FDS XV Bukan Hanya Sekadar Festival Budaya

3 hours ago 3

UMKM Jadi Penggerak Ekonomi Masyarakat

SENTANI- Festival Danau Sentani (FDS) XV tidak hanya menjadi panggung seni dan budaya, tetapi juga membuka ruang ekonomi bagi masyarakat Kabupaten Jayapura. Perputaran ekonomi terlihat dari aktivitas pelaku UMKM yang memanfaatkan momentum festival untuk menawarkan berbagai produk kepada pengunjung.

Gubernur Papua Mathius Derek Fakhiri mengapresiasi Pemerintah Kabupaten Jayapura yang dinilai mampu mengemas FDS XV secara meriah sekaligus memberikan manfaat bagi masyarakat.

Hal itu disampaikan Fakhiri saat menghadiri penutupan FDS XV di Pantai Khalkote, Distrik Sentani Timur, Kabupaten Jayapura, Sabtu (5/9) dihadiri Bupati Jayapura Yunus Wonda serta Forkopimda dan masyarakat.

Menurut Fakhiri, keberhasilan FDS tidak hanya diukur dari ramainya acara, tetapi juga dari sejauh mana kegiatan tersebut mampu menggerakkan ekonomi masyarakat lokal.

“Walaupun dengan modal kecil, hasilnya luar biasa. Atas nama Pemerintah Provinsi Papua, saya menyampaikan penghargaan kepada Pemerintah Kabupaten Jayapura, panitia FDS, masyarakat adat, seniman, budayawan dan seluruh pelaku UMKM yang telah menyukseskan FDS XV,” katanya.

Fakhiri menilai Danau Sentani memiliki posisi penting dalam kehidupan masyarakat Papua. Danau tersebut bukan sekadar kawasan wisata, tetapi juga menjadi ruang hidup, ruang budaya dan tempat bertemunya masyarakat dari berbagai daerah.

Karena itu, menurut dia, FDS harus terus diarahkan agar memberikan manfaat yang lebih luas, terutama bagi masyarakat adat, pelaku UMKM, seniman dan generasi muda.

“Festival Danau Sentani sudah menjadi panggung kebersamaan, baik bagi pelaku UMKM maupun masyarakat adat di Kabupaten Jayapura,” ujarnya.

Mengangkat tema “Budayaku adalah Hidupku”, Fakhiri mengatakan FDS juga membawa pesan penting tentang bagaimana masyarakat Papua menjaga identitas di tengah perubahan zaman.

Ia menegaskan, budaya tidak cukup hanya dikenang atau ditampilkan dalam festival. Budaya harus tetap hidup melalui bahasa, seni, cerita rakyat, kerajinan, tradisi dan berbagai kearifan lokal yang diwariskan leluhur.

“Budaya bukan sekadar warisan leluhur yang kita simpan, tetapi identitas yang harus dihidupkan setiap hari. Budaya juga menjadi jembatan bagi kita dalam menghadapi perubahan zaman,” katanya.

UMKM Jadi Penggerak Ekonomi Masyarakat

SENTANI- Festival Danau Sentani (FDS) XV tidak hanya menjadi panggung seni dan budaya, tetapi juga membuka ruang ekonomi bagi masyarakat Kabupaten Jayapura. Perputaran ekonomi terlihat dari aktivitas pelaku UMKM yang memanfaatkan momentum festival untuk menawarkan berbagai produk kepada pengunjung.

Gubernur Papua Mathius Derek Fakhiri mengapresiasi Pemerintah Kabupaten Jayapura yang dinilai mampu mengemas FDS XV secara meriah sekaligus memberikan manfaat bagi masyarakat.

Hal itu disampaikan Fakhiri saat menghadiri penutupan FDS XV di Pantai Khalkote, Distrik Sentani Timur, Kabupaten Jayapura, Sabtu (5/9) dihadiri Bupati Jayapura Yunus Wonda serta Forkopimda dan masyarakat.

Menurut Fakhiri, keberhasilan FDS tidak hanya diukur dari ramainya acara, tetapi juga dari sejauh mana kegiatan tersebut mampu menggerakkan ekonomi masyarakat lokal.

“Walaupun dengan modal kecil, hasilnya luar biasa. Atas nama Pemerintah Provinsi Papua, saya menyampaikan penghargaan kepada Pemerintah Kabupaten Jayapura, panitia FDS, masyarakat adat, seniman, budayawan dan seluruh pelaku UMKM yang telah menyukseskan FDS XV,” katanya.

Fakhiri menilai Danau Sentani memiliki posisi penting dalam kehidupan masyarakat Papua. Danau tersebut bukan sekadar kawasan wisata, tetapi juga menjadi ruang hidup, ruang budaya dan tempat bertemunya masyarakat dari berbagai daerah.

Karena itu, menurut dia, FDS harus terus diarahkan agar memberikan manfaat yang lebih luas, terutama bagi masyarakat adat, pelaku UMKM, seniman dan generasi muda.

“Festival Danau Sentani sudah menjadi panggung kebersamaan, baik bagi pelaku UMKM maupun masyarakat adat di Kabupaten Jayapura,” ujarnya.

Mengangkat tema “Budayaku adalah Hidupku”, Fakhiri mengatakan FDS juga membawa pesan penting tentang bagaimana masyarakat Papua menjaga identitas di tengah perubahan zaman.

Ia menegaskan, budaya tidak cukup hanya dikenang atau ditampilkan dalam festival. Budaya harus tetap hidup melalui bahasa, seni, cerita rakyat, kerajinan, tradisi dan berbagai kearifan lokal yang diwariskan leluhur.

“Budaya bukan sekadar warisan leluhur yang kita simpan, tetapi identitas yang harus dihidupkan setiap hari. Budaya juga menjadi jembatan bagi kita dalam menghadapi perubahan zaman,” katanya.

Read Entire Article
Politik | Local| Daerah| Finance| Sport|