Harga MinyaKita Tembus Rp22 Ribu, Pemko Medan Didesak Gelar Operasi Murah

7 hours ago 6

Lonjakan harga minyak goreng subsidi MinyaKita di Kota Medan mulai memicu keresahan masyarakat. Produk yang sebelumnya menjadi andalan warga berpenghasilan menengah ke bawah itu kini dijual hingga Rp20.000 sampai Rp22.000 per liter di sejumlah pasar tradisional, jauh di atas harga normal yang sebelumnya berkisar Rp15.700.

Kenaikan harga tersebut terjadi di tengah melonjaknya sejumlah bahan pangan pokok lainnya sepanjang Mei 2026. Kondisi itu membuat beban ekonomi masyarakat semakin berat, terutama kalangan ibu rumah tangga dan pelaku usaha kecil.

Menyikapi situasi tersebut, Anggota Komisi III DPRD Kota Medan, Hj. Sri Rezeki AMd, mendesak Pemerintah Kota (Pemko) Medan segera turun langsung melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke pasar-pasar tradisional guna memastikan penyebab lonjakan harga.

“Saran saya, Pemko Medan segera melakukan peninjauan ke pasar-pasar. Jika selisih harganya sudah terlalu jauh, ini sangat berisiko disusupi spekulan,” ujar Sri Rezeki, Selasa (12/5/2026).

Politisi PKS itu menilai pemerintah tidak boleh lambat merespons persoalan kebutuhan pokok masyarakat. Ia meminta OPD terkait segera melakukan investigasi agar kenaikan harga tidak terus membebani warga.

“Jangan tunggu viral dulu baru bergerak. Cari tahu penyebabnya dan apa solusinya. Kondisi ekonomi masyarakat saat ini sedang menjepit, jangan ditambah susah lagi,” katanya.

Menurut Sri Rezeki, keluhan masyarakat terhadap mahalnya harga minyak goreng subsidi kini semakin sering terdengar, terutama dari kalangan ibu rumah tangga yang merasakan langsung dampaknya terhadap kebutuhan harian.

“Emak-emak yang belanja banyak mengeluh. Minyak goreng ini kebutuhan penting, hampir setiap rumah pasti pakai minyak. Jadi persoalan ini sangat mendesak,” ucapnya.

Ia juga mengingatkan bahwa kenaikan harga minyak goreng berpotensi memicu kenaikan harga makanan lain karena minyak menjadi salah satu kebutuhan utama dalam proses memasak maupun usaha kuliner. “Semua saling berkaitan. Kalau harga minyak naik, tentu bahan makanan yang menggunakan minyak juga ikut naik,” jelasnya.

Sebagai langkah konkret, Sri Rezeki meminta Pemko Medan segera menggelar operasi pasar maupun Pasar Murah guna menjaga daya beli masyarakat dan menekan laju inflasi daerah.

“Pemko harus cepat bergerak. Jangan hanya bilang sudah turun, tapi entah turun ke mana, karena hasilnya tidak ada dan masyarakat tidak merasakan perubahan,” tegasnya.

Tak hanya MinyaKita, sejumlah komoditas pangan lain di Medan juga tercatat mengalami kenaikan cukup signifikan. Harga minyak curah kini mencapai sekitar Rp21.000 per kilogram. Cabai rawit bahkan sempat menembus Rp80.000 hingga Rp90.000 per kilogram.

Sementara itu, harga bawang merah dan bawang putih berada di kisaran Rp40.000 hingga Rp50.000 per kilogram. Daging ayam ras juga masih bertahan di harga tinggi, yakni sekitar Rp35.500 hingga Rp40.000 per kilogram. (map/ila)

Lonjakan harga minyak goreng subsidi MinyaKita di Kota Medan mulai memicu keresahan masyarakat. Produk yang sebelumnya menjadi andalan warga berpenghasilan menengah ke bawah itu kini dijual hingga Rp20.000 sampai Rp22.000 per liter di sejumlah pasar tradisional, jauh di atas harga normal yang sebelumnya berkisar Rp15.700.

Kenaikan harga tersebut terjadi di tengah melonjaknya sejumlah bahan pangan pokok lainnya sepanjang Mei 2026. Kondisi itu membuat beban ekonomi masyarakat semakin berat, terutama kalangan ibu rumah tangga dan pelaku usaha kecil.

Menyikapi situasi tersebut, Anggota Komisi III DPRD Kota Medan, Hj. Sri Rezeki AMd, mendesak Pemerintah Kota (Pemko) Medan segera turun langsung melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke pasar-pasar tradisional guna memastikan penyebab lonjakan harga.

“Saran saya, Pemko Medan segera melakukan peninjauan ke pasar-pasar. Jika selisih harganya sudah terlalu jauh, ini sangat berisiko disusupi spekulan,” ujar Sri Rezeki, Selasa (12/5/2026).

Politisi PKS itu menilai pemerintah tidak boleh lambat merespons persoalan kebutuhan pokok masyarakat. Ia meminta OPD terkait segera melakukan investigasi agar kenaikan harga tidak terus membebani warga.

“Jangan tunggu viral dulu baru bergerak. Cari tahu penyebabnya dan apa solusinya. Kondisi ekonomi masyarakat saat ini sedang menjepit, jangan ditambah susah lagi,” katanya.

Menurut Sri Rezeki, keluhan masyarakat terhadap mahalnya harga minyak goreng subsidi kini semakin sering terdengar, terutama dari kalangan ibu rumah tangga yang merasakan langsung dampaknya terhadap kebutuhan harian.

“Emak-emak yang belanja banyak mengeluh. Minyak goreng ini kebutuhan penting, hampir setiap rumah pasti pakai minyak. Jadi persoalan ini sangat mendesak,” ucapnya.

Ia juga mengingatkan bahwa kenaikan harga minyak goreng berpotensi memicu kenaikan harga makanan lain karena minyak menjadi salah satu kebutuhan utama dalam proses memasak maupun usaha kuliner. “Semua saling berkaitan. Kalau harga minyak naik, tentu bahan makanan yang menggunakan minyak juga ikut naik,” jelasnya.

Sebagai langkah konkret, Sri Rezeki meminta Pemko Medan segera menggelar operasi pasar maupun Pasar Murah guna menjaga daya beli masyarakat dan menekan laju inflasi daerah.

“Pemko harus cepat bergerak. Jangan hanya bilang sudah turun, tapi entah turun ke mana, karena hasilnya tidak ada dan masyarakat tidak merasakan perubahan,” tegasnya.

Tak hanya MinyaKita, sejumlah komoditas pangan lain di Medan juga tercatat mengalami kenaikan cukup signifikan. Harga minyak curah kini mencapai sekitar Rp21.000 per kilogram. Cabai rawit bahkan sempat menembus Rp80.000 hingga Rp90.000 per kilogram.

Sementara itu, harga bawang merah dan bawang putih berada di kisaran Rp40.000 hingga Rp50.000 per kilogram. Daging ayam ras juga masih bertahan di harga tinggi, yakni sekitar Rp35.500 hingga Rp40.000 per kilogram. (map/ila)

Read Entire Article
Politik | Local| Daerah| Finance| Sport|