Perry Warjiyo Mundur dari BI, Ekonom: Risiko Tekanan Rupiah Kian Berat

6 hours ago 5
Perry Warjiyo | Wikipedia

JAKARTA, JOGLOSEMARNEWS.COM – Pergantian pucuk pimpinan Bank Indonesia (BI) di tengah masih rapuhnya kondisi ekonomi global memunculkan kekhawatiran baru. Keputusan Perry Warjiyo mengundurkan diri sebagai Gubernur BI menjadi momentum krusial yang akan menguji kemampuan bank sentral menjaga stabilitas rupiah dan kepercayaan pasar.

Perry Warjiyo resmi mengundurkan diri secara sukarela dari jabatan Gubernur Bank Indonesia. Pengunduran diri tersebut disampaikan pada 25 Juli 2026 dengan alasan pribadi.

Deputi Gubernur Senior BI, Destry Damayanti, yang kini ditunjuk sebagai Pejabat Gubernur Sementara, mengumumkan hal tersebut dalam konferensi pers di Kantor Bank Indonesia, Jakarta, Senin (27/7/2026).

“Pengunduran diri Saudara Perry Warjiyo dari jabatan Gubernur Bank Indonesia secara sukarela karena alasan pribadi pada tanggal 25 Juli 2026,” kata Destry.

Penunjukan Destry sebagai pelaksana tugas dilakukan melalui Rapat Dewan Gubernur pada 26 Juli 2026 sesuai ketentuan dalam Undang-Undang Bank Indonesia.

“Sesuai dengan pasal 48 ayat 1 huruf a Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1999 tentang Bank Indonesia sebagaimana telah diubah beberapa kali terakhir dengan Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2026 tentang Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan, maka Dewan Gubernur dalam Rapat Dewan Gubernur tanggal 26 Juli 2026 menetapkan Deputi Gubernur Senior Saudari Destry Damayanti sebagai Pejabat Gubernur Sementara sesuai pasal 50 ayat 2 Undang-Undang Bank Indonesia,” jelas Destry.

Ia tidak menguraikan lebih jauh alasan pribadi yang melatarbelakangi keputusan Perry. Namun, Destry memastikan roda kebijakan moneter dan sistem keuangan tetap berjalan normal.

“Bank Indonesia akan selalu senantiasa memastikan keberlangsungan tugas dan wewenang untuk mencapai stabilitas nilai tukar rupiah, memelihara stabilitas sistem pembayaran dan turut menjaga stabilitas sistem keuangan dalam rangka mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan yang dapat menciptakan lingkungan ekonomi yang kondusif bagi pertumbuhan sektor riil dan penciptaan lapangan kerja sesuai dengan amanat Undang-Undang Bank Indonesia,” tuturnya.

Sementara itu, pengunduran diri Perry mendapat perhatian kalangan ekonom. Ekonom Universitas Atma Jaya Yogyakarta (UAJY), Y Sri Susilo, menilai pergantian kepemimpinan BI datang pada saat tantangan ekonomi dan moneter masih sangat besar, terutama terkait tekanan terhadap nilai tukar rupiah.

Menurut Susilo, selama memimpin BI, Perry dikenal memiliki pendekatan optimistis dalam menghadapi berbagai gejolak ekonomi.

“Sependek saya tahu, Pak Perry merupakan seorang yang optimis dalam menghadapi dan mencari solusi masalah ekonomi dan moneter. Berbagai kebijakan BI juga mencerminkan adanya optimisme dalam menghadapi atau memecah masalah stabilitas ekonomi,” ujarnya.

Ia menilai salah satu keberhasilan Perry adalah menjaga inflasi tetap berada dalam sasaran yang ditetapkan bank sentral meskipun harga pangan beberapa kali mengalami gejolak.

“Volatilitas harga pangan masih terjadi, namun secara keseluruhan inflasi yang terjadi masih dalam batas atau target yaitu 2 plus-minus 1 persen,” katanya.

Meski demikian, Susilo mengingatkan bahwa pekerjaan rumah terbesar yang ditinggalkan adalah menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. Berbagai instrumen dan kebijakan yang telah ditempuh BI, menurutnya, belum mampu mengangkat posisi rupiah secara signifikan.

“Berbagai kebijakan dan instrumen yang dimiliki telah diterapkan, namun nilai tukar rupiah belum dapat beranjak secara signifikan,” tandasnya.

Ia menilai pelemahan rupiah lebih banyak dipicu faktor eksternal, mulai dari ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang berdampak pada harga minyak dunia, penguatan dolar Amerika Serikat, hingga meningkatnya permintaan terhadap aset aman seperti emas.

Selain itu, Susilo juga menyoroti faktor domestik yang turut memengaruhi sentimen pasar. Kekhawatiran terhadap pelebaran defisit APBN akibat berbagai program pemerintah, ditambah sejumlah pernyataan pejabat yang dinilai kurang tepat, disebut ikut memberi tekanan terhadap persepsi investor.

“Terkadang pidato atau komentar Presiden atau Menteri yang tidak pas sehingga direspons negatif oleh pasar,” ujarnya.

Di sisi lain, Susilo mengapresiasi sejumlah capaian BI selama dipimpin Perry Warjiyo, terutama dalam pengembangan sistem pembayaran digital nasional melalui QRIS serta berbagai inovasi yang mengantarkan BI memperoleh penghargaan di tingkat internasional.

Ia berharap pergantian kepemimpinan tidak mengganggu kesinambungan kebijakan yang telah berjalan. Menurutnya, sosok Gubernur BI berikutnya harus mampu mempertahankan stabilitas ekonomi sekaligus memperkuat kepercayaan pasar di tengah dinamika global yang masih penuh ketidakpastian.

Tapi, siapa yang layak menggantikan Perry Warjiyo? Kita tunggu saja. [*]  Disarikan dari sumber berita media daring

Harap bersabar jika Anda menemukan iklan di laman ini. Iklan adalah sumber pendapatan utama kami untuk tetap dapat menyajikan berita berkualitas secara gratis.

Read Entire Article
Politik | Local| Daerah| Finance| Sport|