Usul RI Keluar dari BoP, FPI Minta Prabowo Sampaikan Belasungkawa Terbuka atas Wafatnya Ayatollah Khamenei

12 hours ago 4
Habib Hanif Alatas | Wikipedia

JAKARTA, JOGLOSEMARNEWS.COM – Organisasi Front Pembela Islam (FPI) meminta Presiden Prabowo Subianto menyampaikan secara langsung dan terbuka ucapan belasungkawa atas wafatnya Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Hosseini Khamenei.

Permintaan tersebut disampaikan Sekretaris Majelis Syura DPP Front Pembela Islam, Habib Hanif Alatas, usai menghadiri acara buka puasa bersama Presiden di Kompleks Istana Kepresidenan Jakarta, Kamis (5/3/2026). Menurutnya, pesan itu merupakan amanat dari mantan Imam Besar FPI, Rizieq Shihab.

“Tadi kami minta, amanat dari Habib Rizieq ya, karena Iran ini kan negara sahabat juga. Kami minta Presiden jangan hanya mengutus Menteri Luar Negeri untuk menyampaikan bela sungkawa, tapi kami minta supaya Presiden sampaikan bela sungkawa secara terbuka,” kata Hanif.

Ia menilai Iran memiliki hubungan persahabatan dengan Indonesia sehingga wajar apabila pemerintah memberikan dukungan moral, terutama ketika negara tersebut sedang menghadapi serangan terhadap wilayahnya.

Selain itu, FPI juga menyampaikan usulan agar Indonesia menarik diri dari forum internasional Board of Peace. Hanif mengatakan permintaan tersebut bahkan telah disampaikan secara resmi melalui surat yang dititipkan kepada salah satu menteri untuk diteruskan kepada Presiden.

“Kami sudah sampaikan surat, dititipkan melalui salah satu menteri beliau, dan kita sudah sampaikan ke Presiden tetap kita minta supaya Republik Indonesia menarik diri dari BoP. Bukan karena tidak percaya sama Presiden, bukan, tapi kami tidak percaya Amerika-nya, tidak percaya dengan Israel-nya,” ucap dia.

Seperti diketahui, kabar duka mengenai wafatnya Ali Khamenei mencuat setelah serangan militer gabungan yang dilancarkan Amerika Serikat dan Israel ke wilayah Iran pada 28 Februari 2026.

Dalam kesempatan yang sama, sejumlah tokoh Islam yang hadir dalam acara buka puasa bersama Presiden juga memberikan pandangan mengenai sikap pemerintah Indonesia atas peristiwa tersebut.

Reaksi lebih lunak datang dari Ketua Dewan Penasihat Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia, Jimly Asshiddiqie. Ia menilai sikap belasungkawa yang disampaikan Presiden merupakan langkah yang tepat.

Ia menyebut Indonesia sebagai negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia memiliki tanggung jawab moral untuk menunjukkan solidaritas.

“Jadi, saya rasa kita sebagai negeri Muslim terbesar, yang menganut Pancasila, ketuhanan yang Maha Esa, kemanusiaan yang adil dan beradab, ini tidak bisa terima dengan pembunuhan biadab,” ucap Jimly di Istana Kepresidenan Jakarta.

Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia itu juga berpandangan Indonesia seharusnya memainkan peran lebih aktif dalam meredakan ketegangan yang melibatkan negara-negara Islam.

Pandangan senada disampaikan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama, Yahya Cholil Staquf. Ia menilai ucapan belasungkawa merupakan sikap yang wajar dari sudut pandang kemanusiaan.

Namun menurutnya, yang jauh lebih penting adalah upaya nyata untuk menghentikan konflik bersenjata yang terus berlanjut.

“Kita tidak punya pilihan selain berjuang sekuat tenaga supaya damai. Berhenti perang, damai sekarang. Tidak ada alternatif lain. Karena kalau tidak begitu, tidak ada yang selamat. Kekerasaan ini harus dihentikan dengan cara apapun,” kata Yahya.

Ia juga menilai Indonesia perlu memanfaatkan berbagai mekanisme kerja sama internasional yang tersedia untuk mendorong perdamaian dunia, termasuk melalui forum Board of Peace.

“Lihat, kita cari caranya memanfaatkan BoP untuk upaya perdamaian itu. Apapun yang sudah ada di tangan, mari kita gunakan. Kalau kita butuh menggali lubang, tidak ada sekop, kita gali pakai sendok,” ujar Yahya. [*] Disarikan dari sumber berita media daring

Harap bersabar jika Anda menemukan iklan di laman ini. Iklan adalah sumber pendapatan utama kami untuk tetap dapat menyajikan berita berkualitas secara gratis.

Read Entire Article
Politik | Local| Daerah| Finance| Sport|