Kesal Karena Bersama Israel Terseok-seok Melawan Iran
JAKARTA – Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kian memanas di tengah lonjakan harga energi global, memunculkan kekhawatiran baru soal ketahanan pasokan minyak dunia. Di saat yang sama, pernyataan keras Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, justru memicu polemik setelah ia menyindir sekutu-sekutunya terkait krisis tersebut.
Trump secara terbuka mengungkapkan kekecewaannya terhadap negara-negara sekutu yang dinilai tidak membantu upaya Amerika Serikat membuka kembali jalur strategis Selat Hormuz yang kini berada dalam kendali Iran. Dalam unggahannya di Truth Social, Trump melontarkan pernyataan yang bagi banyak orang yang mengikuti perkembangan soal perang ini bisa dianggap sebagai sinyal kekalahan dan rasa frustasi.
“Kalian harus mulai belajar berjuang sendiri. AS tidak akan selalu membantu kalian, sama seperti kalian tidak membantu kami. Iran pada dasarnya sudah dilumpuhkan. Bagian tersulit sudah selesai. Pergi dan cari minyak kalian sendiri,” kata Trump.
Pernyataan tersebut muncul di tengah narasi yang berkembang bahwa Amerika Serikat dan Israel menghadapi tekanan besar dalam konflik melawan Iran, meskipun Trump mengklaim Iran telah ‘decimated’ atau dilumpuhkan.
Komentar Trump bertepatan dengan lonjakan harga bahan bakar di Amerika Serikat. Data dari AAA menunjukkan harga rata-rata bensin nasional telah menembus USD 4,02 per galon, naik lebih dari USD 1 dibanding sebelum konflik pecah pada 28 Februari lalu.
Kenaikan ini menjadi yang tertinggi sejak 2022, bahkan mendekati level saat invasi Rusia ke Ukraina memicu krisis energi global beberapa tahun lalu. Kondisi ini memperlihatkan betapa rentannya pasar energi terhadap eskalasi konflik geopolitik. Sementara itu, situasi di lapangan terus memburuk. Iran meluncurkan serangan rudal ke berbagai wilayah di Timur Tengah sebagai respons atas serangan terbaru Israel ke Teheran.
Kesal Karena Bersama Israel Terseok-seok Melawan Iran
JAKARTA – Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kian memanas di tengah lonjakan harga energi global, memunculkan kekhawatiran baru soal ketahanan pasokan minyak dunia. Di saat yang sama, pernyataan keras Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, justru memicu polemik setelah ia menyindir sekutu-sekutunya terkait krisis tersebut.
Trump secara terbuka mengungkapkan kekecewaannya terhadap negara-negara sekutu yang dinilai tidak membantu upaya Amerika Serikat membuka kembali jalur strategis Selat Hormuz yang kini berada dalam kendali Iran. Dalam unggahannya di Truth Social, Trump melontarkan pernyataan yang bagi banyak orang yang mengikuti perkembangan soal perang ini bisa dianggap sebagai sinyal kekalahan dan rasa frustasi.
“Kalian harus mulai belajar berjuang sendiri. AS tidak akan selalu membantu kalian, sama seperti kalian tidak membantu kami. Iran pada dasarnya sudah dilumpuhkan. Bagian tersulit sudah selesai. Pergi dan cari minyak kalian sendiri,” kata Trump.
Pernyataan tersebut muncul di tengah narasi yang berkembang bahwa Amerika Serikat dan Israel menghadapi tekanan besar dalam konflik melawan Iran, meskipun Trump mengklaim Iran telah ‘decimated’ atau dilumpuhkan.
Komentar Trump bertepatan dengan lonjakan harga bahan bakar di Amerika Serikat. Data dari AAA menunjukkan harga rata-rata bensin nasional telah menembus USD 4,02 per galon, naik lebih dari USD 1 dibanding sebelum konflik pecah pada 28 Februari lalu.
Kenaikan ini menjadi yang tertinggi sejak 2022, bahkan mendekati level saat invasi Rusia ke Ukraina memicu krisis energi global beberapa tahun lalu. Kondisi ini memperlihatkan betapa rentannya pasar energi terhadap eskalasi konflik geopolitik. Sementara itu, situasi di lapangan terus memburuk. Iran meluncurkan serangan rudal ke berbagai wilayah di Timur Tengah sebagai respons atas serangan terbaru Israel ke Teheran.


















































