4 Postulan MASF Terima Jubah Biarawati, 5 Suster Perbarui Kaul dalam Ekaristi di Kapel Novisiat MASF Gentan

5 hours ago 2
Empat postulan menerima jubah biara dalam Perayaan Ekaristi Agem Busana dan Pembaruan Kaul Kongregasi Misi dan Adorasi dari Santa Familia (MASF) di Kapel Novisiat MASF Gentan, Rabu (24/6/2026). Prosesi ini menandai langkah baru dalam perjalanan panggilan hidup mereka sebagai biarawati. | Foto: Suhamdani

SUKOHARJO, JOGLOSEMARNEWS.COM Suasana khidmat mewarnai Perayaan Ekaristi Agem Busana dan Pembaruan Kaul Kongregasi Misi dan Adorasi dari Santa Familia (MASF) yang digelar di Kapel Novisiat MASF Gentan, Rabu (24/6/2026) sore.

Perayaan Ekaristi dipimpin oleh Rm. Franciscus Anggras Prijatno, MSF dan dihadiri para suster, keluarga, serta umat yang turut memberikan dukungan dan doa bagi para peserta yang menjalani tahapan penting dalam kehidupan religius mereka.

Dalam perayaan tersebut, lima suster memperbarui profesi atau kaul religius mereka. Kelima suster tersebut adalah Sr. Anna Sarmento MASF, Sr. Emilia Gea MASF, Sr. Gregorini Lifi MASF, Sr. Lidia Ina MASF, dan Sr. Stefania Sawa MASF.

Selain pembaruan kaul, acara juga diwarnai prosesi agem busana atau penerimaan jubah biara bagi empat postulan, yakni Elisabeth Kope, Florentina Waruwu, Kamelia Siba Ledun, dan Yuliana Silo.

Prosesi berlangsung menarik, karena menerima jubah, keempat postulan mengenakan pakaian adat dari daerah asal masing-masing, yang mencerminkan keberagaman budaya Nusantara. Mulai dari Flores, Kalimantan, Nias hingga Timor.

Setelah jubah diberkati, masing-masing postulan menerima jubah tersebut, kemudian meninggalkan kapel untuk berganti pakaian. Beberapa saat kemudian, mereka kembali memasuki kapel dengan mengenakan jubah biara untuk pertama kalinya. Momen tersebut disambut haru oleh para hadirin.

Dalam homilinya, Rm. Anggras menekankan bahwa penerimaan jubah bukan sekadar pergantian pakaian. Namun lebih dari itu, yakni penanda identitas dan panggilan hidup yang baru.

Ia mengawali refleksinya dengan sebuah peribahasa, “Gajah mati meninggalkan gading, harimau mati meninggalkan belang, manusia mati meninggalkan nama.”

Menurutnya, nama merupakan identitas yang memiliki makna mendalam. Ia kemudian mengisahkan peristiwa kelahiran Yohanes Pembaptis yang diceritakan dalam Kitab Suci.

“Ketika Yohanes lahir, orang-orang ingin memberinya nama Zakaria seperti ayahnya. Namun Elisabeth menolak dan meminta nama Yohanes. Ketika ditanyakan kepada Zakaria yang saat itu masih bisu, ia meminta batu tulis dan menuliskan bahwa anak itu bernama Yohanes,” ungkapnya.

Lima suster Kongregasi Misi dan Adorasi dari Santa Familia (MASF) memperbarui kaul religius mereka dalam Perayaan Ekaristi di Kapel Novisiat MASF Gentan, Rabu (24/6/2026). Pembaruan kaul tersebut menjadi ungkapan kesetiaan untuk terus menghayati panggilan hidup membiara dalam semangat doa, pelayanan, dan pengabdian kepada Tuhan. | Foto: Suhamdani

Romo menjelaskan bahwa nama Yohanes berarti “Allah adalah kasih karunia”. Dari kisah tersebut, ia mengajak para peserta untuk berani menerima identitas baru yang diberikan Tuhan.

Ia menegaskan bahwa jubah yang dikenakan para postulan bukan sekadar seragam sebuah kelompok atau komunitas religius.

“Dengan pakaian ini kalian  diharapkan mewujudkan Allah yang adalah kasih karunia dalam kehidupan sehari-hari, sehingga pakaian ini sungguh memiliki makna,” pesannya.

Perayaan juga dihadiri Sr. Marta MASF selaku Pemimpin Umum Kongregasi MASF. Setelah misa selesai, rangkaian kegiatan dilanjutkan dengan ramah tamah dan makan bersama sebagai ungkapan syukur atas perjalanan panggilan hidup para suster dan postulan yang menjalani tahapan baru dalam hidup membiara. [*]

Harap bersabar jika Anda menemukan iklan di laman ini. Iklan adalah sumber pendapatan utama kami untuk tetap dapat menyajikan berita berkualitas secara gratis.

Read Entire Article
Politik | Local| Daerah| Finance| Sport|