Angka Stunting di Kabupaten Jayapura Naik 1,62 Persen 

9 hours ago 4

SENTANI – Dinas Kesehatan Kabupaten Jayapura, akui penanggulangan stunting di Kabupaten Jayapura, yang mana ada peningkatan 1,64 persen ditahun 2024, jika dibandingkan tahun 2023.

  Sekertaris Dinas Kesehatan Kabupaten Jayapura, Edward Sihotang menjelaskan,  situasinya memang dibanding 2023 atas hasil pengukuran antropometri dan penanganan stunting data manual dari Dinkes  Kabupaten Jayapura,  ada peningkatan 1,64% di mana tahun 2003 itu 12,38% Sedangkan 2024 meningkat menjadi 14,02%.

  Lanjutnya, walaupun masih di bawah rata-rata nasional, hal ini juga akan pihaknya  bandingkan nanti dengan hasil survei dari pemerintah pusat yang baru selesai juga dilaksanakan di Kabupaten Jayapura sejak akhir tahun lalu.

  “Kita tinggal menunggu data, jadi memang ada kenaikan 1,64%. Adapun kampung yang memiliki angka stunting 20 %- 30% atau kita sebut balita  stunting  dibanding dengan  dengan yang diukur itu cukup tinggi, yaitu ada 28 kampung,” jelasnya kepada Cenderawasih Pos, Rabu (2/4) melalui telepon.

  Lanjut Edward, jika berdasarkan kondisi prosentase artinya yang diukur, dibanding dengan jumlah balita pendek, angka stunting yang tinggi memang masih di Kampung  Brap juga di Kampung Hatib.

  Dari data Absolut angkanya di kampung Brap itu ada 9 balita stunting dengan nilai 42%, sedangkan di hati itu kurang lebih, 3 balita stunting  atau 42,85%, kampung -kampung ini jumlahnya tinggi karena jumlah balita yang  diukur tidak terlalu banyak.

  “Namun kalau kita lihat dari jumlah kampung, dengan balita stunting terbesar serta faktor jumlah penduduk yang  banyak, maka yang tertinggi jumlah tertinggi jumlah stunting dari sisi angka absolut adalah Kampung  Lapua, Distrik Kaureh, ada 42 balita stunting dari 268 balita atau sebesar 15,6%,” katanya.

Selain itu di Sentani Kota dari 870 anak, yang stunting sebanyak 121 anak atau 13,9%,   masih ada 28 kampung yang rata-rata presentasi  stunting di atas 20%-30 %.

  “Dengan total jumlah anak-anak stunting di Kabupaten Jayapura adalah 960 anak atau 14,02%, akibatnya dari stunting ini, untuk jangka pendek adalah  gangguan perkembangan otak, anak-anak dengan kondisi tinggi badan yang tidak proposional, situasi gizi yang tidak cukup maka perkembangan otak khususnya bagi balita stunting dibawah 2 tahun akan mempengaruhi perkembangan otak anak,” terangnya.

  Sehingga pihaknya sangat fokus menangangi permasalahan stunting dibawa 2 tahun, karena perkembangan otak sangat penting pada usia 2 tahun pertama masa kehidupan.

  Jangka panjang, yaitu sulit mendapatkan SDM yang unggul, persaingan dalam dunia kerja dan hal-hal lainnya. (ana)

SENTANI – Dinas Kesehatan Kabupaten Jayapura, akui penanggulangan stunting di Kabupaten Jayapura, yang mana ada peningkatan 1,64 persen ditahun 2024, jika dibandingkan tahun 2023.

  Sekertaris Dinas Kesehatan Kabupaten Jayapura, Edward Sihotang menjelaskan,  situasinya memang dibanding 2023 atas hasil pengukuran antropometri dan penanganan stunting data manual dari Dinkes  Kabupaten Jayapura,  ada peningkatan 1,64% di mana tahun 2003 itu 12,38% Sedangkan 2024 meningkat menjadi 14,02%.

  Lanjutnya, walaupun masih di bawah rata-rata nasional, hal ini juga akan pihaknya  bandingkan nanti dengan hasil survei dari pemerintah pusat yang baru selesai juga dilaksanakan di Kabupaten Jayapura sejak akhir tahun lalu.

  “Kita tinggal menunggu data, jadi memang ada kenaikan 1,64%. Adapun kampung yang memiliki angka stunting 20 %- 30% atau kita sebut balita  stunting  dibanding dengan  dengan yang diukur itu cukup tinggi, yaitu ada 28 kampung,” jelasnya kepada Cenderawasih Pos, Rabu (2/4) melalui telepon.

  Lanjut Edward, jika berdasarkan kondisi prosentase artinya yang diukur, dibanding dengan jumlah balita pendek, angka stunting yang tinggi memang masih di Kampung  Brap juga di Kampung Hatib.

  Dari data Absolut angkanya di kampung Brap itu ada 9 balita stunting dengan nilai 42%, sedangkan di hati itu kurang lebih, 3 balita stunting  atau 42,85%, kampung -kampung ini jumlahnya tinggi karena jumlah balita yang  diukur tidak terlalu banyak.

  “Namun kalau kita lihat dari jumlah kampung, dengan balita stunting terbesar serta faktor jumlah penduduk yang  banyak, maka yang tertinggi jumlah tertinggi jumlah stunting dari sisi angka absolut adalah Kampung  Lapua, Distrik Kaureh, ada 42 balita stunting dari 268 balita atau sebesar 15,6%,” katanya.

Selain itu di Sentani Kota dari 870 anak, yang stunting sebanyak 121 anak atau 13,9%,   masih ada 28 kampung yang rata-rata presentasi  stunting di atas 20%-30 %.

  “Dengan total jumlah anak-anak stunting di Kabupaten Jayapura adalah 960 anak atau 14,02%, akibatnya dari stunting ini, untuk jangka pendek adalah  gangguan perkembangan otak, anak-anak dengan kondisi tinggi badan yang tidak proposional, situasi gizi yang tidak cukup maka perkembangan otak khususnya bagi balita stunting dibawah 2 tahun akan mempengaruhi perkembangan otak anak,” terangnya.

  Sehingga pihaknya sangat fokus menangangi permasalahan stunting dibawa 2 tahun, karena perkembangan otak sangat penting pada usia 2 tahun pertama masa kehidupan.

  Jangka panjang, yaitu sulit mendapatkan SDM yang unggul, persaingan dalam dunia kerja dan hal-hal lainnya. (ana)

Read Entire Article
Politik | Local| Daerah| Finance| Sport|