menyajikan berita berkualitas secara gratis.

12 hours ago
5


















































