KULONPROGO, JOGLOSEMARNEWS.COM – Tabir kasus keracunan massal yang menimpa ratusan pelajar di wilayah Sentolo akhirnya mulai terkuak. Hasil uji laboratorium terhadap menu Program Makan Bergizi Gratis (MBG) menunjukkan adanya dugaan kuat satu jenis makanan menjadi pemicu utama insiden tersebut.
Dinas Kesehatan Kulonprogo menerima hasil pemeriksaan dari Balai Besar Laboratorium Kesehatan Masyarakat (BB Labkesmas) Yogyakarta terkait sampel makanan dan spesimen korban kejadian 20 Januari lalu. Pemeriksaan mencakup sampel makanan, feses, hingga muntahan siswa yang mengalami gejala.
Kepala Dinkes Kulonprogo, Susilaningsih, menyampaikan bahwa proses pengujian membutuhkan waktu dua pekan sejak sampel dikirim.
“Pemeriksaannya membutuhkan waktu 14 hari sejak sampel dikirim, dan kami juga melakukan investigasi,” jelasnya pada wartawan, Senin (16/02/2026).
Menu MBG saat itu terdiri dari nasi putih, telur kukus asam manis, tempe goreng, tumis sayur, dan buah anggur. Berdasarkan hasil laboratorium, telur kukus disebut sebagai salah satu faktor dominan dalam kejadian tersebut.
Penelusuran menunjukkan telur kukus dimasak sekitar pukul 18.30 WIB sehari sebelum didistribusikan kepada siswa, tanpa proses pemanasan ulang.
“Jadi telur kukusnya dimasak 12 jam sebelum didistribusikan, dan itu tidak dimasak ulang,” kata Susilaningsih.
Dari total 1.044 pelajar penerima MBG hari itu, sekitar 200 siswa mengalami gejala seperti pusing, mual, dan muntah. Selain faktor waktu penyimpanan, hasil lab juga menemukan bakteri Bacillus cereus pada nasi dan tempe, serta Staphylococcus aureus pada nasi, tempe, dan tumis sayur.
Menurut Susilaningsih, keberadaan bakteri tersebut erat kaitannya dengan tata kelola penyimpanan makanan.
“Jadi telur kukusnya sebagai kendaraan utama penyebaran bakteri karena makanan disimpan di suhu ruang yang terlalu lama,” ujarnya.
Atas temuan itu, Dinkes mendorong evaluasi menyeluruh pada Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), mulai dari proses pengolahan hingga distribusi makanan. Penerapan sistem Hazard Analysis Critical Control Point (HACCP) direkomendasikan untuk memastikan keamanan pangan.
“Pelatihan dan evaluasi terhadap kepatuhan prosedur harus dilakukan secara berkala,” kata Susilaningsih.
Sementara itu, Koordinator Wilayah SPPG Kulonprogo, Aini, mengaku pihaknya belum menerima hasil resmi pemeriksaan dari Dinkes. Ia menyebut SPPG Kaliagung yang memproduksi MBG di Sentolo saat ini belum beroperasi dan tengah melakukan pembenahan.
“Sampai saat ini SPPG Kaliagung belum beroperasi dan sedang dalam perbaikan fasilitas infrastruktur,” ujar Aini melalui pesan singkat.
Sebelumnya, ratusan siswa dari 37 sekolah penerima MBG di Sentolo harus mendapat penanganan medis usai menyantap menu tersebut. Sebanyak 72 siswa dirawat di Puskesmas Sentolo I, 16 siswa di RSUD Nyi Ageng Serang Sentolo, 9 siswa di Klinik Pengasih Husada, dan 7 siswa di RS Queen Latifa Sentolo.
Kasus ini menjadi catatan penting dalam pelaksanaan program MBG, khususnya terkait standar higienitas, pengolahan, dan distribusi makanan bagi pelajar. [*] Disarikan dari sumber berita media daring
Harap bersabar jika Anda menemukan iklan di laman ini. Iklan adalah sumber pendapatan utama kami untuk tetap dapat menyajikan berita berkualitas secara gratis.

2 hours ago
2


















































