JAKARTA, JOGLOSEMARNEWS.COM – Pengunduran diri Perry Warjiyo dari jabatan Gubernur Bank Indonesia (BI) menambah daftar pejabat tinggi negara yang memilih meninggalkan posisinya pada masa pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Dalam kurun waktu kurang dari dua tahun pemerintahan berjalan, sejumlah pejabat dari berbagai lembaga strategis telah lebih dulu mengundurkan diri dengan beragam alasan, mulai dari polemik di ruang publik hingga persoalan internal lembaga.
Terbaru, Perry Warjiyo resmi mengajukan pengunduran diri sebagai Gubernur Bank Indonesia pada Sabtu (25/7/2026). Namun keputusan tersebut baru diumumkan kepada publik dua hari kemudian, Senin (27/7/2026), oleh Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi di Gedung Bank Indonesia, Jakarta.
Hingga pengumuman tersebut disampaikan, belum ada penjelasan resmi mengenai alasan Perry memilih mengakhiri masa jabatannya lebih awal. Padahal, ia masih memiliki sisa masa jabatan hingga 24 Mei 2028 setelah kembali dipercaya memimpin BI untuk periode kedua sejak 24 Mei 2023.
Sebelum Perry, Kepala Badan Gizi Nasional Nanik S. Deyang juga memutuskan mundur dari jabatannya pada 22 Juli 2026. Pengunduran dirinya disebut dilatarbelakangi alasan kesehatan sehingga harus menjalani perawatan.
Nanik sendiri belum lama memimpin Badan Gizi Nasional. Ia baru dilantik pada 8 Juni 2026, sehingga masa tugasnya hanya berlangsung sekitar satu setengah bulan.
Gelombang pengunduran diri juga sempat terjadi di sektor keuangan pada 30 Januari 2026, ketika gejolak pasar modal memicu perubahan di sejumlah lembaga.
Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI), Iman Rachman, lebih dahulu melepaskan jabatannya setelah pasar saham mengalami tekanan tajam selama dua hari berturut-turut.
Beberapa jam berselang, tiga pejabat penting di Otoritas Jasa Keuangan (OJK) juga mengikuti langkah serupa. Mereka adalah Ketua Dewan Komisioner OJK Mahendra Siregar, Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon Inarno Djajadi, serta Deputi Komisioner Pengawas Emiten dan Transaksi Efek I.B. Aditya Jayaantara.
Sebelumnya, pada 19 Februari 2025, Satryo Soemantri Brodjonegoro mengundurkan diri sebagai Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendikti Saintek).
Ia mengaku memilih mundur setelah merasa kinerjanya belum memenuhi ekspektasi pemerintah.
“Utamanya karena saya sudah bekerja keras selama empat bulan ini. Namun, karena mungkin tidak sesuai harapan dari pemerintah, ya saya lebih baik mundur daripada diberhentikan,” ujar Satryo.
Nama Satryo sebelumnya sempat menjadi perhatian publik menyusul polemik terkait rotasi pegawai di lingkungan kementerian yang dipimpinnya.
Adapun pejabat pertama yang mundur pada era pemerintahan Prabowo adalah Miftah Maulana Habiburrahman atau Gus Miftah. Ia mengundurkan diri sebagai Utusan Khusus Presiden Bidang Kerukunan Beragama dan Pembinaan Sarana Keagamaan pada 6 Desember 2024.
Keputusan tersebut diambil setelah video ceramahnya yang dinilai mengolok-olok seorang pedagang es teh viral di media sosial dan menuai kritik luas dari masyarakat.
Rangkaian pengunduran diri para pejabat tersebut terjadi dengan latar belakang yang berbeda-beda. Sebagian dipicu kontroversi yang berkembang di ruang publik, sebagian lain dikaitkan dengan dinamika internal pemerintahan maupun lembaga yang mereka pimpin.
Terbaru, pengunduran diri Perry Warjiyo kembali menjadi perhatian karena terjadi di tengah sorotan terhadap kondisi perekonomian dan pasar keuangan nasional, sementara alasan pengunduran dirinya hingga kini belum diungkapkan kepada publik. [*] Disarikan dari sumber berita media daring
Harap bersabar jika Anda menemukan iklan di laman ini. Iklan adalah sumber pendapatan utama kami untuk tetap dapat menyajikan berita berkualitas secara gratis.

7 hours ago
7

















































