LANGKAT, sumutpos.co— Lembaga Pengabdian pada Masyarakat Universitas Sumatera Utara (USU) bersama Fakultas Vokasi USU melaksanakan program pengabdian di MIS BI Al-Nazhar, Kabupaten Langkat, guna memulihkan akses air bersih dan sanitasi sekolah yang sempat terganggu akibat bencana.
Program bertajuk “Empowering School Sanitation Post-Disaster: Development of Water Filters and Soap Production in MIS BI Al-Nazhar, Langkat Regency” ini diketuai Prof. Dr. Isfenti Sadalia, SE., ME., bersama empat anggota tim dari Fakultas Vokasi USU, yakni Beby Kendida Hasibuan, SE., M.Si., Marina Wulandari Nasution, S.Si., M.Si., Lailan Syafrina Hasibuan, S.E., M.Si., dan Fathurrahman, M.Si. Mereka dibantu para mahasiswa yakni Gladys Hutauruk, Haura Humaira, Fauzan Najril Syahada, Dzakwan Arrasyid, Rihan Sugandi, Farhan Bunayah Bestari, Nur Qamar Hawari, Nadia Zakia, Abdillah Husaini, Xanaya Zahra Sinulingga, Reva Junior Zendrato, dan Suci Indah Lestari Lubis.
MIS BI Al-Nazhar selama ini mengandalkan sumber air yang tercemar kadar garam yang tinggi akibat kondisi tanah payau di wilayah pesisir Langkat. Belum tersedianya filter air sederhana maupun keterampilan pembuatan sabun higienis, sehingga meningkatkan risiko penyakit dan mengganggu aktivitas belajar siswa.
Dalam pelaksanaannya, tim memasang sistem filter air dua tabung yang disusun seri dan dilengkapi katup 3-way serta jalur bypass. Tabung pertama berisi media pasir silika untuk menyaring partikel kasar dan endapan, sementara tabung kedua berisi manganese greensand untuk menghilangkan zat besi dan mangan, serta karbon aktif untuk menghilangkan bau dan rasa air. Pihak sekolah turut dibekali panduan perawatan, mulai dari backwash rutin setiap satu hingga dua minggu, pembilasan (fast rinse) setelah backwash, hingga pemeriksaan berkala pada katup dan sambungan pipa agar filter tetap awet.
Selain penyediaan air bersih, tim menggelar pelatihan pembuatan sabun batang berbahan minyak sawit dan minyak kedelai yang ditambahkan ekstrak minyak sereh sebagai pewangi alami sekaligus antiseptik. Peserta pelatihan dari kalangan guru dan warga sekolah diajak mempraktikkan langsung tahapan produksi, mulai dari melarutkan NaOH dengan aquades, mencampur minyak sawit dan minyak kedelai, mengaduk menggunakan hand blender, menambahkan larutan NaOH dan ekstrak sereh, hingga menuang adonan ke cetakan dan menunggunya mengeras.
Beby Kendida menyampaikan, program ini tidak hanya menjawab kebutuhan mendesak akan air bersih dan sanitasi pascabencana, tetapi juga dirancang agar keterampilan yang diberikan dapat menjadi bekal ekonomi berkelanjutan bagi masyarakat sekitar sekolah, melalui produksi sabun sereh yang dapat dipasarkan secara mandiri.
Sebagai tindak lanjut, tim turut memberikan pendampingan analisis kelayakan usaha kepada peserta, mencakup perhitungan Harga Pokok Produksi (HPP) dan Break Even Point (BEP). Berdasarkan simulasi produksi 1.500 batang sabun per bulan, HPP sabun sereh tercatat sebesar Rp4.056,89 per batang, dengan harga jual Rp5.000 per batang sehingga menghasilkan laba Rp943,11 per batang atau margin 18,86 persen. Titik impas usaha diperkirakan tercapai pada penjualan sekitar 559 batang per bulan.
Sebagai luaran kegiatan, tim menyusun pocket book berjudul sama yang memuat panduan praktis penggunaan dan perawatan filter air, tata cara pembuatan sabun sereh, hingga strategi pemasaran dan keberlanjutan usaha, agar dapat dijadikan rujukan mandiri oleh pihak sekolah dan masyarakat.
Program pengabdian ini merupakan salah satu wujud kontribusi Fakultas Vokasi USU dalam mendukung pemulihan pascabencana sekaligus pemberdayaan ekonomi masyarakat berbasis potensi lokal. Kegiatan ini juga sejalan dengan capaian target Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya bidang air bersih dan sanitasi layak, kehidupan sehat dan sejahtera, serta kemitraan untuk mencapai tujuan. (rel/adz)
LANGKAT, sumutpos.co— Lembaga Pengabdian pada Masyarakat Universitas Sumatera Utara (USU) bersama Fakultas Vokasi USU melaksanakan program pengabdian di MIS BI Al-Nazhar, Kabupaten Langkat, guna memulihkan akses air bersih dan sanitasi sekolah yang sempat terganggu akibat bencana.
