JAKARTA, JOGLOSEMARNEWS.COM — Misteri kematian mantan aktivis serikat pekerja pelabuhan, Ermanto Usman, mulai menemukan titik terang. Kepolisian berhasil menangkap seorang pria berinisial S yang diduga sebagai pelaku pembunuhan. Namun penangkapan itu tidak berlangsung mulus karena tersangka sempat mencoba kabur hingga akhirnya dilumpuhkan dengan tembakan di kedua kakinya.
Pengungkapan kasus tersebut disampaikan jajaran Polda Metro Jaya dalam konferensi pers di Jakarta, Rabu (11/3/2026). Polisi menjelaskan bahwa tersangka ditangkap di kawasan Cilincing, Jakarta Utara.
Kepala Subdirektorat Kejahatan dan Kekerasan Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya, Abdul Rahim, mengatakan tindakan tegas terpaksa diambil karena tersangka mencoba melawan dan melarikan diri saat hendak diamankan.
“Memang benar kami melakukan tindakan tegas dan terukur karena pelaku berusaha melarikan diri,” ujar Rahim.
Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya, Iman Imanuddin, menjelaskan bahwa peristiwa tragis tersebut bermula dari aksi pencurian di rumah korban pada Senin dini hari, 2 Maret 2026. Saat itu, istri Ermanto terbangun untuk menyiapkan sahur dan menyalakan lampu kamar.
Ketika lampu dinyalakan, ia justru berhadapan langsung dengan tersangka yang sebelumnya masuk ke rumah dengan mencongkel jendela menggunakan linggis.
“Saat korban perempuan menyalakan listrik, dia bertemu dengan tersangka. Tersangka pun spontan memukulkan linggis yang sebelumnya digunakan untuk mencongkel jendela,” kata Iman.
Serangan tersebut membuat istri korban terluka parah. Tersangka kemudian juga menganiaya Ermanto yang saat itu berada di atas tempat tidur. Akibat pukulan tersebut, korban bersimbah darah dan akhirnya meninggal dunia.
Setelah melakukan kekerasan, pelaku mengambil sejumlah barang berharga milik korban. Di antaranya perhiasan, dua unit ponsel, sebuah laptop, serta uang tunai sekitar Rp 500 ribu.
Menurut Iman, salah satu ponsel hasil curian sudah dijual oleh tersangka ke sebuah konter, sementara ponsel lainnya dipakai sendiri.
“Salah satunya sudah dijual tersangka ke konter, satu lagi digunakan dia sendiri,” ujarnya.
Polisi juga menanggapi isu yang beredar di media sosial mengenai kemungkinan adanya data dugaan korupsi di ponsel milik korban. Informasi itu dikaitkan dengan aktivitas Ermanto yang sebelumnya dikenal vokal menyoroti persoalan di sektor pelabuhan.
Meski demikian, polisi menegaskan bahwa penyelidikan terhadap isi ponsel tersebut masih dilakukan melalui pemeriksaan forensik digital.
“Untuk dapat lebih terang benderang lagi, kami akan melakukan pendalaman terhadap hal tersebut. Hal ini karena pidana pokok yang saat ini sedang ditangani penyidik adalah pembunuhan yang diikuti pencurian,” kata Iman.
Kecurigaan lain sebelumnya disampaikan oleh kakak korban, Dalsaf Usman. Ia menilai kematian adiknya patut didalami lebih jauh karena tidak menutup kemungkinan berkaitan dengan aktivitasnya sebagai aktivis.
“Ada dugaan begitu, apalagi kalau dikaitkan dengan almarhum ini sebagai aktivis,” ujarnya beberapa waktu lalu.
Menurut Dalsaf, adiknya belakangan aktif menyoroti dugaan korupsi di lingkungan pelabuhan, khususnya terkait pengelolaan di PT Jakarta International Container Terminal dan PT Pelabuhan Indonesia II (Persero).
Ia juga mengungkapkan bahwa Ermanto sempat membahas persoalan tersebut dalam sebuah episode siniar Madilog Podcast. Dalam perbincangan itu, korban menyinggung dugaan penyimpangan terkait perpanjangan kontrak pengelolaan terminal dengan perusahaan pelabuhan asal Hong Kong, Hutchison Port Holdings.
Ermanto sendiri dikenal sebagai salah satu mantan karyawan JICT yang pernah diberhentikan setelah ikut menolak perpanjangan kontrak pengelolaan terminal tersebut. Saat itu ia berpendapat nilai kontrak yang disepakati tidak sebanding dengan potensi sebenarnya.
Dalam sebuah forum pada 2015 silam, ia bahkan pernah menegaskan bahwa pengelolaan pelabuhan strategis di Indonesia seharusnya lebih berpihak pada kepentingan bangsa sendiri.
“Banyak hal di pelabuhan ini dari dulu, dan kami merasakan bahwa JICT ini sudah perlu dikelola oleh bangsa sendiri. Banyak hal yang menyimpang,” kata Ermanto kala itu. [*] Disarikan dari sumber berita media daring
Harap bersabar jika Anda menemukan iklan di laman ini. Iklan adalah sumber pendapatan utama kami untuk tetap dapat menyajikan berita berkualitas secara gratis.

3 hours ago
2


















































