Fix Relate!, Dewan Pakar LDII Ini Spill Cara Bikin Anak Jadi Generasi Emas, Ngena Banget

13 hours ago 11
Anak mudaUstad KH Drs Mohammad Thoyibun SH MM saat mengisi pengajian remaja bertema “Pembinaan Generasi Penerus di Masa Kini” di Masjid Baitussubur Bulusulur Wonogiri, Minggu (24/5/2026). Dok. Panitia

WONOGIRI, JOGLOSEMARNEWS.COM – Ngebentuk generasi penerus alias generus jadi “generasi emas” ternyata nggak bisa pakai sistem instan atau mode auto jadi. Prosesnya harus dirintis sejak kecil lewat pendidikan yang terarah, humanis, dan dimulai dari lingkungan keluarga. Di tengah gempuran era digital, peran orang tua terutama ibu disebut makin krusial karena anak-anak sekarang tumbuh bareng teknologi dan dunia tanpa batas.

Hal itu disampaikan oleh Ustad KH Drs Mohammad Thoyibun SH MM saat mengisi pengajian remaja bertema “Pembinaan Generasi Penerus di Masa Kini” di Masjid Baitussubur Bulusulur Wonogiri, Minggu (24/5/2026).

Di hadapan sekitar 900 peserta mulai dari pelajar SMP hingga mahasiswa, ustaz asal Solo sekaligus Dewan Pakar Bidang Pendidikan DPP Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) itu menyoroti tantangan besar yang lagi dihadapi generasi muda sekarang, yaitu pengaruh penggunaan handphone dan dunia digital yang makin masif.

“Banyak generasi muda kita yang awalnya baik tapi kemudian bermasalah karena pengaruh android (handphone),” ungkapnya.

Kalimat itu langsung bikin relate sama realita sekarang. Nggak sedikit anak muda yang awalnya fokus, aktif, dan produktif, tapi pelan-pelan berubah karena terlalu tenggelam di dunia gadget, konten tanpa filter, sampai kebiasaan yang bikin produktivitas turun.

Menurutnya, ada tiga fondasi pendidikan yang ideal diterapkan sejak usia dini sampai dewasa agar anak tumbuh seimbang, bukan cuma pintar secara akademik tapi juga kuat mental dan akhlaknya.

✨ Tiga fase pendidikan yang disorot:

🔹 Pendidikan agama
🔹 Pendidikan formal atau keduniaan
🔹 Pendidikan karakter sebanyak 29 aspek

“Yakni pendidikan agama, formal (keduniaan) serta pendidikan karakter sebanyak 29,” kata Ustad Thoyibun

Mantan Kepala SMA 1 Surakarta tersebut menjelaskan pendidikan itu idealnya dibangun sejak PAUD, masa pra remaja, remaja hingga usia mandiri. Salah satu pola yang dinilai efektif yakni sekolah sambil mondok atau sistem boarding school agar pembentukan karakter berjalan maksimal.

Yang bikin suasana pengajian makin nyentuh, Ustad Thoyibun juga menegaskan kalau sosok ibu punya pengaruh luar biasa besar dalam perjalanan hidup anak.

“Peran dan doa ibu itu luar biasa,” tuturnya.

Pengasuh Ponpes Budi Utomo Boarding School ini lalu membagikan kisah nyata seorang mahasiswa yang menjelang ujian justru mendapat telepon dari ibunya untuk diantar ke dokter. Mahasiswa itu memilih mendampingi sang ibu dan tidak mengikuti ujian. Hasilnya di luar dugaan.

“Ee, teman sebangku dia yang ikut ujian di kampus hanya dapat C (nilai),” selorohnya setelah menjelaskan mahasiswa tersebut justru memperoleh nilai B.

Cerita itu langsung bikin banyak peserta tersenyum sekaligus mikir. Karena kadang hal yang dianggap “kehilangan kesempatan” justru bisa jadi jalan datangnya hasil yang nggak disangka.

Di sisi lain, Dewan Pakar DPP LDII itu juga menyoroti tren anak muda yang dinilai makin enggan menjalani pekerjaan berat.

“Tapi animo ke BLK tidak ada, pinginnya anak muda itu kerjanya enteng duitnya banyak,” katanya.

Ia mengungkap pihaknya pernah bekerja sama dengan Balai Latihan Kerja (BLK) untuk pelatihan keterampilan hingga peluang magang kerja luar negeri, namun minat anak muda masih minim.

Pesannya cukup deep buat generasi sekarang: HP jangan cuma dipakai buat scroll-scroll, doom scrolling, atau hal yang nggak produktif. Gadget justru bisa jadi alat cari peluang, termasuk bisnis online dan pengembangan skill.

Menutup materinya, Ustad Thoyibun juga ngajak anak muda lebih peduli lingkungan. Salah satunya lewat gerakan sederhana mengumpulkan botol air mineral bekas dari rumah.

Bahkan ia siap membeli hasil kumpulan tersebut dengan harga di atas pasaran jika terkumpul banyak. Konsep sederhana tapi punya efek ganda: lingkungan lebih bersih, sampah berkurang, dan bisa punya nilai ekonomi.

Di tengah era digital, pesan ini terasa makin relevan: generasi emas bukan dibentuk oleh teknologi semata, tapi oleh keluarga, pendidikan, karakter, dan cara memanfaatkan teknologi itu sendiri. Aris Arianto

Harap bersabar jika Anda menemukan iklan di laman ini. Iklan adalah sumber pendapatan utama kami untuk tetap dapat menyajikan berita berkualitas secara gratis.

Read Entire Article
Politik | Local| Daerah| Finance| Sport|