Sasar Bonus Demografi 2045, Inkes Sumut Bentuk Posyandu Remaja dan Latih Budidaya Jamur Tiram di Desa Kuta Buara

18 hours ago 10

KARO, sumutpos.co – Guna mengoptimalkan bonus demografi menuju Indonesia Emas 2045, tim Pengabdian Masyarakat Institut Kesehatan Sumatera Utara (Inkes Sumut) melaksanakan program pemberdayaan remaja selama delapan bulan di Desa Kuta Buara, Kabupaten Karo.

Program strategis ini berfokus pada pembentukan Posyandu Remaja dan pembekalan keterampilan budidaya jamur tiram untuk menjaga kesehatan seksual reproduksi serta meningkatkan ekonomi lokal.

Langkah intervensi ini diambil menyusul temuan bahwa Desa Kuta Buara sebelumnya tidak memiliki Posyandu Remaja atau Pusat Informasi dan Konseling Remaja (PIK-R) yang aktif. Akibatnya, 100 persen remaja (usia 10-18 tahun) di desa tersebut sama sekali tidak mendapatkan skrining kesehatan berkala, seperti pemeriksaan Hemoglobin (HB), Indeks Massa Tubuh (IMT), dan kesehatan mental.

Ketua Tim Pengabdian Masyarakat Inkes Sumut, Bdn. Serly Monika Br Sembiring, S.ST., M.Kes., menegaskan pentingnya menjaga remaja sebagai aset bangsa dari ancaman narkoba, kriminalitas, dan kejahatan seksual.

“Remaja adalah pilar utama Indonesia Emas 2045. Melalui program yang berjalan selama delapan bulan ini, kami tidak hanya membentuk sistem layanan kesehatan remaja yang sistematis melalui Posyandu Remaja, tetapi juga memberikan kemandirian ekonomi lewat budidaya jamur tiram,” ujar Bdn. Serly Monika didampingi dua anggota tim, yaitu Bdn. Dewi Handayani, S.ST., M.Kes., dan Lisnawati Tumanggor, S.Pd., M.Si.

Bdn. Serly menjelaskan, program ini menerapkan metode pelaksanaan yang terstruktur, dimulai dari tahap sosialisasi dengan Kepala Desa dan Bidan Desa, dilanjutkan dengan pelatihan intensif. “Pada minggu pertama, kami memberikan edukasi intensif mengenai Kesehatan Reproduksi, program Generasi Berencana (GenRe) bersama BKKBN Kabupaten Karo, serta bahaya NAPZA bersama BNN Kabupaten Karo. Kami juga langsung meluncurkan Posyandu Remaja Desa Kuta Buara,” jelasnya.

Serly menambahkan, pelatihan juga menyasar aspek keterampilan teknis dan manajerial kader. Pada minggu kedua dan ketiga, kader remaja dilatih menerapkan sistem pelayanan 5 meja (pendaftaran, pengukuran, pencatatan, pelayanan kesehatan, dan KIE). Memasuki minggu keempat, remaja diberikan pelatihan budidaya jamur tiram, mulai dari pembuatan rumah kumbung hingga strategi pemasaran.

“Kami mengintegrasikan teknologi tepat guna sebagai pilar transformasi desa. Digitalisasi data digunakan untuk presisi pemantauan tumbuh kembang remaja di bidang kesehatan, sedangkan penerapan teknologi produksi dan pemasaran digital dirancang agar produk jamur tiram kelompok remaja ini mampu menembus pasar modern,” tuturnya.

Program multi-sektoral ini mencatat keberhasilan yang signifikan pada tahun pelaksanaannya. Posyandu Remaja kini resmi terbentuk dan aktif di Desa Kuta Buara. Data evaluasi menunjukkan pengetahuan kesehatan reproduksi remaja melonjak tajam hingga di atas 90 persen berdasarkan perbandingan hasil pre-test dan post-test.

Di sektor ekonomi, kelompok usaha remaja desa telah berhasil memanen dan menjual produk jamur tiram ke masyarakat, yang berkontribusi langsung pada peningkatan pendapatan keluarga.

Untuk menjamin keberlanjutan dampak program, tim Inkes Sumut berkomitmen untuk terus melakukan pendampingan, konsultasi rutin dengan tenaga kesehatan, serta monitoring berkala terhadap jalannya Posyandu Remaja dan perkembangan usaha budidaya jamur tiram di Desa Kuta Buara.

Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini didanai oleh Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi tahun anggaran 2026. Tim Pelaksana mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada Kemdiktisaintek yang telah mendanai kegiatan ini.

