Tips Latihan Fisik Penderita Diabetes saat Berpuasa

1 month ago 15

SUMUTPOS.CO – Latihan fisik saat menjalankan ibadah puasa bagi penderita diabetes dapat bermanfaat membantu menjaga kadar gula darah tetap stabil dan memperbaiki kondisi kesehatan secara keseluruhan.

Namun demikian, latihan fisik saat berpuasa akan menjadi tantangan tersendiri bagi penderita diabetes. Pasalnya, latihan fisik selama bulan puasa dapat menimbulkan risiko yang lebih tinggi dari biasanya.

Oleh karena itu, ada beberapa tips yang bisa dilakukan agar latihan fisik yang dilakukan oleh penderita diabetes saat berpuasa tetap aman meski sedang berpuasa.

Hal ini disampaikan edukator Istafiyana Rahayu kepada Kaltim Pos(grup Sumut Pos), pada saat memberikan edukasi latihan fisik aman bagi penderita diabetes saat berpuasa kepada pasien dan pengunjung RSUD SSMA Kota Pontianak, baru-baru ini.

“Di antaranya, sebelum melakukan program latihan fisik, penderita diabetes disarankan konsultasi terlebih dahulu dengan dokter atau edukator diabetes untuk menentukan jenis dan intensitas latihan fisik yang aman,” Jelasnya.

Istafiyana menambahkan, tentukan jenis latihan fisik yang tepat bagi penderita diabetes, misal aerobik ringan seperti jalan cepat, bersepeda, dan renang serta hindari latihan fisik yang berat.

Pilih waktu yang tepat apabila akan melakukan latihan fisik di saat berpuasa, hindari melakukan latihan fisik saat kondisi panas atau terlalu dingin, pilih waktu yang tepat untuk melakukan latihan fisik seperti menjelang berbuka, setelah tarawih, atau setelah sahur.

“Dan pastikan untuk mengkonsumsi cairan yang cukup selama latihan fisik bila dilakukan setelah berbuka ataupun setelah latihan fisik jika olahraga dilakukan sebelum berbuka. Hal ini akan membantu mencegah dehidrasi dan mengurangi risiko hipoglikemia,” ungkapnya.

Dia mengatakan, lakukan cek kadar gula darah secara berkala pada saat sebelum dan setelah latihan fisik. Jika gula darah terlalu rendah, lakukan olahraga setelah berbuka. Jangan memaksakan diri untuk melanjutkan latihan fisik jika merasa tidak enak badan atau jika gula darah terlalu rendah. Segera istirahat dan minum cairan yang cukup.

RSUD SSMA juga mengedukasi Masyarakat Soal Hipoglikemia. Puasa yang dilakukan selama bulan Ramadan atau dalam kondisi tertentu dapat meningkatkan risiko terjadinya Hipoglikemia. Hal ini menjadi perhatian khusus, terutama bagi mereka yang memiliki riwayat diabetes atau masalah kesehatan terkait gula darah. Hipoglikemia adalah kondisi yang disebabkan penurunan gula dalam darah. Kadar gula darah kurang dari 70 mg/dl.

Istafiyana menjelaskan adapun gejala Hipoglikemia yang sering dialami adalah gemetar, pucat, berkeringat, perubahan mood, pusing, penglihatan kabur, sakit kepala, sangat lelah dan lapar.

“Hipoglikemia disebabkan oleh pengaruh obat-obatan gula darah seperti (merformin dan glimepiride), insulin, olahraga, dan asupan makan yang kurang selama menjalani ibadah puasa,” lanjutnya

Tips yang dapat dilakukan supaya tidak mengalami Hipoglikemia pada pasien dengan penggunaan insulin adalah melakukan Konsultasikan dengan dokter untuk penyusunan jadwal makan dan minum obat, monitor kadar gula darah secara rutin, perbanyak minum air putih, makan porsi cukup saat berbuka dan sahur, hindari konsumsi gula tinggi serta batasi olahraga fisik yang berat,” sambungnya.

Menurutnya, Hipoglikemia dapat ditangani sesuai dengan kondisi pasien. Ketika pasien sadar dapat segera berbuka dengan mengkonsumsi 2-3 sendok teh gula atau madu, minum jus jeruk/sirup dan segera cek gula darah. Sedangkan ketika tidak sadar harus segera dibawa ke IGD dan atasi penyebabnya.

“Penting untuk melakukan pemantauan gula darah mandiri di rumah untuk evaluasi pengobatan dengan melihat aktivitas/latihan fisik, makanan sehat dan penggunaan insulin dan obat-obatan.” Tutupnya. (mrd/jpg/han)

SUMUTPOS.CO – Latihan fisik saat menjalankan ibadah puasa bagi penderita diabetes dapat bermanfaat membantu menjaga kadar gula darah tetap stabil dan memperbaiki kondisi kesehatan secara keseluruhan.

