Mendadak Walikota Solo

3 weeks ago 58
Respati Ardi-Astrid Widyan. Foto : Jimboeng Photography

Oleh : Anas Syahirul*

Respati Ardi dan Astrid Widayani sudah mulai bekerja menjalankan tugasnya sebagai Walikota dan Walikota Solo. Setelah sebelumnya mengikuti pelantikan dan retret dengan segala bekal teori dari para narasumber. Kini saatnya kedua pemimpin baru Kota Solo itu mengaplikasikan bekal tersebut Bersama bekal-bekal yang lain. Respati dan Astrid punya latar belakang yang nyaris sama yakni pengusaha, meski dengan sudut pandang yang berbeda.

Kekompakan keduanya akan menjadi salah satu faktor kesuksesan menakhodai Kota Solo. Masih banyak faktor yang lain. Kalau merunut ke belakang, pasangan ini terbilang penuh kejutan. Awalnya tidak pernah ada yang menduga kalau akhirnya akan bersanding menjadi Mas Wali dan Mbak Wakil. Keduanya juga pernah berkompetisi memperebutkan Ketua HIPMI Solo. Astrid sudah jauh-jauh hari merenda menjagokan diri sebagai orang yang ingin menjadi walikota. Sementara Respati tak pernah mengutarakan niatnya ke publik. Kalau pun bersentuhan dengan pencalonan, belakangan ia masuk dalam lingkaran tim sukses Gusti Bhre (KGPAA Mangkunegoro X) yang saat itu digadhang-gadhang sebagai pengganti Gibran Rakabuming.

Makanya saya sengaja menggunakan judul tersebut di atas. Mengapa “Mendadak”? itu untuk menggambarkan sesuatu yang tidak direncanakan atau tak terencanakan atau tidak dimaui sebelumnya. Sering kita mendengar ungkapan “Mendadak Dangdut”, “Mendadak Kawin (nikah)”, “Mendadak Piknik” dan seterusnya.
Mengapa Mendadak Walikota?, karena sebelumnya tak pernah direncanakan dalam sebuah skenario yang disiapkan dengan serius mau maju sebagai calon walikota. Itulah gambaran yang dialami Respati Ardi. Ia sendiri bahkan pernah mengibaratkan dirinya seperti “tukang dekor yang diminta jadi pengantin.”

Berbeda dengan Astrid, yang sudah bertekad sejak dini untuk menjadi pemimpin Kota Solo dengan segala daya dan upaya yang terencana secara matang jauh-jauh hari. Respati baru mendapat peluit maju sebagai calon walikota ketika terjadi kebuntuan setelah Bhre Cakrahutama Wira Sudjiwa atau Gusti Bhre menyatakan ketidaksediaannya menjadi calon walikota Solo.

Bhre yang akan diusung menjadi jago Koalisi Indonesia Maju (KIM) Plus dalam kontestasi Pilkada di Solo, tiba-tiba mengundurkan diri menyatakan tak mau dicalonkan sebagai walikota. Soal alasan mengapa, sudah banyak beredar di masyarakat baik lewat pemberitaan maupun lewat pergunjingan di kelompok-kelompok warga.

Kalau menengok ke belakang, ketidakmauan Gusti Bhre dicalonkan sebagai pengganti Gibran Rakabuming itu berlangsung di saat jelang penutupan waktu pendaftaran calon walikota ke KPUD. Koalisi pendukung pun kalang kabut, terutama sang sutradara. Mereka harus mencari pemain pengganti di saat-saat injury time. Harus segera muncul nama di hari terakhir pendaftaran, jika tidak, maka akan kehilangan kesempatan untuk berkontestasi memimpin Solo.

Sejumlah nama pun ditimang-timang untuk mengejar tenggat waktu pendaftaran. Ada Si A, Si B, Si C dan lainnya. Akhirnya nama Respati lah yang disetujui Sang Sutradara. Kasak-kusuk soal pemilihan nama di detik-detik akhir itu sudah jadi rasan-rasaan wong Solo. Akhirnya majulah nama Respati Ardi-Astrid Widayani diusung KIM Plus melawan pasangan Teguh Prakosa-Bambang Nugroho yang diusung PDIP.

Kini, “Mendadak Walikota” sudah mulai bekerja. Dukungan masyarakat Solo dengan segenap elemennya menjadi faktor yang menentukan dalam perjalanan pasangan ini meraih kesuksesan menakhodai Kota Solo. Apalagi di tengah keterbatasan anggaran akibat efisiensi saat ini yang tentu akan berpengaruh pada kualitas program-program pelayanan dan pembangunan terutama pembangunan infastruktur kota. Warga tentu juga akan membandingkan berlimpahnya sarana infrastruktur kota di masa walikota sebelumnya, Gibran Rakabuming. Yang itu sejatinya sulit ditiru siapapun karena faktor previlege walikota yang anak presiden. Soal bantuan fasilitas sudah pasti gak ada tandingannya.

Stigma sebagai calon yang didukung “Sumber” (mantan Presiden Jokowi dan Wapres Gibran), mau tidak mau membuat masyarakat menaruh harapan tinggi kepada Respati, bahwa Solo masih akan digelontor berbagai fasilitas pembangunan baik yang bersifat fisik maupun non fisik. Meski disadari pasti tak akan seheboh semasa Gibran Rakabuming.

Maka tantangan bagi Respati adalah pada kekuatan lobi dan membangun kepercayaan kepada Sang Penyokongnya agar Solo tetap mendapat perhatian lebih di tengah pemotongan anggaran yang tidak kecil ini sehingga Solo tetap eksis. Harus diingat, dalam beberapa tahun terakhir ini (semasa Walikota Gibran), sektor konstruksi punya peran sangat besar dalam menopang ekonomi di Solo, setelahnya baru perdagangan. Apakah pasca Gibran, topangan konstruksi masih akan berlanjut? Inilah yang menjadi pertanyaan besar kita. Jika tidak berarti harus siap-siap mencari topangan utama dari sektor yang lain.

Maka tantangannya adalah kemampun merajut, mengkolaborasi dan merangkul kelompok, elemen dan stakeholder kota. Merujuk pada kiprah kepemimpinan walikota-walikota sebelumnya, hampir semuanya memberi porsi yang besar pada upaya menjahit kebersamaan semua komponen dalam mengurus kota ini. Masyarakat kota ini dinamis, memiliki banyak potensi di akar rumput, plural dan kadangkala egois. Maka dibutuhkan kemampuan merangkai kebersamaan agar bisa bermuara pada kemajuan kota dan kesejahteraan rakyatnya. Termasuk menjahit puzzle-puzzle yang selama ini berbeda, berseberangan, berseteru, berkompetisi.

Dengan pengalaman dan kiprah sebelumnya, kita yakin Walikota dan Wakil Walikota Solo yang baru akan mampu mengelola dan meleburkan semuanya untuk Solo yang Makin Berjaya dan Sejahtera. (*)

*Penulis adalah Wartawan di Solo

Read Entire Article
Politik | Local| Daerah| Finance| Sport|