Kemarau 2026 Diprediksi Lebih Panjang! Wonogiri Hadapi Musim Kering Lebih Lama, Ini Jadwal Lengkapnya

4 hours ago 6
Foto ilustrasi kekeringan / Dok Joglosemarnews

WONOGIRI, JOGLOSEMARNEWS.COM – Prediksi terbaru soal musim kemarau 2026 di Jateng akhirnya resmi dirilis. Hasil analisis dinamika atmosfer dari Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) melalui Stasiun Klimatologi Jawa Tengah menunjukkan sinyal yang cukup mencolok: musim kemarau tahun ini diperkirakan datang lebih panjang dibandingkan kondisi normal.

Melansir laman resmi Pemkab Jateng tenggara, Sabtu (1403/2026), sebagian besar wilayah di Jateng diprediksi mulai memasuki musim kemarau pada Mei 2026. Informasi ini disampaikan langsung oleh Kepala Stasiun Klimatologi Jateng, Goeroeh Djiptanto, berdasarkan hasil pemantauan pola atmosfer terbaru.

Tak hanya soal waktu kedatangan, durasi kemarau tahun ini juga diprediksi lebih lama dari biasanya. Secara klimatologis, kemarau di Jateng bisa berlangsung satu hingga tiga dasarian lebih panjang dari rata-rata normal. Artinya, musim kering bisa bertambah sekitar 10 hingga 30 hari lebih lama.

Puncak musim kemarau sendiri diperkirakan terjadi pada Agustus 2026. Pada periode tersebut, curah hujan akan berada pada titik paling rendah sehingga kondisi cuaca cenderung lebih kering di berbagai daerah.

Meski begitu, awal musim kemarau di beberapa wilayah ternyata tidak datang bersamaan. Ada daerah yang akan lebih dulu merasakan kemarau sejak awal April 2026.

Wilayah yang diprediksi mengalami kemarau paling awal antara lain:
✓ Kabupaten Rembang
✓ Kepulauan Karimun Jawa
✓ Sebagian besar Kabupaten Pati
✓ Sebagian wilayah Kabupaten Jepara

Sementara beberapa daerah lain justru diperkirakan baru benar-benar masuk musim kemarau pada pertengahan Juni 2026, seperti:
• Sebagian wilayah Kabupaten Banyumas
• Sebagian wilayah Kabupaten Banjarnegara

BMKG juga memberikan catatan penting terkait karakter hujan selama musim kemarau tahun ini. Berdasarkan analisis iklim global, sifat hujan diperkirakan berada pada kategori Bawah Normal. Artinya, jumlah hujan yang turun kemungkinan lebih sedikit dibandingkan rata-rata tahun-tahun sebelumnya.

Kondisi ini dipengaruhi oleh beberapa faktor iklim global yang sedang dipantau.

Faktor utama yang memengaruhi musim kemarau 2026 antara lain:
✓ Fenomena ENSO yang diperkirakan berada pada kondisi Netral pada semester pertama tahun 2026
✓ Potensi munculnya fenomena El Niño pada awal semester kedua 2026
✓ Dominasi Monsun Australia yang membawa massa udara kering menuju wilayah Indonesia mulai Mei

Ketika Monsun Australia mulai dominan, aliran udara kering dari benua Australia akan memperkuat kondisi kemarau di Indonesia, termasuk di wilayah Jawa Tengah.

Untuk wilayah Wonogiri dan sekitarnya, awal musim kemarau diprediksi terjadi sekitar bulan Mei 2026. Namun yang perlu diantisipasi adalah durasi kemarau yang kemungkinan lebih panjang dibandingkan kondisi normal, yakni sekitar satu hingga dua dasarian lebih lama.

Artinya, periode kering di wilayah Wonogiri berpotensi berlangsung lebih lama sehingga masyarakat perlu mulai bersiap sejak dini.

Menjelang perubahan musim tersebut, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Wonogiri juga mengingatkan masyarakat agar tidak lengah menghadapi masa peralihan musim atau pancaroba.

Kepala Pelaksana BPBD Wonogiri, Fuad Wahyu Pratama, menyampaikan bahwa fase transisi dari musim hujan menuju kemarau sering memunculkan cuaca ekstrem yang datang secara tiba-tiba.

“Masyarakat diimbau untuk waspada terhadap potensi cuaca ekstrem seperti petir, angin kencang, puting beliung, serta hujan lebat berdurasi singkat yang berpotensi memicu bencana hidrometeorologi,” ujar Fuad Wahyu Pratama.

Fenomena pancaroba memang dikenal sebagai periode dengan kondisi atmosfer yang tidak stabil. Dalam satu hari, cuaca bisa berubah sangat cepat dari panas terik menjadi hujan deras disertai angin kencang.

Beberapa potensi risiko yang perlu diwaspadai masyarakat selama masa pancaroba antara lain:
✓ Angin kencang yang dapat merobohkan pohon atau merusak bangunan ringan
✓ Hujan lebat singkat yang bisa memicu banjir lokal
✓ Petir dan badai yang berpotensi membahayakan aktivitas luar ruangan
✓ Puting beliung yang muncul secara tiba-tiba

Selain cuaca ekstrem, ancaman lain yang sering muncul saat kemarau panjang adalah kekeringan serta meningkatnya risiko kebakaran lahan dan hutan.

Karena itu, pemerintah daerah mengingatkan pentingnya langkah antisipasi sejak dini, terutama terkait pengelolaan sumber air bersih serta pencegahan kebakaran di area lahan kering.

BMKG juga mengimbau masyarakat untuk terus memantau informasi iklim terbaru melalui buletin resmi yang dirilis secara berkala. Informasi prediksi musim per kabupaten di Jawa Tengah dapat diakses melalui publikasi resmi Stasiun Klimatologi Jawa Tengah.

Dengan proyeksi kemarau yang lebih panjang dan curah hujan di bawah normal, kesiapan masyarakat serta pemerintah daerah menjadi faktor penting untuk meminimalkan dampak yang mungkin terjadi sepanjang musim kemarau 2026. Aris Arianto

Harap bersabar jika Anda menemukan iklan di laman ini. Iklan adalah sumber pendapatan utama kami untuk tetap dapat menyajikan berita berkualitas secara gratis.

Read Entire Article
Politik | Local| Daerah| Finance| Sport|