Memutus Isolasi Medis di Ujung Utara Nias: Langkah Nyata dan Tantangan Sistem Kesehatan

1 day ago 16

NIAS UTARA– Langkah kaki para dokter muda dari Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara (FK USU) di Bumi Tano Niha bukan sekadar perjalanan akademik biasa. Melalui Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) dan Program Pengabdian kepada Masyarakat, FK USU secara resmi mengukuhkan komitmen jangka panjangnya untuk membenahi dan memperkuat fondasi pelayanan kesehatan di wilayah terluar, khususnya di Kabupaten Nias Utara.

Kabupaten yang lahir dari pemekaran tahun 2008 ini beribukotakan Lotu. Letak geografisnya yang berada di ujung paling utara Pulau Nias dan berbatasan langsung dengan Samudera Hindia menyajikan dilema yang kontras. Di satu sisi, wilayah ini dianugerahi bentang alam yang memukau dengan pantai berpasir putih dan deretan pohon nyiur yang elok di sepanjang jalan. Namun di sisi lain, letak geografis dan kondisi infrastruktur antarwilayah yang belum sepenuhnya merata selama ini memicu tantangan besar bagi aksesibilitas medis masyarakat setempat.

Sebelum adanya pembenahan infrastruktur masif beberapa tahun terakhir, warga Nias Utara kerap harus menempuh perjalanan panjang dan berliku demi mendapatkan layanan kesehatan rujukan. Pada musim penghujan, tantangan ini berlipat ganda akibat akses jalan yang rusak. Ketiadaan tenaga medis spesialis di wilayah lokal memaksa banyak pasien harus dirujuk ke Kota Gunungsitoli atau bahkan diterbangkan ke Kota Medan. Konsekuensinya jelas, selain waktu tempuh yang lama, beban biaya transportasi dan biaya hidup pendamping pasien menjadi sandungan berat bagi keluarga dengan kemampuan ekonomi terbatas.

Melihat urgensi tersebut, mulai awal Maret 2026, FK USU secara resmi menyerahterimakan sejumlah dokter PPDS untuk bertugas selama tiga bulan di Pulau Nias sebagai bagian dari proses pendidikan spesialis tingkat lanjut. Para dokter muda ini diterjunkan langsung ke garis depan pelayanan kesehatan masyarakat, didampingi tim program studi dan fakultas. Para dokter residen ini mencakup bidang Ilmu Penyakit Dalam, Obstetri dan Ginekologi, Anestesiologi dan Terapi Intensif, serta Patologi Klinik.

Dalam penugasan ini, dr. Trinidia Lubis ditempatkan di RSUD dr. M. Thomsen Gunungsitoli, yang merupakan pusat rujukan utama di Kepulauan Nias. Sementara itu, empat sejawatnya, yaitu dr. Ricky Bonatio Hutagalung, dr. Devinda Villarsi, dr. Edgar Anthony Petra Sihite, dan dr. Margareth Duma Sari Sirait, ditugaskan di RSUD Tafaeri yang berlokasi di Lotu, Kabupaten Nias Utara. Menjalani penempatan di daerah kepulauan, awalnya menghadirkan kecemasan tersendiri bagi para dokter muda ini terkait keterbatasan fasilitas dan pemahaman masyarakat. Namun, realitas di lapangan membuktikan hal yang berbeda.

“Tantangan bertugas di sini yang awalnya kami pikir akan sangat menyulitkan, ternyata tidak demikian. Ada beberapa kendala untuk komunikasi dengan para pasien yang umumnya menggunakan bahasa daerah, namun itu bisa diatasi dengan bantuan para perawat yang membantu menerjemahkan dan keluarga pasien yang cukup kooperatif,” ungkap dr. Trinidia Lubis.

Meskipun pasien lanjut usia umumnya hanya menguasai bahasa Nias, sinergi yang baik dengan tenaga kesehatan lokal berhasil menjadi solusi yang efektif di poliklinik, Instalasi Gawat Darurat (IGD), hingga ruang operasi.

Di RSUD dr. M. Thomsen Gunungsitoli sendiri, beban kerja klinis tergolong sangat tinggi. Dalam satu bulan, bagian obstetri dan ginekologi rata-rata menangani hingga 35 tindakan operasi sesar dan sekitar 7 sampai 8 tindakan pengangkatan rahim atau histerektomi, meski hanya diperkuat oleh dua dokter spesialis definitif.

Namun, tantangan terbesar justru terletak pada keterbatasan sistem penunjang pelayanan kesehatan, di mana salah satu aspek paling krusial adalah ketersediaan darah yang tidak siap sedia selama 24 jam. “Pelayanan bank darah tidak tersedia selama 24 jam. Setelah pukul 22.00 malam bank darah sudah tutup, padahal kasus gawat darurat bisa datang kapan saja. Sementara di RS Tafaeri Nias Utara, teman saya justru mengalami tantangan yang lebih besar, karena di sana tidak ada bank darah. Sehingga tindakan medis yang dilakukan harus benar-benar dipertimbangkan. Maka pasien dari Nias Utara sering harus dikirim ke Gunungsitoli karena ketiadaan darah,” imbuh dr. Trinidia.

