Lebih Dekat dengan Edy Susetyo, Kepala Lapas Kelas IIA Abepura yang Baru
Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) tak lagi dipandang sebagai tempat akhir dari perjalanan hidup seseorang, melainkan sebuah “jeda waktu” untuk belajar. Seperti sekolah, warga binaan dididik untuk mengenali kesalahan masa lalu, memperbaikinya, dan mempersiapkan diri untuk kembali ke masyarakat. Hal ini yang kini didorong Kalapas Abepura yang baru Edy Susetyo.
Laporan: Jimianus Karlodi_Jayapura
Ruangan itu tampak tenang, kontras dengan keriuhan aktivitas di luar jeruji besi yang hanya berjarak beberapa puluh meter. Di dindingnya, berjejer piagam penghargaan dan foto-foto kegiatan pembinaan. Di balik meja kayu besar, duduk seorang pria dengan seragam putih yang rapi. Senyumnya mengembang saat ia mempersilakan Cenderawasih Pos duduk.
“Selamat datang. Di sini, kami tidak hanya mengurus jeruji, tapi mengurus jiwa,” buka Edy Susetyo, Kepala Lapas (Kalapas) Kelas IIA Abepura, memulai sesi wawancara eksklusif siang itu.
Bagi Edy, ruang kerjanya bukan sekadar tempat menandatangani berkas administratif. Ruangan ini telah menjadi saksi bisu berbagai curahan hati, mulai dari petugas Lapas yang kelelahan hingga warga binaan yang mencari keadilan atau sekadar pengakuan. Sambil sesekali menegak air putih mineral, Edy mengenang masa-masa awal ia meniti karier di dunia pemasyarakatan. Ia bercerita bagaimana ia memulai semuanya dari bawah, belajar memahami psikologi orang-orang yang “terbuang” oleh masyarakat.
“Karier saya adalah perjalanan belajar tentang kesabaran. Di Lapas Abepura ini, tantangannya berbeda. Kita bicara tentang tanah Papua yang punya jati diri kuat. Anda tidak bisa memimpin hanya dengan tongkat komando; Anda harus memimpin dengan hati,” ujarnya dengan nada rendah namun mantap.
Pengalamanya di dunia permasyarakatan tidak diragukan lagi. Pria kelahiran Purwokerto, Jawa Tengah ini, diketahui pernah menjabat sebagai kepala Lapas Kelas IIA Ngaseman Nusakambangan selama bertahun-tahun, sebelum dirinya dipercaya menjadi Kelas IIA Balikpapan pada tahun 2025.
Ngaseman bukan sekadar tempat tugas bagi Edy, itu adalah ujian nyali dan integritas tertinggi dalam karier seorang abdi pemasyarakatan. Bagi Edy, ditugaskan di Nusa Kambangan artinya siap hidup dalam kesunyian yang penuh waspada.
Berbicara mengenai pengalamannya di sana, Edy mengenang bagaimana ia harus memimpin di tengah lingkungan High Risk (risiko tinggi), di mana narapidana yang dihadapi bukan sembarang orang, mulai dari kasus kejahatan sedang hingga gembong narkoba internasional.
”Di Nusakambangan, kesalahan sekecil apa pun bisa berdampak besar. Kami bekerja dengan sistem, tapi hati tetap harus terjaga agar tidak tumpul oleh keadaan,” ujar Edy sambil menatap barisan foto kenangan tugasnya di pulau tersebut.
Pada tahun 2025, karier Edy terus menanjak setelah kemudian dipercaya menjabat sebagai Kalapas Kelas IIA Balikpapan, Kalimantan Timur. Meski tidak lama berugas di Balikpapan, bagi Edy, masa kepemimpinannya disana bukan sekadar fase transisi dalam karier birokrasinya. Ini adalah masa di mana ia harus menguji seluruh teori pemasyarakatan yang ia pelajari selama puluhan tahun.
Saat pertama kali menginjakkan kaki di Lapas Balikpapan, ia dihadapkan pada tantangan klasik, overcrowding dan keterbatasan sarana. Namun, alih-alih mengeluh, Edy justru melihat celah untuk berinovasi. Sambil menunjukkan beberapa dokumen laporan kemajuan, ia bercerita bagaimana ia menekankan pentingnya transparansi.
“Saya selalu bilang ke anggota, kita ini pelayan masyarakat, termasuk melayani mereka yang ada di dalam (warga binaan). Integritas itu harga mati. Sekali kita goyah, sistem akan runtuh,” tegasnya dengan tatapan mata yang tajam namun bersahabat.
Salah satu memori paling berkesan bagi Edy di Balikpapan bukanlah saat menerima penghargaan, melainkan saat ia berhasil merangkul warga binaan melalui pendekatan personal. Ia kerap terlihat “blusukan” ke blok-blok hunian tanpa pengawalan ketat, hanya untuk sekadar menyapa dan mendengar keluhan langsung dari penghuni.
Ia mengenang sebuah momen saat seorang warga binaan yang dikenal “keras” akhirnya melunak setelah diberikan kesempatan untuk mengembangkan bakat di bengkel kerja.
“Di Balikpapan, saya belajar bahwa jeruji besi bisa mengurung raga, tapi jangan sampai mematikan kreativitas. Ketika kita memberi mereka alat pertukangan atau kesempatan bertani, kita sebenarnya sedang memberi mereka harga diri kembali,” kenang Edy.