Tim pelaksana juga berterima kasih kepada LLDIKTI Wilayah I atas koordinasi dan dukungannya, serta kepada Inkes Sumut yang telah memfasilitasi pelaksanaan kegiatan sehingga kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini dapat terlaksana dengan baik dan lancar. (adz)

KARO, sumutpos.co – Guna mengoptimalkan bonus demografi menuju Indonesia Emas 2045, tim Pengabdian Masyarakat Institut Kesehatan Sumatera Utara (Inkes Sumut) melaksanakan program pemberdayaan remaja selama delapan bulan di Desa Kuta Buara, Kabupaten Karo.

Program strategis ini berfokus pada pembentukan Posyandu Remaja dan pembekalan keterampilan budidaya jamur tiram untuk menjaga kesehatan seksual reproduksi serta meningkatkan ekonomi lokal.

Langkah intervensi ini diambil menyusul temuan bahwa Desa Kuta Buara sebelumnya tidak memiliki Posyandu Remaja atau Pusat Informasi dan Konseling Remaja (PIK-R) yang aktif. Akibatnya, 100 persen remaja (usia 10-18 tahun) di desa tersebut sama sekali tidak mendapatkan skrining kesehatan berkala, seperti pemeriksaan Hemoglobin (HB), Indeks Massa Tubuh (IMT), dan kesehatan mental.

Ketua Tim Pengabdian Masyarakat Inkes Sumut, Bdn. Serly Monika Br Sembiring, S.ST., M.Kes., menegaskan pentingnya menjaga remaja sebagai aset bangsa dari ancaman narkoba, kriminalitas, dan kejahatan seksual.

“Remaja adalah pilar utama Indonesia Emas 2045. Melalui program yang berjalan selama delapan bulan ini, kami tidak hanya membentuk sistem layanan kesehatan remaja yang sistematis melalui Posyandu Remaja, tetapi juga memberikan kemandirian ekonomi lewat budidaya jamur tiram,” ujar Bdn. Serly Monika didampingi dua anggota tim, yaitu Bdn. Dewi Handayani, S.ST., M.Kes., dan Lisnawati Tumanggor, S.Pd., M.Si.

Bdn. Serly menjelaskan, program ini menerapkan metode pelaksanaan yang terstruktur, dimulai dari tahap sosialisasi dengan Kepala Desa dan Bidan Desa, dilanjutkan dengan pelatihan intensif. “Pada minggu pertama, kami memberikan edukasi intensif mengenai Kesehatan Reproduksi, program Generasi Berencana (GenRe) bersama BKKBN Kabupaten Karo, serta bahaya NAPZA bersama BNN Kabupaten Karo. Kami juga langsung meluncurkan Posyandu Remaja Desa Kuta Buara,” jelasnya.

Serly menambahkan, pelatihan juga menyasar aspek keterampilan teknis dan manajerial kader. Pada minggu kedua dan ketiga, kader remaja dilatih menerapkan sistem pelayanan 5 meja (pendaftaran, pengukuran, pencatatan, pelayanan kesehatan, dan KIE). Memasuki minggu keempat, remaja diberikan pelatihan budidaya jamur tiram, mulai dari pembuatan rumah kumbung hingga strategi pemasaran.

“Kami mengintegrasikan teknologi tepat guna sebagai pilar transformasi desa. Digitalisasi data digunakan untuk presisi pemantauan tumbuh kembang remaja di bidang kesehatan, sedangkan penerapan teknologi produksi dan pemasaran digital dirancang agar produk jamur tiram kelompok remaja ini mampu menembus pasar modern,” tuturnya.

Program multi-sektoral ini mencatat keberhasilan yang signifikan pada tahun pelaksanaannya. Posyandu Remaja kini resmi terbentuk dan aktif di Desa Kuta Buara. Data evaluasi menunjukkan pengetahuan kesehatan reproduksi remaja melonjak tajam hingga di atas 90 persen berdasarkan perbandingan hasil pre-test dan post-test.

Di sektor ekonomi, kelompok usaha remaja desa telah berhasil memanen dan menjual produk jamur tiram ke masyarakat, yang berkontribusi langsung pada peningkatan pendapatan keluarga.

Untuk menjamin keberlanjutan dampak program, tim Inkes Sumut berkomitmen untuk terus melakukan pendampingan, konsultasi rutin dengan tenaga kesehatan, serta monitoring berkala terhadap jalannya Posyandu Remaja dan perkembangan usaha budidaya jamur tiram di Desa Kuta Buara.

Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini didanai oleh Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi tahun anggaran 2026. Tim Pelaksana mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada Kemdiktisaintek yang telah mendanai kegiatan ini.

Tim pelaksana juga berterima kasih kepada LLDIKTI Wilayah I atas koordinasi dan dukungannya, serta kepada Inkes Sumut yang telah memfasilitasi pelaksanaan kegiatan sehingga kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini dapat terlaksana dengan baik dan lancar. (adz)

Read Entire Article
Politik | Local| Daerah| Finance| Sport|