265 Siswa di Berastagi Alami Gatal, Muntah, hingga Sesak Napas, MBG Makan Korban Lagi!

13 hours ago 13

Kepanikan luar biasa melanda sejumlah sekolah di Berastagi, Kabupaten Karo, Kamis (13/8) siang. Ratusan siswa dari tingkat SMP, SMA, hingga SMK di kawasan Berastagi dan Kabanjahe tumbang secara bersamaan setelah menyantap menu program Makan Bergizi Gratis (MBG). Tragedi keracunan massal tersebut memicu evakuasi darurat besar-besaran yang melibatkan puluhan armada ambulans, kendaraan dinas, hingga angkutan umum lokal.

PERISTIWA ini bermula tak lama setelah MBG disalurkan di beberapa sekolah, termasuk SMA Negeri 1 Berastagi, SMA Swasta Bersama, SMK Swasta Bersama, SMP Negeri 3 Kabanjahe, dan SMP Swasta Bersama. Ratusan siswa yang menyantap menu MBG itu secara serentak mengeluhkan gejala gatal-gatal pada bibir dan kulit, pusing mendadak, mual hebat, muntah-muntah, sakit perut membakar, hingga mengalami sesak napas.

Hingga kemarin sore, data sementara mencatat sedikitnya 265 siswa SMA dan SMK harus dilarikan ke rumah sakit. Rinciannya, meliputi 202 siswa dari SMAN 1 Berastagi, 25 siswa SMA Swasta Bersama, serta 38 siswa SMK Swasta Bersama. Angka tersebut diperkirakan masih akan terus membengkak lantaran data korban dari jajaran siswa SMP masih dalam proses pendataan intensif oleh dinas terkait.

Sirine ambulans meraung-raung bersahutan di sepanjang jalan protokol Berastagi–Kabanjahe. Para korban dilarikan secara maraton ke tiga fasilitas kesehatan utama, yakni RS Amanda Berastagi, RS Efarina Etaham, dan RSU Kabanjahe. Keterbatasan armada ambulans memaksa warga sekitar, guru, hingga orang tua murid ikut serta mengevakuasi para siswa yang lemas menggunakan mobil pribadi dan angkutan kota (angkot).

Kepala Cabang Dinas Pendidikan Sumut Wilayah IV, Zulkarnain Barus, mengonfirmasi bahwa musibah tersebut terjadi sesaat setelah para siswa melahap hidangan program MBG. Menu yang dibagikan hari itu terdiri atas nasi, sayur kol, wortel, dan olahan gulai ikan dencis.

”Dugaan sementara penyebab utamanya berasal dari olahan ikan dencis. Gejala awal yang dirasakan para siswa adalah gatal dan panas di bagian mulut, lalu menjalar ke kulit hingga memicu sesak napas,” ungkap Zulkarnain di lokasi kejadian.

Zulkarnain juga mengungkapkan fakta, pasokan makanan untuk seluruh sekolah terdampak tersebut bersumber dari satu dapur pengolahan yang sama. ”Dapurnya sama, milik Kodim. Namun, untuk jumlah pasti data siswa SMP yang ikut menjadi korban saat ini masih terus dihimpun oleh tim di lapangan,” tambahnya.

Kondisi di lapangan sempat diwarnai kepanikan hebat. Lingkungan SMAN 1 Berastagi mendadak riuh dan dipadati orang tua siswa yang berbondong-bondong datang dengan wajah cemas untuk memastikan keselamatan buah hati mereka. Sebagian wali murid menangis histeris karena kesulitan mencari keberadaan anaknya yang sudah lebih dahulu dievakuasi warga ke rumah sakit.

Situasi makin pelik lantaran peristiwa naas ini terjadi bersamaan dengan gelaran pawai menyambut HUT ke-81 Kemerdekaan RI tingkat PAUD, TK, dan SD se-Kota Kabanjahe dan Berastagi. Lautan manusia dan kendaraan peserta pawai yang menyemut di jalanan membuat arus lalu lintas Berastagi–Kabanjahe mengalami kemacetan total, sehingga sempat menyulitkan laju kendaraan evakuasi.

Mendengar kabar musibah tersebut, Sekretaris Daerah Kabupaten Karo Gelora Kurnia Putra Ginting bersama jajaran Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) langsung turun ke lokasi untuk memimpin penanganan darurat. Bupati Karo Antonius Ginting usai menjenguk para korban di tiga rumah sakit menegaskan, seluruh tim medis telah dikerahkan secara maksimal.

”Yang paling utama dan bersyukur, sampai saat ini kondisi kesehatan anak-anak kita stabil dan tidak ada yang mengkhawatirkan. Tidak ada kasus yang masuk kategori kritis atau membahayakan jiwa,” tegas Antonius.

