JAKARTA, JOGLOSEMARNEWS.COM – Di tengah kepercayaan konsumen yang terus terkikis, pasar justru mendapat suntikan kepastian dari proses pergantian pucuk pimpinan Bank Indonesia (BI). Pengajuan Destry Damayanti sebagai satu-satunya calon Gubernur BI definitif oleh Presiden Prabowo Subianto dinilai menjadi sinyal positif yang ikut mengangkat nilai tukar rupiah.
Sinyal tersebut tercermin dari pergerakan rupiah pada perdagangan Senin (10/8/2026). Mata uang Garuda ditutup menguat 142 poin ke level Rp17.755 per dolar AS, dibandingkan posisi penutupan perdagangan sebelumnya yang berada di angka Rp17.897 per dolar AS.
Pengamat ekonomi, mata uang, dan komoditas Ibrahim Assuaibi menilai sentimen pasar terhadap proses pergantian Gubernur BI menjadi salah satu faktor yang menopang penguatan rupiah.
Menurut dia, keputusan Presiden Prabowo mengajukan satu nama untuk menduduki posisi Gubernur BI definitif memberikan gambaran lebih jelas mengenai arah kepemimpinan bank sentral ke depan.
“Sedangkan untuk perdagangan besok, mata uang rupiah fluktuatif, namun ditutup menguat di rentang Rp 17.700-Rp 17.750,” kata pengamat ekonomi, mata uang, dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, dalam keterangannya, Senin (10/8/2026).
Meski demikian, penguatan rupiah tersebut berlangsung ketika indikator lain justru menunjukkan adanya pelemahan kepercayaan masyarakat terhadap kondisi ekonomi.
Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) yang dirilis Bank Indonesia kembali mengalami penurunan pada Juli 2026. Angkanya tercatat 116,8, lebih rendah dibandingkan capaian Juni sebesar 117,8.
Penurunan tersebut sekaligus menjadi pelemahan untuk ketiga kalinya secara berturut-turut.
“IKK Juli 2026 tercatat 116,8, turun dibandingkan posisi Juni 2026 sebesar 117,8. Penurunan tersebut menjadi yang ketiga secara beruntun,” ucap Ibrahim.
Meski mengalami penurunan, posisi IKK yang masih berada di atas angka 100 menunjukkan konsumen secara umum masih optimistis terhadap perekonomian nasional.
Namun, tren penurunan tersebut tetap menjadi sinyal yang patut dicermati. Sebab, semakin rendah tingkat keyakinan masyarakat, semakin besar kemungkinan konsumen menahan pengeluaran dan lebih berhati-hati dalam menggunakan pendapatan mereka.
“Pelemahan keyakinan konsumen menjadi perhatian, karena konsumsi rumah tangga merupakan salah satu penopang utama pertumbuhan ekonomi Indonesia,” jelasnya.
Jika pelemahan tersebut terus berlangsung, Ibrahim memperkirakan masyarakat akan semakin selektif dalam membelanjakan uangnya. Kondisi itu pada akhirnya dapat memengaruhi kekuatan konsumsi domestik yang selama ini menjadi salah satu mesin pertumbuhan ekonomi Indonesia.
Karena itu, perkembangan IKK dalam beberapa bulan mendatang dinilai penting untuk mengukur seberapa kuat konsumsi rumah tangga mampu bertahan di tengah berbagai dinamika ekonomi.
Destry Jadi Satu-satunya Nama
Sementara itu, kepastian mengenai calon Gubernur BI definitif disampaikan Menteri Sekretariat Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi setelah bertemu dengan pimpinan DPR di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (10/8/2026).
Prasetyo mengatakan Presiden Prabowo telah mengirimkan Surat Presiden (Surpres) kepada DPR terkait pengisian jabatan Gubernur BI.
Surpres tersebut tidak hanya berisi nama calon Gubernur BI. Pemerintah juga mengusulkan nama untuk mengisi sejumlah posisi deputi di bank sentral yang mengalami kekosongan.
“Yang pertama adalah Surpres mengenai calon definitif Gubernur Bank Indonesia, beserta dengan calon pengganti untuk Deputi Senior, dan calon pengganti untuk Deputi Gubernur, karena jumlahnya kan berkurang satu,” ujarnya.
Namun, untuk kursi Gubernur BI, Presiden Prabowo hanya mengajukan satu nama.
Nama tersebut adalah Destry Damayanti yang saat ini menjalankan tugas sebagai Pejabat Gubernur sementara Bank Indonesia.
“Namanya tunggal ya, satu nama, yaitu atas nama Ibu Destry Damayanti, yang sekarang beliau menjabat sebagai Pejabat Gubernur sementara,” tegasnya.
Dengan pengajuan satu nama tersebut, proses pergantian Gubernur BI kini memasuki tahap pembahasan di DPR. Bagi pasar, kepastian mengenai sosok yang akan memimpin bank sentral menjadi salah satu faktor penting dalam membaca arah kebijakan moneter Indonesia ke depan.
Di sisi lain, pemerintah dan BI tetap menghadapi tantangan menjaga kepercayaan masyarakat serta memastikan konsumsi domestik tidak terus mengalami pelemahan. [*] Disarikan dari sumber berita media daring
Harap bersabar jika Anda menemukan iklan di laman ini. Iklan adalah sumber pendapatan utama kami untuk tetap dapat menyajikan berita berkualitas secara gratis.

11 hours ago
9


















