Lebih Dekat dengan Edy Susetyo, Kepala Lapas Kelas IIA Abepura yang Baru
Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) tak lagi dipandang sebagai tempat akhir dari perjalanan hidup seseorang, melainkan sebuah “jeda waktu” untuk belajar. Seperti sekolah, warga binaan dididik untuk mengenali kesalahan masa lalu, memperbaikinya, dan mempersiapkan diri untuk kembali ke masyarakat. Hal ini yang kini didorong Kalapas Abepura yang baru Edy Susetyo.
Laporan: Jimianus Karlodi_Jayapura
Ruangan itu tampak tenang, kontras dengan keriuhan aktivitas di luar jeruji besi yang hanya berjarak beberapa puluh meter. Di dindingnya, berjejer piagam penghargaan dan foto-foto kegiatan pembinaan. Di balik meja kayu besar, duduk seorang pria dengan seragam putih yang rapi. Senyumnya mengembang saat ia mempersilakan Cenderawasih Pos duduk.
“Selamat datang. Di sini, kami tidak hanya mengurus jeruji, tapi mengurus jiwa,” buka Edy Susetyo, Kepala Lapas (Kalapas) Kelas IIA Abepura, memulai sesi wawancara eksklusif siang itu.
Bagi Edy, ruang kerjanya bukan sekadar tempat menandatangani berkas administratif. Ruangan ini telah menjadi saksi bisu berbagai curahan hati, mulai dari petugas Lapas yang kelelahan hingga warga binaan yang mencari keadilan atau sekadar pengakuan. Sambil sesekali menegak air putih mineral, Edy mengenang masa-masa awal ia meniti karier di dunia pemasyarakatan. Ia bercerita bagaimana ia memulai semuanya dari bawah, belajar memahami psikologi orang-orang yang “terbuang” oleh masyarakat.
“Karier saya adalah perjalanan belajar tentang kesabaran. Di Lapas Abepura ini, tantangannya berbeda. Kita bicara tentang tanah Papua yang punya jati diri kuat. Anda tidak bisa memimpin hanya dengan tongkat komando; Anda harus memimpin dengan hati,” ujarnya dengan nada rendah namun mantap.
Pengalamanya di dunia permasyarakatan tidak diragukan lagi. Pria kelahiran Purwokerto, Jawa Tengah ini, diketahui pernah menjabat sebagai kepala Lapas Kelas IIA Ngaseman Nusakambangan selama bertahun-tahun, sebelum dirinya dipercaya menjadi Kelas IIA Balikpapan pada tahun 2025.
Ngaseman bukan sekadar tempat tugas bagi Edy, itu adalah ujian nyali dan integritas tertinggi dalam karier seorang abdi pemasyarakatan. Bagi Edy, ditugaskan di Nusa Kambangan artinya siap hidup dalam kesunyian yang penuh waspada.
Berbicara mengenai pengalamannya di sana, Edy mengenang bagaimana ia harus memimpin di tengah lingkungan High Risk (risiko tinggi), di mana narapidana yang dihadapi bukan sembarang orang, mulai dari kasus kejahatan sedang hingga gembong narkoba internasional.
”Di Nusakambangan, kesalahan sekecil apa pun bisa berdampak besar. Kami bekerja dengan sistem, tapi hati tetap harus terjaga agar tidak tumpul oleh keadaan,” ujar Edy sambil menatap barisan foto kenangan tugasnya di pulau tersebut.
Pada tahun 2025, karier Edy terus menanjak setelah kemudian dipercaya menjabat sebagai Kalapas Kelas IIA Balikpapan, Kalimantan Timur. Meski tidak lama berugas di Balikpapan, bagi Edy, masa kepemimpinannya disana bukan sekadar fase transisi dalam karier birokrasinya. Ini adalah masa di mana ia harus menguji seluruh teori pemasyarakatan yang ia pelajari selama puluhan tahun.
Saat pertama kali menginjakkan kaki di Lapas Balikpapan, ia dihadapkan pada tantangan klasik, overcrowding dan keterbatasan sarana. Namun, alih-alih mengeluh, Edy justru melihat celah untuk berinovasi. Sambil menunjukkan beberapa dokumen laporan kemajuan, ia bercerita bagaimana ia menekankan pentingnya transparansi.
“Saya selalu bilang ke anggota, kita ini pelayan masyarakat, termasuk melayani mereka yang ada di dalam (warga binaan). Integritas itu harga mati. Sekali kita goyah, sistem akan runtuh,” tegasnya dengan tatapan mata yang tajam namun bersahabat.
Salah satu memori paling berkesan bagi Edy di Balikpapan bukanlah saat menerima penghargaan, melainkan saat ia berhasil merangkul warga binaan melalui pendekatan personal. Ia kerap terlihat “blusukan” ke blok-blok hunian tanpa pengawalan ketat, hanya untuk sekadar menyapa dan mendengar keluhan langsung dari penghuni.
Ia mengenang sebuah momen saat seorang warga binaan yang dikenal “keras” akhirnya melunak setelah diberikan kesempatan untuk mengembangkan bakat di bengkel kerja.
“Di Balikpapan, saya belajar bahwa jeruji besi bisa mengurung raga, tapi jangan sampai mematikan kreativitas. Ketika kita memberi mereka alat pertukangan atau kesempatan bertani, kita sebenarnya sedang memberi mereka harga diri kembali,” kenang Edy.


















