Terkait dengan sumber racun atau bakteri penyebab gangguan kesehatan massal ini, Pemkab Karo masih menunggu hasil uji laboratorium sampel makanan. ”Penyebab pastinya masih diteliti oleh tim ahli. Ke depan evaluasi total pasti kita lakukan. Kami pastikan seluruh biaya pengobatan para siswa ditanggung sepenuhnya oleh pemerintah dan tidak akan dibebankan sepeser pun kepada orang tua,” tegas Bupati.

Guna melakukan pemulihan psikologis dan koordinasi menyeluruh, Pemkab Karo dijadwalkan bakal menggelar apel bersama seluruh elemen sekolah di SMAN 1 Berastagi pada Jumat (14/8) pagi.

Insiden krusial ini langsung direspons cepat oleh Kantor Pelayanan Pemenuhan Gizi (KPPG) Medan. Kepala KPPG Medan, Donald Simanjuntak menyatakan, pihak pusat bersama tim Badan Gizi Nasional (BGN) koordinator wilayah telah meluncurkan tim investigasi khusus untuk mengusut tuntas penyebab penanganan keracunan fatal tersebut.

”Kami berkoordinasi erat dengan BGN wilayah dan Dinas Kesehatan Kabupaten Karo untuk memastikan Standar Operasional Prosedur (SOP) penanganan kejadian fatal berjalan ketat. Prioritas utama adalah penanganan medis korban, dilanjutkan investigasi mendalam serta pengambilan sampel sisa makanan untuk uji laboratorium,” terang Donald saat dihubungi.

Donald menegaskan, penanganan tidak berhenti pada pengobatan korban semata, melainkan menyasar evaluasi total pada rantai pasok penyediaan makanan MBG di Karo. Evaluasi mencakup proses seleksi bahan baku, sanitas personel, hingga standar higienitas dapur pengolahan.

”Seluruh alur produksi kami bedah. Mulai dari penerimaan bahan baku ikan dan sayur, proses persiapan, pengolahan, pemorsian, hingga moda distribusi ke sekolah-sekolah. Evaluasi juga menyasar rantai pasok (supply chain), kredibilitas personel, serta kondisi sanitasi dapur pengolah,” tegas Donald yang menjadwalkan turun langsung memimpin investigasi di Berastagi.

Tragedi tumbangnya ratusan siswa di Karo ini memantik reaksi keras dari Anggota DPRD Sumatera Utara dari Daerah Pemilihan (Dapil) XI, Alfriyansyah Ujung. Dia mengecam keras lemahnya pengawasan dalam rantai produksi program MBG hingga kebobolan zat berbahaya.

Politikus PDI Perjuangan itu mendesak BGN Sumut dan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) untuk menghentikan pola kerja ceroboh. Menurutnya, makanan untuk anak-anak sekolah wajib melalui pengujian kelayakan klinis (sample test) sebelum didistribusikan. ”Ini menyangkut keselamatan jiwa anak-anak kita, tidak bisa dianggap sepele! Makanan dari dapur SPPG tidak boleh langsung main kirim ke sekolah sebelum diloloskan oleh pengawas independen. Harus ada penjaminan (quality control) ketat apakah makanan itu betul-betul aman dan layak konsumsi,” cecarnya.

Alfriyansyah menegaskan, DPRD Sumut tidak akan tinggal diam. Pihaknya dalam waktu dekat bakal menggalang seluruh anggota dewan lintas fraksi dari Dapil XI untuk menggelar Inspeksi Mendadak (Sidak) besar-besaran ke seluruh dapur SPPG di wilayah Karo, Dairi, dan Pakpak Bharat.

”Kami siap sidak langsung ke dapur-dapur pengolahan. Kasus keracunan program MBG ini bukan lagi kejadian sekali dua kali di daerah. Kita akan periksa proses masaknya, kebersihan tempatnya, cara penyimpanan bahan bakunya, hingga sertifikasi pengolahnya. Jika terbukti ada unsur kelalaian atau bahan makanan tak layak yang dipaksakan diolah, pihak pengelola dapur harus dijatuhi sanksi tegas atau pidana!” pungkasnya.

Hingga Kamis malam, ratusan siswa masih menjalani observasi medis intensif di RS Amanda, RS Efarina, dan RSU Kabanjahe. Polisi dari Polres Tanah Karo juga dilaporkan telah memasang garis polisi (police line) di dapur pengolahan makanan untuk mengamankan sisa bahan baku sebagai barang bukti penyidikan. (deo/san/adz)

Read Entire Article
Politik | Local| Daerah| Finance| Sport|