Sunatan Massal Berbalut Adat: Kejeruan Metar Bilad Deli Hidupkan Kembali Tradisi Mandi Beliau dan Julang Anak

7 hours ago 7

Pemandangan yang nyaris tak lagi dijumpai di Kota Medan kembali hidup pada Ahad (5/7). Puluhan anak yang menjalani khitan diarak dalam prosesi Julang Adat dipanggul di atas bahu ayah atau kerabat laki-lakinya. Diiringi tabuhan rebana, pembawa balai dan dulang juadah bertudung serta disambut atraksi silat Melayu.

Bukan sekadar untuk kesehatan dan sunatan massal gratis, Kejeruan Metar Bilad Deli (KMBD) menghadirkan kembali warisan budaya Melayu yang telah lama nyaris hilang sehingga membuat ratusan pasang mata terpukau menyaksikan prosesi adat yang sarat makna, doa dan filosofi kehidupan.

Perhelatan yang berlangsung dikediaman Datok Agung Indra Syahputra, S.H bergelar Datok Cakra Indra Ambara Diraja KMBD yang bertindak sebagai ketua panitia. Kegiatan digelar di Jalan Gurilla No. 44 Medan Perjuangan diikuti 53 anak yang menjalani khitan secara gratis oleh dokter dan tim medis RS Eshmun Marelan.

Acara dibuka YTAM Tuanku Muhammad Fauzi, S.Kom, M.H, Raja Kejeruan Metar Bilad Deli XI bergelar Al-Mulk Akbar Shah yang juga bertindak sebagai kepala adat. Kegiatan ini bukan hanya menjalankan syariat Islam, tetapi dikemas menjadi sebuah perhelatan budaya yang memberikan pengalaman berharga sekaligus kebanggaan bagi anak-anak dan keluarga mereka.

Mengawali prosesi, seluruh peserta mengikuti mandi belimau. Sebuah tradisi Melayu yang menggunakan air bercampur bunga rampai dan jeruk purut sebagai simbol penyucian diri sebelum memasuki fase kehidupan baru. Prosesi tersebut dilakukan oleh Raja Kejeruan Metar Bilad Deli bersama para Datok, tamu kehormatan, serta orang tua peserta.

Setelah itu, anak-anak dijulang di atas bahu ayah atau keluarga laki-lakinya menuju lokasi acara dengan iringan rebana, balai adat dan dulang juadah. Sebelum akhirnya menerima tepung tawar yang diiringi lantunan marhaban sebagai doa keselamatan, kesejukan hati dan harapan agar kelak tumbuh menjadi pribadi yang saleh, berakhlak mulia, berguna bagi agama, bangsa dan masyarakat.

Dalam Amaran Diraja, Raja Kejeruan Metar Bilad Deli XI menegaskan bahwa sunatan yang diselenggarakan KMBD bukan sekadar kegiatan sosial atau seremoni tahunan. Menurutnya, kegiatan tersebut merupakan ikhtiar nyata menyelamatkan tradisi Melayu yang mulai terlupakan bahkan oleh generasi Melayu sendiri.

“Kejeruan Metar Bilad Deli hadir untuk menghidupkan kembali adat istiadat leluhur sekaligus memperkokoh jati diri masyarakat Melayu di Tanah Deli. Melalui kegiatan ini kami ingin membuktikan bahwa adat dan syariat Islam dapat berjalan beriringan. Saling menguatkan, menjadi simbol kebersamaan, gotong royong dan penghormatan terhadap warisan nenek moyang. Insya Allah program sunatan gratis ini akan terus dilaksanakan setiap musim libur sekolah,” ujar Raja Metar.

Sebagai kota yang dikenal dengan sebutan Tanah Deli Bumi Melayu, Medan memiliki kekayaan budaya yang menjadi identitas sejarahnya. Karena itu, Kejeruan Metar Bilad Deli terus berkomitmen menghidupkan kembali seni tradisi dan adat istiadat yang mengandung nilai luhur, doa dan kearifan lokal agar tidak terkikis oleh perkembangan zaman. Perhelatan adat sunat ini menjadi salah satu upaya nyata memperkenalkan kembali budaya Melayu kepada masyarakat luas, terutama generasi muda yang selama ini lebih banyak mengenal prosesi khitan dalam bentuk modern tanpa sentuhan adat.

Setiap rangkaian prosesi yang ditampilkan memiliki filosofi mendalam. Mandi belimau melambangkan penyucian lahir dan batin. Sedangkan julang adat menjadi simbol penghormatan kepada anak laki-laki yang memasuki gerbang kedewasaan. Anak dipanggul bukan untuk meninggikan dirinya, melainkan sebagai perlambang mengangkat martabat, menanamkan tanggung jawab sebagai laki-laki Melayu yang kelak wajib menjaga agama, menghormati orang tua dan guru serta mencintai sesama.

Sementara prosesi tepung tawar menjadi doa keselamatan dan keberkahan, sebagaimana tradisi Melayu yang telah diwariskan turun-temurun sejak masa kerajaan di Tanah Deli.

Perhelatan semakin khidmat dengan doa yang dipimpin Hadi Muslim, S.Sos bergelar Datok Tuan Imam Setia Diraja KMBD, sebelum para peserta menjalani khitan. Hadir pula sejumlah tokoh penting. Diantaranya Anggota DPRD Sumut Fajri Akbar, S.H bergelar Datok Daksa Satya Wangsa Diraja KMBD dan Prof. Dr. dr. Ridha Dharmajaya, Sp.BS(K) bergelar Datok Sri Satya Lencana Negeri KMBD.

Turut hadir Prof. Dr. Nispul Khoiri, M.Ag dari PW Ikatan Sarjana Melayu Indonesia Sumut, Ketua IDI Cabang Langkat dr. H. Agus Salim, M.Ked (ORL-HNS), Sp.THT-K bergelar Datok Cendekia Gala Bayu Bangsa Diraja KMBD, Kabid Budaya Disbudparekraf Sumatera Utara Sylvya Rosita Armayanti Lubis, S.Sos, M.SP, perwakilan Direktur RS Eshmun Marelan dr. Yun Indra Yani, Ketua FPI Kota Medan Muhammad Nasir bergelar Gelar Datok Setia Perkasa Negeri Diraja KMBD, dan perwakilan Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah II Sumut Resti Oktriani Sinulingga, M.Hum.

Antusiasme masyarakat yang memadati lokasi acara menjadi bukti bahwa tradisi Melayu masih memiliki tempat di hati publik. Banyak warga mengaku baru pertama kali menyaksikan prosesi Mandi Belimau, Julang Adat, hingga Tepung Tawar dan atraksi silat Melayu dalam rangkaian khitan.

Usai menjalani sunat, seluruh peserta menerima bingkisan berupa tas sekolah dan perlengkapan lainnya dengan wajah penuh bahagia didampingi orang tua mereka. Lebih dari sekadar layanan kesehatan gratis, Perhelatan Adat Sunat Kejeruan Metar Bilad Deli menjadi pesan kuat bahwa menjaga budaya bukan hanya mengenang masa lalu, tetapi menghadirkannya kembali sebagai warisan hidup yang membentuk karakter generasi penerus.

Ditengah derasnya arus modernisasi, KMBD membuktikan bahwa adat Melayu tetap dapat berdiri teguh, hidup berdampingan dengan syariat Islam, sekaligus menjadi kebanggaan Kota Medan sebagai Tanah Deli Bumi Melayu. (dmp)

Read Entire Article
Politik | Local| Daerah| Finance| Sport|