Toleransi Terwujud Lewat Anyaman Ketupat

18 hours ago 4

JAYAPURA – Sebuah toleransi ditunjukkan para mama-mama Papua di Kota Jayapura dalam merayakan hari Idul Fitri 1 Syawal 1446/2025 Hijriyah. H-1 jelang perayaan Idul Fitri atau Minggu (30/3) petang, mama-mama Papua terlihat memadati luar pasar Kloofkamp, Kelurahan Gurabesi, Jayapura Utara.

   Mama-mama Papua yang sekira 15-20 orang itu sedang sibuk menjajakan anyaman atau kulit ketupat yang mereka buat dari daun kelapa atau janur. Meski hanya beralas seadanya, namun para mama-mama Papua tetap semangat. Jari-jari mereka terlihat sangat terlatih dalam membuat anyaman bungkus ketupat.

   Usaha mereka tak bertepuk sebelah tangan, bungkus ketupat mereka terbilang laku. Ada yang dijual Rp 10-25 ribu per ikat yang berisi 5-10 ketupat. Ada yang datang membeli dengan jumlah besar, ada pula yang hanya membeli secukupnya.

   Menariknya, mama-mama Papua ini merupakan non muslim atau Kristiani yang mencari berkah di bulan ramadan. Sekaligus menunjukkan sebuah ikatan toleransi yang sangat kuat.

Ketupat bukan sekadar sebuah hidangan yang wajib disajikan saat lebaran. Tapi ketupat juga membawa berkah bagi para pedagang musiman, seperti yang dilakukan oleh mama-mama Papua di pasar Kloofkamp.

  Marlina, salah satu mama-mama Papua yang ikut menjual anyaman bungkus ketupat mengatakan bahwa ini adalah rutinitas yang mereka lakukan jelang idul fitri.  “Kami selalu membuat bungkus ketupat ini setiap lebaran. Kami jualan dari pagi dan sore saat mau lebaran,” ungkap Marlina kepada Cenderawasih Pos.

  Kata Marlina, ini bukan hal baru yang mereka lakukan. Namun sudah menjadi rutinitas turun temurun. “Sudah lama sekali, setiap tahun kami selalu begini. Selain di luar pasar, juga ada di dalam pasar. Tapi kalau di dalam jarang orang masuk sehingga kami di luar,” ujarnya.

   Selain saat hari raya idul fitri, berjualan anyaman bungkus ketupat juga mereka lakukan saat hari raya Natal. “Saat Natal juga ada yang beli. Sehingga kami jualan bungkus ketupat ini hanya saat lebaran dan natal saja. Setelah itu kembali jualan sayur dan pinang,” pungkasnya. (*/tri)

Layanan Langganan Koran Cenderawasih Pos, https://bit.ly/LayananMarketingCepos

BACA SELENGKAPNYA DI KORAN DIGITAL CEPOS  https://www.myedisi.com/cenderawasihpos

JAYAPURA – Sebuah toleransi ditunjukkan para mama-mama Papua di Kota Jayapura dalam merayakan hari Idul Fitri 1 Syawal 1446/2025 Hijriyah. H-1 jelang perayaan Idul Fitri atau Minggu (30/3) petang, mama-mama Papua terlihat memadati luar pasar Kloofkamp, Kelurahan Gurabesi, Jayapura Utara.

   Mama-mama Papua yang sekira 15-20 orang itu sedang sibuk menjajakan anyaman atau kulit ketupat yang mereka buat dari daun kelapa atau janur. Meski hanya beralas seadanya, namun para mama-mama Papua tetap semangat. Jari-jari mereka terlihat sangat terlatih dalam membuat anyaman bungkus ketupat.

   Usaha mereka tak bertepuk sebelah tangan, bungkus ketupat mereka terbilang laku. Ada yang dijual Rp 10-25 ribu per ikat yang berisi 5-10 ketupat. Ada yang datang membeli dengan jumlah besar, ada pula yang hanya membeli secukupnya.

   Menariknya, mama-mama Papua ini merupakan non muslim atau Kristiani yang mencari berkah di bulan ramadan. Sekaligus menunjukkan sebuah ikatan toleransi yang sangat kuat.

Ketupat bukan sekadar sebuah hidangan yang wajib disajikan saat lebaran. Tapi ketupat juga membawa berkah bagi para pedagang musiman, seperti yang dilakukan oleh mama-mama Papua di pasar Kloofkamp.

  Marlina, salah satu mama-mama Papua yang ikut menjual anyaman bungkus ketupat mengatakan bahwa ini adalah rutinitas yang mereka lakukan jelang idul fitri.  “Kami selalu membuat bungkus ketupat ini setiap lebaran. Kami jualan dari pagi dan sore saat mau lebaran,” ungkap Marlina kepada Cenderawasih Pos.

  Kata Marlina, ini bukan hal baru yang mereka lakukan. Namun sudah menjadi rutinitas turun temurun. “Sudah lama sekali, setiap tahun kami selalu begini. Selain di luar pasar, juga ada di dalam pasar. Tapi kalau di dalam jarang orang masuk sehingga kami di luar,” ujarnya.

   Selain saat hari raya idul fitri, berjualan anyaman bungkus ketupat juga mereka lakukan saat hari raya Natal. “Saat Natal juga ada yang beli. Sehingga kami jualan bungkus ketupat ini hanya saat lebaran dan natal saja. Setelah itu kembali jualan sayur dan pinang,” pungkasnya. (*/tri)

Layanan Langganan Koran Cenderawasih Pos, https://bit.ly/LayananMarketingCepos

BACA SELENGKAPNYA DI KORAN DIGITAL CEPOS  https://www.myedisi.com/cenderawasihpos

Read Entire Article
Politik | Local| Daerah| Finance| Sport|