Program bertajuk “Empowering School Sanitation Post-Disaster: Development of Water Filters and Soap Production in MIS BI Al-Nazhar, Langkat Regency” ini diketuai Prof. Dr. Isfenti Sadalia, SE., ME., bersama empat anggota tim dari Fakultas Vokasi USU, yakni Beby Kendida Hasibuan, SE., M.Si., Marina Wulandari Nasution, S.Si., M.Si., Lailan Syafrina Hasibuan, S.E., M.Si., dan Fathurrahman, M.Si. Mereka dibantu para mahasiswa yakni Gladys Hutauruk, Haura Humaira, Fauzan Najril Syahada, Dzakwan Arrasyid, Rihan Sugandi, Farhan Bunayah Bestari, Nur Qamar Hawari, Nadia Zakia, Abdillah Husaini, Xanaya Zahra Sinulingga, Reva Junior Zendrato, dan Suci Indah Lestari Lubis.
MIS BI Al-Nazhar selama ini mengandalkan sumber air yang tercemar kadar garam yang tinggi akibat kondisi tanah payau di wilayah pesisir Langkat. Belum tersedianya filter air sederhana maupun keterampilan pembuatan sabun higienis, sehingga meningkatkan risiko penyakit dan mengganggu aktivitas belajar siswa.
Dalam pelaksanaannya, tim memasang sistem filter air dua tabung yang disusun seri dan dilengkapi katup 3-way serta jalur bypass. Tabung pertama berisi media pasir silika untuk menyaring partikel kasar dan endapan, sementara tabung kedua berisi manganese greensand untuk menghilangkan zat besi dan mangan, serta karbon aktif untuk menghilangkan bau dan rasa air. Pihak sekolah turut dibekali panduan perawatan, mulai dari backwash rutin setiap satu hingga dua minggu, pembilasan (fast rinse) setelah backwash, hingga pemeriksaan berkala pada katup dan sambungan pipa agar filter tetap awet.
Selain penyediaan air bersih, tim menggelar pelatihan pembuatan sabun batang berbahan minyak sawit dan minyak kedelai yang ditambahkan ekstrak minyak sereh sebagai pewangi alami sekaligus antiseptik. Peserta pelatihan dari kalangan guru dan warga sekolah diajak mempraktikkan langsung tahapan produksi, mulai dari melarutkan NaOH dengan aquades, mencampur minyak sawit dan minyak kedelai, mengaduk menggunakan hand blender, menambahkan larutan NaOH dan ekstrak sereh, hingga menuang adonan ke cetakan dan menunggunya mengeras.
Beby Kendida menyampaikan, program ini tidak hanya menjawab kebutuhan mendesak akan air bersih dan sanitasi pascabencana, tetapi juga dirancang agar keterampilan yang diberikan dapat menjadi bekal ekonomi berkelanjutan bagi masyarakat sekitar sekolah, melalui produksi sabun sereh yang dapat dipasarkan secara mandiri.
Sebagai tindak lanjut, tim turut memberikan pendampingan analisis kelayakan usaha kepada peserta, mencakup perhitungan Harga Pokok Produksi (HPP) dan Break Even Point (BEP). Berdasarkan simulasi produksi 1.500 batang sabun per bulan, HPP sabun sereh tercatat sebesar Rp4.056,89 per batang, dengan harga jual Rp5.000 per batang sehingga menghasilkan laba Rp943,11 per batang atau margin 18,86 persen. Titik impas usaha diperkirakan tercapai pada penjualan sekitar 559 batang per bulan.
Sebagai luaran kegiatan, tim menyusun pocket book berjudul sama yang memuat panduan praktis penggunaan dan perawatan filter air, tata cara pembuatan sabun sereh, hingga strategi pemasaran dan keberlanjutan usaha, agar dapat dijadikan rujukan mandiri oleh pihak sekolah dan masyarakat.
Program pengabdian ini merupakan salah satu wujud kontribusi Fakultas Vokasi USU dalam mendukung pemulihan pascabencana sekaligus pemberdayaan ekonomi masyarakat berbasis potensi lokal. Kegiatan ini juga sejalan dengan capaian target Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya bidang air bersih dan sanitasi layak, kehidupan sehat dan sejahtera, serta kemitraan untuk mencapai tujuan. (rel/adz)

13 hours ago
9

















