Keterbatasan serupa juga menimpa layanan diagnostik seperti ketiadaan dokter spesialis patologi anatomi yang mengharuskan sampel biopsi dikirim ke Medan, hingga rumitnya birokrasi rujukan yang membutuhkan waktu dua sampai tiga hari untuk mengurus administrasi transportasi laut dan udara. Faktor sosial budaya berupa ketidakpercayaan sebagian masyarakat pada dokter residen serta ketergantungan pada dukun beranak turut memperparah keadaan.

Dr. Trinidia mengisahkan sebuah tragedi pilu saat seorang ibu hamil dilarikan ke IGD dalam kondisi syok berat akibat perdarahan pascapersalinan setelah sebelumnya ditangani oleh dukun beranak di rumah. Nyawa pasien akhirnya tidak tertolong karena bank darah sudah tutup sejak pukul 22.00 WIB.

“Bukan karena kami tidak melakukan tindakan. Tetapi karena pada kondisi seperti itu pasien membutuhkan transfusi darah secepatnya. Darah harus diganti dengan darah,” tandas dr. Trinidia dengan nada mendalam.

Menyikapi kompleksitas ini, FK USU dan Pemerintah Kabupaten Nias Utara mengambil langkah konkret melalui penandatanganan Perjanjian Kerja Sama (PKS) pada awal Maret 2026. Didukung pembiayaan Pemerintah Provinsi Sumatera Utara, program ini memberikan prioritas beasiswa bagi dokter putra asli daerah untuk menempuh pendidikan PPDS di FK USU dan kembali mengabdi di Nias. Saat ini, investasi jangka panjang ini telah menjaring tujuh dokter putra daerah, di mana empat di antaranya berasal dari Nias Utara untuk memperkuat operasional layanan spesialisasi di RSUD Tafaeri.

Sebagai bentuk nyata implementasi Tri Darma Perguruan Tinggi, FK USU juga menggelar kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (Pengabmas) berskala besar di RSUD Tafaeri, Desa Lolofaoso, Lotu, pada Maret 2026. Dipimpin oleh dr. Inke Nadia Diniyanti Lubis, Sp.A, Ph.D, aksi sosial ini melibatkan jajaran pakar senior seperti Dr. M. Ichwan, Dr. dr. Taufik Sungkar, dr. Andriamuri Primaputra Lubis, dr. Nindia Sugih Arto, dr. Iman Helmi Effendi, dan dr. Malayana Rahmita Nasution. Kegiatan ini disambut antusiasme luar biasa dari warga hingga menciptakan antrean mengular di koridor rumah sakit.

Pelayanan medis intensif tersebut berhasil melayani 23 pasien di bidang obstetri dan ginekologi, 114 pasien di poli penyakit dalam, serta 80 warga di bagian patologi klinik. Selain pengobatan gratis, Dr. dr. Taufik Sungkar memberikan edukasi interaktif mengenai gejala awal dan pencegahan komplikasi penyakit batu empedu yang direspons aktif oleh masyarakat.

“Pada saat mereka tahu bahwa di RSUD Tafaeri telah ada dokter spesialis penyakit dalam, mereka sangat gembira dan merasa sangat terbantu untuk datang berobat. Selama ini akses untuk dapat berobat ke dokter spesialis penyakit dalam cukup terbatas, karena pelayanan dokter spesialis penyakit dalam hanya satu kali dalam seminggu,” ungkap Dr. Taufik Sungkar.

Tidak hanya menyasar masyarakat umum, tim Pengabmas FK USU juga menggelar pelatihan kegawatdaruratan medis mengenai penerapan Early Warning Score (EWS) dan Bantuan Hidup Dasar (BHD) bagi perawat serta dokter umum se-Nias Utara yang dimentori oleh dr. Andriamuri Primaputra Lubis. Dr. Inke Nadia menegaskan bahwa kehadiran tim FK USU mengemban misi besar untuk mempromosikan peningkatan kapasitas layanan di RSUD Tafaeri yang kini sudah didukung oleh berbagai lini spesialisasi.

“Kami tidak hanya langsung turun untuk memberikan pelayanan kesehatan, melainkan juga memberikan promosi untuk rumah sakit, sehingga operasional RSUD Tafaeri dapat terus berlangsung dengan animo yang semakin meningkat dari masyarakat. Para dokter residen harus bisa melatih tenaga kesehatan baik yang ada di RSUD maupun puskesmas, sehingga keterampilan mereka bisa bertambah dan memberikan kualitas pelayanan yang lebih baik bagi masyarakat,” tutur dr. Inke Nadia.

Bagi FK USU dan Pemerintah Kabupaten Nias Utara, program kolaboratif ini bukanlah titik akhir. Menukil selarik syair dari sastrawan legendaris Indonesia, “Kerja belum selesai, belum apa-apa”. Sinergi berkelanjutan ini diharapkan menjadi investasi jangka panjang untuk memodernisasi infrastruktur penunjang medis dan membangun kemandirian layanan kesehatan di kawasan kepulauan. Pembangunan kesehatan di ujung utara Pulau Nias sejatinya bukan sekadar tentang kemegahan gedung dan peralatan, melainkan tentang menghadirkan harapan, menjaga kehidupan, dan memastikan keadilan akses medis bagi setiap warga tanpa ada yang tertinggal. (adz)

Read Entire Article
Politik | Local| Daerah| Finance| Sport|