Kepadatan Pengunjung Jadi Tantangan, Sepanjang Jalan rezeki Terus Mengalir

21 hours ago 15

Cerita Santri Kelas VI yang 24 Jam Bergelut dengan Tumpukan Sampah pada Muktamar NU

Kesuksesan Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) tidak bisa dilepaskan dari peran para santri Pondok Pesantren Bahrul Ulum (PPBU) Tambakberas, Jombang. Tergabung dalam tim Carbon Warriors, mereka tanpa pamrih menjalankan tugas memunguti hingga membersihkan tumpukan sampah 24 jam nonstop.

Laporan: Moch. Chariris_Jombang

DI antara deretan kepadatan muktamirin di kawasan stan expo dan bazar, wajah Faiz Nafiq tetap terlihat semringah. Dengan penuh kesabaran, santri pondok induk ini mengendarai motor roda tiga pengangut sampah. Sesekali ia harus memberi aba-aba kepada para pengunjung yang lalu lalang di tengah jalan Tambakberejo Gang IV, Desa Tambakrejo, Kecamatan Jombang. Dengan harapan agar menepi sekaligus memberikan jalan.

Memang, malam itu, santri asal Bangil, Kabupaten Pasuruan, ini sedang menjalankan tugas untuk membersihkan sampah, tergabung dalam Tim Carbon Warriors. Dari memungut, mengangkut, hingga mengirimnya ke tempat penampungan sampah (TPS) di Lingkungan Tambakrejo Gang III. Persisnya, tidak jauh dari kawasan Gedung Serbaguna (GSG) KH Hasbullah Said, lokasi sidang pleno tata tertib (tatib) pemilihan pimpinan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) masa khidmat 2026-2031.

Siswa kelas VI Madrasah Muallimin Muallimat Atas (MMA) ini tidak sendirian. Ia dibantu empat santri lainnya untuk memungut dan mengambil tumpukan sampah. Baik yang tercecer di sekitaran expo dan bazar, sepanjang jalan, dan gedung-gedung tempat pelaksanaan muktamar. ’’Zona tugasnya sebenarnya semua, begitu ada info saya ambil,’’ tutur santri berusia 21 tahun ini.

Kelima santri itu tergabung dalam satu grup di antara beberapa Tim Carbon Warriors yang jumlahnya mencapai 400-500 orang. ’’Yang penting satu jalur. Dari Gang IV, lokasi utama expo dan bazar, kemudian memutar di Gang III dan langsung ke TPS,’’ imbuhnya. Kendati menjalankan amanah di bidang kebersihan dan lingkungan hidup (KLH) tanpa lelah, namun Faiz dkk tidak pernah mengeluh. Bagi dia dan keempat temannya tugas yang dijalani sebuah kebanggaan sendiri.

Apalagi, peran yang dijalankan bernilai khidmah dan pengabdian. Melayani para tamu muassis PPBU dan Muktamar ke-35 NU. ’’Sebenarnya dibagi sif, sore sampai pagi, karena pagi sampai sore ada timnya sendiri. Cuma karena ini kloter sampah, kami harus siap kapan saja ketika ada panggilan (membersihkan sampah),’’ imbuh Faiz.

Cerita Santri Kelas VI yang 24 Jam Bergelut dengan Tumpukan Sampah pada Muktamar NU

Kesuksesan Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) tidak bisa dilepaskan dari peran para santri Pondok Pesantren Bahrul Ulum (PPBU) Tambakberas, Jombang. Tergabung dalam tim Carbon Warriors, mereka tanpa pamrih menjalankan tugas memunguti hingga membersihkan tumpukan sampah 24 jam nonstop.

Laporan: Moch. Chariris_Jombang

DI antara deretan kepadatan muktamirin di kawasan stan expo dan bazar, wajah Faiz Nafiq tetap terlihat semringah. Dengan penuh kesabaran, santri pondok induk ini mengendarai motor roda tiga pengangut sampah. Sesekali ia harus memberi aba-aba kepada para pengunjung yang lalu lalang di tengah jalan Tambakberejo Gang IV, Desa Tambakrejo, Kecamatan Jombang. Dengan harapan agar menepi sekaligus memberikan jalan.

Memang, malam itu, santri asal Bangil, Kabupaten Pasuruan, ini sedang menjalankan tugas untuk membersihkan sampah, tergabung dalam Tim Carbon Warriors. Dari memungut, mengangkut, hingga mengirimnya ke tempat penampungan sampah (TPS) di Lingkungan Tambakrejo Gang III. Persisnya, tidak jauh dari kawasan Gedung Serbaguna (GSG) KH Hasbullah Said, lokasi sidang pleno tata tertib (tatib) pemilihan pimpinan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) masa khidmat 2026-2031.

Siswa kelas VI Madrasah Muallimin Muallimat Atas (MMA) ini tidak sendirian. Ia dibantu empat santri lainnya untuk memungut dan mengambil tumpukan sampah. Baik yang tercecer di sekitaran expo dan bazar, sepanjang jalan, dan gedung-gedung tempat pelaksanaan muktamar. ’’Zona tugasnya sebenarnya semua, begitu ada info saya ambil,’’ tutur santri berusia 21 tahun ini.

Kelima santri itu tergabung dalam satu grup di antara beberapa Tim Carbon Warriors yang jumlahnya mencapai 400-500 orang. ’’Yang penting satu jalur. Dari Gang IV, lokasi utama expo dan bazar, kemudian memutar di Gang III dan langsung ke TPS,’’ imbuhnya. Kendati menjalankan amanah di bidang kebersihan dan lingkungan hidup (KLH) tanpa lelah, namun Faiz dkk tidak pernah mengeluh. Bagi dia dan keempat temannya tugas yang dijalani sebuah kebanggaan sendiri.

Apalagi, peran yang dijalankan bernilai khidmah dan pengabdian. Melayani para tamu muassis PPBU dan Muktamar ke-35 NU. ’’Sebenarnya dibagi sif, sore sampai pagi, karena pagi sampai sore ada timnya sendiri. Cuma karena ini kloter sampah, kami harus siap kapan saja ketika ada panggilan (membersihkan sampah),’’ imbuh Faiz.

Read Entire Article
Politik | Local| Daerah| Finance| Sport|