Namun demikian, latihan fisik saat berpuasa akan menjadi tantangan tersendiri bagi penderita diabetes. Pasalnya, latihan fisik selama bulan puasa dapat menimbulkan risiko yang lebih tinggi dari biasanya.

Oleh karena itu, ada beberapa tips yang bisa dilakukan agar latihan fisik yang dilakukan oleh penderita diabetes saat berpuasa tetap aman meski sedang berpuasa.

Hal ini disampaikan edukator Istafiyana Rahayu kepada Kaltim Pos(grup Sumut Pos), pada saat memberikan edukasi latihan fisik aman bagi penderita diabetes saat berpuasa kepada pasien dan pengunjung RSUD SSMA Kota Pontianak, baru-baru ini.

“Di antaranya, sebelum melakukan program latihan fisik, penderita diabetes disarankan konsultasi terlebih dahulu dengan dokter atau edukator diabetes untuk menentukan jenis dan intensitas latihan fisik yang aman,” Jelasnya.

Istafiyana menambahkan, tentukan jenis latihan fisik yang tepat bagi penderita diabetes, misal aerobik ringan seperti jalan cepat, bersepeda, dan renang serta hindari latihan fisik yang berat.

Pilih waktu yang tepat apabila akan melakukan latihan fisik di saat berpuasa, hindari melakukan latihan fisik saat kondisi panas atau terlalu dingin, pilih waktu yang tepat untuk melakukan latihan fisik seperti menjelang berbuka, setelah tarawih, atau setelah sahur.

“Dan pastikan untuk mengkonsumsi cairan yang cukup selama latihan fisik bila dilakukan setelah berbuka ataupun setelah latihan fisik jika olahraga dilakukan sebelum berbuka. Hal ini akan membantu mencegah dehidrasi dan mengurangi risiko hipoglikemia,” ungkapnya.

Dia mengatakan, lakukan cek kadar gula darah secara berkala pada saat sebelum dan setelah latihan fisik. Jika gula darah terlalu rendah, lakukan olahraga setelah berbuka. Jangan memaksakan diri untuk melanjutkan latihan fisik jika merasa tidak enak badan atau jika gula darah terlalu rendah. Segera istirahat dan minum cairan yang cukup.

RSUD SSMA juga mengedukasi Masyarakat Soal Hipoglikemia. Puasa yang dilakukan selama bulan Ramadan atau dalam kondisi tertentu dapat meningkatkan risiko terjadinya Hipoglikemia. Hal ini menjadi perhatian khusus, terutama bagi mereka yang memiliki riwayat diabetes atau masalah kesehatan terkait gula darah. Hipoglikemia adalah kondisi yang disebabkan penurunan gula dalam darah. Kadar gula darah kurang dari 70 mg/dl.

Istafiyana menjelaskan adapun gejala Hipoglikemia yang sering dialami adalah gemetar, pucat, berkeringat, perubahan mood, pusing, penglihatan kabur, sakit kepala, sangat lelah dan lapar.

“Hipoglikemia disebabkan oleh pengaruh obat-obatan gula darah seperti (merformin dan glimepiride), insulin, olahraga, dan asupan makan yang kurang selama menjalani ibadah puasa,” lanjutnya

Tips yang dapat dilakukan supaya tidak mengalami Hipoglikemia pada pasien dengan penggunaan insulin adalah melakukan Konsultasikan dengan dokter untuk penyusunan jadwal makan dan minum obat, monitor kadar gula darah secara rutin, perbanyak minum air putih, makan porsi cukup saat berbuka dan sahur, hindari konsumsi gula tinggi serta batasi olahraga fisik yang berat,” sambungnya.

Menurutnya, Hipoglikemia dapat ditangani sesuai dengan kondisi pasien. Ketika pasien sadar dapat segera berbuka dengan mengkonsumsi 2-3 sendok teh gula atau madu, minum jus jeruk/sirup dan segera cek gula darah. Sedangkan ketika tidak sadar harus segera dibawa ke IGD dan atasi penyebabnya.

“Penting untuk melakukan pemantauan gula darah mandiri di rumah untuk evaluasi pengobatan dengan melihat aktivitas/latihan fisik, makanan sehat dan penggunaan insulin dan obat-obatan.” Tutupnya. (mrd/jpg/han)

spot_img

Read Entire Article
Politik | Local| Daerah| Finance| Sport|