Pengendara melintas di dekat lubang jalan di Krapyak, Nguntoronadi Wonogiri, Senin (16/12/2024). Joglosemarnews.com/Aris Arianto WONOGIRI, JOGLOSEMARNEWS.COM – Kabar perbaikan jalan provinsi di Kabupaten Wonogiri memang terdengar menjanjikan. Pemerintah Provinsi Jawa Tengah menggelontorkan anggaran lebih dari Rp40 miliar untuk enam paket pekerjaan jalan pada 2026.
Namun di balik angka fantastis tersebut, muncul pertanyaan yang ramai dibicarakan masyarakat: mengapa jalan rusak yang mencapai puluhan kilometer hanya mendapatkan penanganan sekitar 3 kilometer?
Pertanyaan itu bukan tanpa alasan. Selama bertahun-tahun, warga Wonogiri menghadapi kondisi jalan yang jauh dari ideal. Aspal mengelupas, permukaan bergelombang, lubang menganga, hingga tambalan yang cepat rusak kembali menjadi pemandangan sehari-hari di sejumlah ruas jalan provinsi.
Saat jajaran Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) Provinsi Jawa Tengah melakukan pengecekan lapangan Senin (15/6/2026), harapan masyarakat kembali menguat. Kunjungan tersebut dipimpin Kepala DPUPR Jawa Tengah, Henggar Budi Anggoro, didampingi Kepala DPUPR Wonogiri, Prihadi Ariyanto.
Dari hasil peninjauan itu, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah memastikan sejumlah ruas jalan akan mendapatkan perbaikan melalui alokasi anggaran Peraturan Kepala Daerah (Perkada) Jawa Tengah.
Ruas pertama yang akan ditangani adalah jalan Ngadirojo–Giriwoyo sepanjang sekitar 1,65 kilometer. Jalan tersebut akan dibangun menggunakan konstruksi beton dengan nilai anggaran sekitar Rp24,1 miliar.
Selanjutnya ruas Manyaran–Blimbing sepanjang kurang lebih 1 kilometer juga masuk daftar perbaikan dengan anggaran sekitar Rp5,7 miliar.
Selain itu, ruas Ngadirojo–Biting sepanjang sekitar 1 kilometer akan memperoleh rehabilitasi dengan pagu anggaran Rp3,013 miliar.
“Kedua ruas jalan tersebut dipastikan akan diperbaiki menggunakan alokasi anggaran Perkada Jawa Tengah,” ujar Henggar Budi Anggoro.
Jika dihitung secara keseluruhan, panjang jalan yang secara spesifik disebut akan diperbaiki dalam paket utama tersebut hanya sekitar 3 kilometer. Angka inilah yang kemudian menjadi bahan perbincangan masyarakat.
Pasalnya, keluhan jalan rusak di Wonogiri bukan hanya muncul di satu atau dua titik. Banyak warga menilai kerusakan jalan provinsi tersebar di berbagai ruas dengan total panjang mencapai puluhan kilometer. Tidak sedikit jalan yang bertahun-tahun hanya mendapat tambalan sementara sebelum akhirnya kembali rusak.
Meski demikian, pemerintah menegaskan bahwa perbaikan jalan di Wonogiri tidak hanya berasal dari anggaran Perkada. Masih ada tiga paket pekerjaan lain yang akan dilaksanakan melalui Balai Pengelolaan Jalan Wilayah Surakarta.
Dengan demikian, total terdapat enam paket pekerjaan jalan provinsi yang akan berjalan di Kabupaten Wonogiri sepanjang tahun 2026 dengan nilai keseluruhan mencapai lebih dari Rp40 miliar.
“Jadi secara keseluruhan, Wonogiri tahun ini mendapat enam paket pengerjaan jalan senilai total Rp40-an miliar,” jelas Henggar.
Besarnya nilai proyek memang menarik perhatian. Namun bagi masyarakat yang setiap hari melintas di jalan-jalan rusak, ukuran keberhasilan bukanlah angka miliaran rupiah di atas kertas, melainkan seberapa banyak ruas jalan yang benar-benar berubah menjadi aman dan nyaman digunakan.
Di sisi lain, Gubernur Luthfi telah menempatkan infrastruktur jalan sebagai prioritas utama pada perubahan anggaran tahun 2026. Bahkan Pokok Pikiran (Pokir) yang selama ini menjadi bagian dari penganggaran DPRD Jawa Tengah akan direvitalisasi untuk mempercepat pembangunan jalan.
“Prioritas infrastruktur jalan. Di anggaran perubahan nanti kita ubah. Pokir akan direvitalisasi untuk infrastruktur jalan,” tegas Luthfi.
Kebijakan tersebut muncul setelah banyaknya aspirasi masyarakat dari berbagai daerah yang mengeluhkan kondisi jalan rusak. Musim hujan panjang yang berlangsung sejak tahun lalu hingga awal 2026 juga mempercepat kerusakan sejumlah ruas jalan di Jawa Tengah.
Kini saat musim kemarau berlangsung, pemerintah mulai memetakan kembali titik-titik prioritas yang akan mendapatkan penanganan. Targetnya adalah menurunkan angka jalan rusak secara signifikan sebelum akhir tahun.
Namun bagi masyarakat Wonogiri, perhatian tidak lagi tertuju pada janji maupun angka anggaran. Mereka ingin melihat hasil nyata di lapangan.
“Bukan soal bersyukur atau tidak, bukan pula soal alasan efisiensi anggaran. Ini soal goodwill pemerintah,” ungkap salah satu pengguna jalan.
Pernyataan tersebut menggambarkan keresahan yang selama ini dirasakan warga. Sebab persoalan jalan rusak bukan hanya berkaitan dengan kenyamanan berkendara, tetapi juga menyangkut keselamatan, biaya transportasi, distribusi barang, hingga aktivitas ekonomi masyarakat.
“Harapan warga sebenarnya sederhana. Mereka menginginkan jalan yang kuat, aman, nyaman dilalui, dan bertahan lama. Bukan jalan yang baru diperbaiki beberapa bulan lalu lalu kembali berlubang ketika musim hujan datang,” jelas warga lainnya.
Karena itu, meski proyek perbaikan jalan senilai lebih dari Rp40 miliar mulai berjalan, sebagian masyarakat memilih menahan euforia. Mereka menilai keberhasilan program ini baru bisa diukur ketika kondisi jalan rusak yang selama ini membentang puluhan kilometer benar-benar berkurang secara signifikan.
Akhir tahun 2026 kini menjadi titik yang dinanti banyak warga. Saat itulah publik akan melihat apakah anggaran puluhan miliar rupiah mampu mengubah wajah jalan-jalan Wonogiri, atau justru menyisakan pertanyaan yang belum terjawab: mengapa jalan rusak puluhan kilometer hanya tersentuh perbaikan sekitar 3 kilometer? Aris Arianto
Harap bersabar jika Anda menemukan iklan di laman ini. Iklan adalah sumber pendapatan utama kami untuk tetap dapat menyajikan berita berkualitas secara gratis.

4 hours ago
2

















































