Dr. Ajeng Novita Sari (tengah) bersama tim promotor dan penguji berfoto seusai Ujian Tertutup Promosi Doktor di Sekolah Pascasarjana UNS Surakarta. Dalam disertasinya, Ajeng mengembangkan Model EDULITA sebagai pendekatan promosi kesehatan untuk meningkatkan kemampuan remaja dalam mencegah dan mengelola anemia | Foto: Dok. PribadiSURAKARTA, JOGLOSEMARNEWS.COM – Persoalan anemia pada remaja putri di Kota Solo masih menjadi perhatian serius. Data terkini menunjukkan prevalensi anemia pada remaja putri usia 10-18 tahun di Kota Surakarta mencapai 57,1 persen.
Tingginya angka tersebut mendorong Dr. Ajeng Novita Sari, S.SiT., M.Kes., mengembangkan sebuah model promosi kesehatan yang diharapkan dapat menjadi pendekatan baru dalam upaya pencegahan dan pengelolaan anemia pada remaja.
Model tersebut diberi nama EDULITA (Edukasi Literasi Anemia Remaja). Inovasi ini merupakan hasil penelitian selama 2 tahun 7 bulan yang melibatkan 239 siswi kelas VII SMP Negeri di Kota Surakarta.
Dalam penelitiannya, Dr. Ajeng menemukan bahwa perilaku remaja dalam mengelola anemia tidak terbentuk hanya karena mereka mendapatkan informasi mengenai anemia. Ada mekanisme yang lebih kompleks, mulai dari kemampuan individu dalam memahami informasi kesehatan hingga dukungan lingkungan di sekitar remaja.
Dr. Ajeng Novita Sari menerima vandel tanda Yudisium dari salah satu anggota tim penguji dalam rangkaian Ujian Tertutup Promosi Doktor di Sekolah Pascasarjana Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta | Foto: Dok. Pribadi“Hasil penelitian ini menunjukkan adanya tiga level utama yang berperan dalam pembentukan perilaku pengelolaan anemia,” jelasnya, seperti dikutip dalam rilis ke Joglosemarnews.
Pada level individual, keterampilan literasi kesehatan menjadi faktor penting yang memungkinkan remaja mengubah informasi yang diterima menjadi tindakan nyata. Kemampuan tersebut diperkuat oleh efikasi diri atau keyakinan terhadap kemampuan diri sendiri serta harapan terhadap hasil positif dari perilaku sehat.
Sementara pada level interpersonal, dukungan dari keluarga, teman sebaya dan tenaga kesehatan memiliki pengaruh yang cukup besar. Teman sebaya bahkan dinilai dapat menjadi agen perubahan yang efektif dalam membentuk dan mempertahankan kebiasaan sehat di kalangan remaja.
Adapun pada level komunitas, pengorganisasian melalui sekolah, Unit Kesehatan Sekolah (UKS), Palang Merah Remaja (PMR) dan posyandu remaja menjadi faktor pemungkin yang sangat penting.
Dalam penelitian tersebut, level komunitas justru memiliki pengaruh paling besar dalam mendorong perubahan perilaku remaja dalam pengelolaan anemia.
Dr. Ajeng mengatakan, perilaku pengelolaan anemia yang baik tidak hanya berdampak terhadap kondisi kesehatan fisik. Perilaku tersebut juga terbukti secara signifikan berkaitan dengan peningkatan kesejahteraan subjektif remaja.
Kesejahteraan tersebut mencakup aspek fisik, psikologis, sosial, spiritual hingga produktivitas dalam belajar.
Temuan lainnya menunjukkan bahwa pengetahuan semata belum cukup untuk mendorong remaja melakukan pengelolaan anemia secara baik. Informasi dan motivasi mengenai literasi kesehatan baru memberikan pengaruh apabila diikuti dengan keterampilan teknis yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Atas dasar temuan tersebut, Model EDULITA dirancang tidak hanya menekankan pemberian informasi, tetapi juga membangun kemampuan remaja, memperkuat dukungan sosial dan mengoptimalkan lingkungan komunitas.
Untuk penerapannya, Dr. Ajeng merekomendasikan sejumlah langkah strategis bagi para pemangku kepentingan.
Dinas Kesehatan diharapkan dapat mengadopsi model berbasis sekolah dan komunitas tersebut ke dalam standar operasional prosedur program pencegahan anemia.
Sementara puskesmas didorong mengintegrasikan distribusi Tablet Tambah Darah (TTD) dengan edukasi gizi serta skrining kadar hemoglobin (Hb) secara berkala.
Di lingkungan sekolah, revitalisasi peran UKS dan PMR diperlukan agar tidak sekadar menjadi bagian administratif sekolah, tetapi berkembang menjadi pusat promosi kesehatan yang aktif.
Dr. Ajeng Novita Sari berfoto bersama keluarga seusai menjalani Ujian Tertutup Promosi Doktor di Sekolah Pascasarjana Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta | Foto: Dok. PribadiKeluarga juga memiliki peran penting dengan menciptakan lingkungan rumah yang mendukung, termasuk menyediakan makanan yang kaya zat besi.
Di tingkat remaja, kebiasaan saling mengingatkan antarteman untuk rutin mengonsumsi TTD juga perlu dibangun sebagai bagian dari dukungan teman sebaya.
Penelitian tersebut dinilai memiliki kontribusi strategis terhadap pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 3 tentang Kesehatan dan Kesejahteraan, SDG 4 tentang Pendidikan Berkualitas dan SDG 5 tentang Kesetaraan Gender.
Model EDULITA diharapkan dapat menjadi salah satu rujukan bagi pemangku kebijakan dalam merancang intervensi kesehatan remaja yang lebih komprehensif, efektif dan berkelanjutan.
Dr. Ajeng Novita Sari merupakan dosen tetap Program Studi D3 Teknologi Bank Darah Politeknik Akbara Surakarta. Ia menyelesaikan pendidikan doktoral pada Program Doktor Penyuluhan Pembangunan/Pemberdayaan Masyarakat dalam Bidang Ilmu Promosi Kesehatan Sekolah Pascasarjana Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta.
Pendidikan doktoral tersebut diselesaikannya dalam waktu 2 tahun 7 bulan. Dalam penelitian disertasinya, Dr. Ajeng dibimbing tim promotor yang terdiri atas Prof. Dr. Endang Sutisna Sulaeman, dr., M.Kes., FISPH, FISCM; Prof. Dr. Adi Prayitno, drg., M.Kes., Sp.PMMf., Subsp. KNp.; serta Dr. Ir. Emi Widiyanti, S.P., M.Si.
Dr. Ajeng sebelumnya menempuh pendidikan D4 Kebidanan di Universitas Ngudi Waluyo Ungaran dan meraih gelar S.SiT pada 2011. Ia kemudian menyelesaikan pendidikan S2 Ilmu Kedokteran Keluarga di UNS pada 2013. [*]
Harap bersabar jika Anda menemukan iklan di laman ini. Iklan adalah sumber pendapatan utama kami untuk tetap dapat menyajikan berita berkualitas secara gratis.

4 hours ago
5

















































