Desa Soco, Kecamatan Slogohimo, dipercaya menjadi lokasi utama Modul Pedesaan Sustainable Development Field School 2026, program kolaborasi tahunan antara Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) dan University of Sydney, Australia. Istimewa WONOGIRI, JOGLOSEMARNEWS.COM – Siapa sangka sebuah desa yang tenang di Kabupaten Wonogiri justru menjadi ruang belajar internasional bagi mahasiswa dari Indonesia dan Australia. Desa Soco, Kecamatan Slogohimo, dipercaya menjadi lokasi utama Modul Pedesaan Sustainable Development Field School 2026, program kolaborasi tahunan antara Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) dan University of Sydney, Australia.
Selama sepekan penuh, mahasiswa dari dua negara meninggalkan ruang kuliah dan memilih tinggal bersama keluarga angkat atau homestay di Desa Soco. Mereka tidak datang sebagai wisatawan, melainkan hidup berdampingan dengan masyarakat untuk memahami secara langsung bagaimana kehidupan pedesaan Jawa terus berubah di tengah arus modernisasi, migrasi, hingga tantangan pembangunan berkelanjutan.
Program ini menjadi pengalaman belajar yang berbeda. Tidak ada sekat antara teori dan praktik. Mahasiswa diajak menyelami kehidupan warga dari pagi hingga malam, mengikuti aktivitas sehari-hari, berdiskusi, mengamati, hingga menyusun analisis berdasarkan pengalaman yang mereka rasakan sendiri.
Dalam rilis yang diterima, Sabtu (18/7/2026), rangkaian Modul Pedesaan diawali dengan kuliah bertema “Agrarian Change” yang disampaikan oleh Associate Professor Jeff Neilson dari University of Sydney. Materi tersebut membahas perubahan agraria yang terjadi di berbagai wilayah dan bagaimana masyarakat pedesaan beradaptasi menghadapi dinamika ekonomi, sosial, maupun lingkungan.
Selanjutnya, peserta memperoleh pembekalan mengenai metode penelitian lapangan serta pengenalan Desa Soco dari Linda Susilowati, Ph.D., selaku koordinator Field School dari UKSW. Sebelum berangkat menuju Wonogiri, seluruh mahasiswa juga menyusun instrumen survei sebagai bekal penelitian selama berada di lapangan.
Sesampainya di Desa Soco, suasana akademik berubah menjadi pengalaman hidup yang sesungguhnya. Mahasiswa disambut hangat oleh keluarga angkat yang telah bersedia membuka pintu rumah sekaligus berbagi cerita tentang kehidupan mereka.
Melalui sistem homestay, para peserta merasakan bagaimana rutinitas masyarakat desa berlangsung setiap hari. Mereka ikut menyaksikan aktivitas pertanian, memahami pola pengasuhan keluarga, melihat interaksi sosial antartetangga, hingga mengenal nilai gotong royong yang masih terjaga kuat di tengah masyarakat.
Bukan hanya itu, mahasiswa juga diajak mengunjungi Pasar Doplang, pasar tradisional yang ramai setiap Minggu pagi. Di sana mereka berbincang langsung dengan para pedagang untuk menggali cerita mengenai aktivitas ekonomi masyarakat, perubahan pola perdagangan, hingga tantangan yang dihadapi pelaku usaha kecil di pedesaan.
Pengalaman tersebut kemudian diperkaya melalui diskusi kelompok di balai desa. Hasil observasi lapangan dipresentasikan kepada masyarakat guna memperoleh masukan langsung dari warga sehingga analisis yang disusun tidak hanya berdasarkan sudut pandang akademik, tetapi juga pengalaman nyata masyarakat.
Suasana belajar semakin menarik ketika para mahasiswa mengikuti latihan gamelan bersama warga Desa Soco. Alunan musik tradisional Jawa menjadi media untuk memahami budaya lokal sekaligus mempererat hubungan antara peserta Field School dengan masyarakat setempat.
Selama berada di Desa Soco, mahasiswa dibagi menjadi enam kelompok tematik agar setiap aspek kehidupan masyarakat dapat dipelajari secara lebih mendalam.
✓ Penghidupan dan Migrasi, termasuk mengunjungi Kampung Milyader untuk memahami fenomena migrasi tenaga kerja serta dampaknya terhadap desa asal.
✓ Gender dan Peran Perempuan dalam kehidupan keluarga maupun aktivitas ekonomi masyarakat.
✓ Budaya, Pariwisata, dan Identitas Lokal sebagai bagian dari kekayaan sosial masyarakat Jawa.
✓ Perlindungan Sosial dan Pengembangan Komunitas yang berkembang di tingkat desa.
✓ Pendidikan dan Kesehatan, termasuk akses layanan dasar bagi masyarakat.
✓ Lingkungan dan Pengelolaan Sumber Daya Alam, yang menjadi bagian penting dalam pembangunan berkelanjutan.
Masing-masing kelompok kemudian memaparkan hasil penelitian mereka pada acara penutupan yang berlangsung di Balai Desa Soco. Presentasi tersebut menjadi penutup rangkaian pembelajaran lapangan sebelum rombongan melanjutkan perjalanan akademik menuju Yogyakarta.
Yang membuat kegiatan ini semakin menarik, Desa Soco ternyata bukan lokasi yang dipilih secara kebetulan. Selama bertahun-tahun, desa ini telah menjadi bagian dari berbagai penelitian akademik UKSW mengenai transformasi pedesaan di Jawa, termasuk kajian tentang perubahan agraria dan peran perempuan dalam kehidupan masyarakat desa.
Karena itulah, penyelenggaraan Sustainable Development Field School 2026 menjadi kelanjutan dari hubungan panjang antara dunia akademik dan masyarakat Desa Soco. Kehadiran mahasiswa lintas negara diharapkan tidak hanya memberikan pengalaman belajar bagi peserta, tetapi juga memperkuat pertukaran pengetahuan antara kampus dan masyarakat.
Koordinator Field School dari UKSW, Linda Susilowati, menjelaskan bahwa Desa Soco menghadirkan pengalaman belajar yang sulit ditemukan di ruang kelas.
“Desa Soco memberi mahasiswa gambaran yang sangat kaya tentang bagaimana perubahan agraria dialami secara nyata oleh masyarakat — bukan sebagai konsep abstrak, tetapi sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari warga,” ujarnya.
Sementara itu, salah satu koordinator masyarakat lokal Desa Soco, Dias Woro, mengapresiasi keterlibatan seluruh warga yang ikut mendukung kelancaran program internasional tersebut.
“Dukungan warga Desa Soco tercermin dari keterlibatan aktif keluarga angkat, tokoh masyarakat, dan pemerintah desa dalam menyambut serta mendampingi mahasiswa selama kegiatan berlangsung,” katanya.
Dipilihnya Desa Soco sebagai laboratorium pembelajaran internasional menjadi kebanggaan tersendiri bagi Kabupaten Wonogiri. Di tengah derasnya perubahan zaman, desa ini justru mampu menunjukkan bahwa kehidupan pedesaan memiliki nilai pembelajaran yang sangat tinggi bagi mahasiswa dunia. Dari sawah, pasar tradisional, ruang keluarga, hingga balai desa, semuanya menjadi ruang kelas terbuka yang mengajarkan makna pembangunan berkelanjutan melalui pengalaman nyata bersama masyarakat. Aris Arianto
Harap bersabar jika Anda menemukan iklan di laman ini. Iklan adalah sumber pendapatan utama kami untuk tetap dapat menyajikan berita berkualitas secara gratis.

9 hours ago
6

















































