MEDAN – Rentetan kecelakaan maut angkutan umum di wilayah Sumatera Utara kembali memicu alarm darurat keselamatan transportasi. Insiden terbaru yang melibatkan Bus Halmahera di Ruas Tol Medan-Kualanamu-Tebing Tinggi (MKTT), tepatnya di Kecamatan Perbaungan, Kabupaten Serdang Bedagai pada Senin (11/5) pagi, telah merenggut empat nyawa dan menyebabkan 19 penumpang lainnya luka-luka.
Menanggapi tragedi tersebut, Pemerintah Provinsi Sumatera Utara (Pemprov Sumut) menyatakan keprihatinan mendalam sekaligus mengambil langkah tegas untuk melakukan audit menyeluruh terhadap operasional angkutan darat di wilayah tersebut. Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Sumut Yuda Pratiwi Setiawan mengungkapkan, Gubernur Sumatera Utara telah memberikan instruksi khusus untuk memperketat pengawasan terhadap seluruh Perusahaan Otobus (PO) yang beroperasi. Langkah ini diambil guna memastikan insiden serupa, yang sebelumnya juga menimpa armada bus ALS, tidak terus berulang.
“Bapak Gubernur sudah memerintahkan kepada kami untuk melakukan pengecekan secara menyeluruh terhadap seluruh perusahaan otobus di Sumatera Utara. Tujuannya agar seluruh armada benar-benar dalam kondisi layak jalan,” tegas Yuda saat memberikan keterangan kepada Sumut Pos, Selasa (12/5).
Yuda menggarisbawahi dua faktor krusial yang menjadi fokus utama pemerintah, kelayakan teknis kendaraan dan kualitas sumber daya manusia (pengemudi). Ia mendesak para operator bus untuk tidak hanya mengejar target operasional, tetapi juga memprioritaskan prosedur keamanan.
“Kami mengimbau kepada seluruh PO agar lebih selektif terhadap para pengemudinya. Jangan sampai sopir mengemudi dalam kondisi mengantuk, kelelahan, atau kurang sehat. Faktor human error dan kelaikan mesin adalah dua hal yang tidak bisa ditawar dalam keselamatan transportasi,” tambahnya.
Senada dengan Dishub Sumut, Ketua Komisi D DPRD Sumut Timbul Jaya Sibarani memberikan sorotan tajam terhadap pengelola jalan tol dan kondisi infrastruktur. Menurutnya, keselamatan di jalan tol merupakan tanggung jawab kolektif antara operator angkutan dan pengelola jalan.
Timbul menyoroti banyaknya titik perbaikan di ruas Tol Medan menuju Perbaungan yang dinilai minim penerangan dan rambu peringatan yang memadai, terutama pada malam hari. Kondisi ini dianggap sebagai faktor risiko tinggi yang memicu kecelakaan fatal. “Kami mendesak pengelola jalan tol agar segera melakukan pembenahan. Kondisi jalan yang banyak perbaikan sangat rawan, apalagi pada malam hari saat jarak pandang terbatas. Selain itu, pengawasan terhadap uji KIR harus diperketat. Jangan ada bus tidak layak yang tetap dipaksakan beroperasi,” ujar Politisi Partai Golkar tersebut.
Kesaksian Korban
Suasana duka masih menyelimuti ruang-ruang perawatan di rumah sakit di Kabupaten Deli Serdang. Tercatat, korban luka dievakuasi ke tiga rumah sakit berbeda, yakni RSUD Amri Tambunan, RS Sari Mutiara, dan RS Grand Medistra.
Salah satu korban, Elvira Leliana Nainggolan yang dirawat di RS Sari Mutiara Lubukpakam, menceritakan kengerian saat bus yang ditumpanginya menabrak mobil pick-up L 300 pengangkut ayam yang mengalami patah as di Km 63+200. Elvira dan rekannya, Lamria Sihombing, sedianya berangkat dari Labuhanbatu Selatan untuk mengikuti ujian seleksi Koperasi Merah Putih.
“Saya sedang tidur saat kejadian, tiba-tiba terbangun karena bus terguling-guling. Saya sampai tercampak keluar bus,” tutur Elvira dengan kondisi kening terperban.
Lamria Sihombing menambahkan, ia merasakan bus seolah melompati pembatas tol sebelum akhirnya terhenti di luar jalur tol. “Setahu saya sopirnya sudah berganti dari yang awal, tapi saya tidak tahu pasti apakah saat itu posisinya sedang mengebut atau tidak karena kami semua sedang tidur,” kata Lamria yang kini masih kesulitan untuk berjalan akibat trauma benturan.
Kisah pilu juga datang dari pasangan suami istri yang baru menikah pada 2025 lalu, Eri Ardiansyah Fery (26) dan Bismi Hayati (28). Mereka berangkat dari Rokan Hilir menuju Medan dengan harapan besar agar Eri dapat mengikuti wawancara kerja di sebuah perusahaan minuman. Naas, impian tersebut harus tertunda karena Eri mengalami patah tulang bahu kiri dan dijadwalkan menjalani operasi pada Rabu (13/5).
Manajemen Halmahera Fokus Penanganan Korban
Pantauan Sumut Pos di Terminal PT Bus Halmahera, Jalan Sisingamangaraja, Medan, Selasa (12/5), menunjukkan aktivitas yang sangat sepi pascainsiden. Tidak terlihat antrean penumpang di loket keberangkatan. Aktivitas terbatas hanya terlihat pada layanan pengiriman barang.
Seorang petugas loket yang bertugas menyatakan, pimpinan dan humas perusahaan saat ini berada di rumah sakit untuk mendampingi para korban. “Pimpinan fokus mengurus korban yang dirawat di RS Lubukpakam. Sebagian bus memang masih di luar kota dan sebagian lagi sedang dalam pengecekan di bengkel,” ungkapnya singkat.
Hingga berita ini diturunkan, manajemen PT Bus Halmahera belum mengeluarkan pernyataan resmi mengenai kronologi internal maupun skema kompensasi bagi para korban.
Tragedi Bus Halmahera ini menjadi pengingat keras bagi seluruh pemangku kepentingan di Sumatera Utara. Dengan angka prevalensi kecelakaan yang masih fluktuatif, sinergi antara Dinas Perhubungan, Kepolisian, Pengelola Jalan Tol, dan Perusahaan Otobus menjadi syarat mutlak untuk menciptakan ekosistem transportasi darat yang manusiawi.
Pemerintah Provinsi Sumut berkomitmen untuk terus menjalankan razia berkala dan audit sistem manajemen keselamatan perusahaan angkutan secara transparan. Masyarakat pun diimbau untuk lebih teliti dalam memilih moda transportasi dan tetap waspada selama dalam perjalanan.
Kini, publik menanti langkah nyata dari evaluasi menyeluruh ini agar jalan raya tidak lagi menjadi tempat yang merenggut nyawa warga yang sedang berjuang demi masa depan dan keluarganya. (san/btr/adz)

6 hours ago
6

















































