Geger Wonogiri! Warga Baturetno Batuk-Batuk Usai Santap Gorengan dari Minyakita Bantuan Pemerintah yang Bau Solar dan Minyak Tanah

4 hours ago 3
MinyakIlustrasi minyak goreng. Istimewa

WONOGIRI, JOGLOSEMARNEWS.COM – Program bantuan pangan yang semestinya membantu memenuhi kebutuhan pokok masyarakat justru memicu kegelisahan di sejumlah wilayah Kabupaten Wonogiri. Sejumlah warga penerima bantuan Cadangan Pangan Pemerintah (CPP) mengeluhkan kondisi minyak goreng merek Minyakita yang diterima dalam paket bantuan. Keluhan muncul setelah minyak digunakan untuk memasak dan mengeluarkan aroma tidak lazim yang disebut menyerupai bau minyak tanah hingga solar.

Sejumlah penerima bantuan dari Kecamatan Baturetno mengaku terkejut saat membuka kemasan dan menggunakan minyak goreng tersebut di dapur. Aroma menyengat yang muncul ketika minyak dipanaskan membuat sebagian warga langsung menghentikan penggunaan karena khawatir terhadap keamanan pangan yang akan dikonsumsi keluarga.

Namun tidak semua warga langsung membuang minyak itu. Beberapa penerima bantuan tetap menggunakannya untuk menggoreng lauk maupun camilan sehari-hari. Setelah makanan dikonsumsi, sejumlah warga mengaku mengalami batuk-batuk yang muncul tidak lama kemudian.

Menurut pengakuan warga, sebelumnya mereka tidak memiliki keluhan kesehatan serupa ketika menggunakan minyak goreng yang biasa dibeli di pasaran. Perbedaan kondisi itu membuat mereka menduga ada kaitan antara batuk yang dialami dengan makanan yang dimasak menggunakan minyak bantuan tersebut.

“Waktu pakai minyak goreng biasa tidak ada masalah. Setelah mencoba Minyakita bantuan yang baunya seperti minyak tanah, beberapa orang di rumah jadi batuk-batuk,” ungkap salah seorang warga yang meminta namanya dirahasiakan, Kamis (18/6/2026).

Bukan hanya dia, warga lainnya yang masih satu kecamatan mengaku mengalami hal serupa. Batuk-batuk usai mengkonsumsi makanan yang digoreng itu. Menurut dia, bukan batuk lantaran pancaroba maupun gejala flu.

Kondisi ini semakin menjadi perbincangan karena keluhan serupa muncul di sejumlah wilayah berbeda. Tidak hanya di Kecamatan Baturetno, laporan juga datang dari Kecamatan Kismantoro dan Kecamatan Giriwoyo.

Di Kecamatan Kismantoro, keluhan dilaporkan warga dari Desa Miri, Desa Gedawung, hingga Kelurahan Kismantoro. Warga mengaku baru mengetahui adanya aroma aneh setelah minyak dipanaskan untuk memasak di rumah. Saat proses pembagian bantuan berlangsung, tidak ditemukan tanda-tanda mencurigakan pada kemasan maupun isi produk.

Program bantuan CPP yang dibagikan beberapa waktu lalu berisi beras sebanyak 20 kilogram dan dua kantong Minyakita ukuran dua liter untuk setiap keluarga penerima manfaat. Bantuan tersebut diharapkan mampu membantu memenuhi kebutuhan pokok masyarakat di tengah berbagai tantangan ekonomi yang masih dirasakan sebagian warga.

Hanya saja dengan munculnya dugaan masalah kualitas minyak goreng membuat sebagian penerima bantuan memilih tidak berani menggunakannya. Bahkan ada warga yang mengaku terpaksa membuang makanan yang sudah dimasak karena aroma yang ditimbulkan dinilai berbeda dari biasanya.

Camat Kismantoro, Sularto, membenarkan adanya laporan masyarakat terkait aroma yang menyerupai minyak tanah pada Minyakita yang diterima warga melalui program bantuan pangan pemerintah.

Menurut Sularto, laporan tersebut baru muncul setelah produk digunakan oleh masyarakat di rumah masing-masing.

“Katanya saat penyaluran awal tidak tercium bau. Warga baru mengetahuinya saat hendak dikonsumsi di rumah. Pembagiannya sendiri sudah selesai pekan lalu,” jelasnya, Kamis (18/6/2026).

Fenomena serupa juga terjadi di Kecamatan Giriwoyo. Camat Giriwoyo, Sri Sundoro, mengungkapkan bahwa pihaknya menerima aduan dari warga Desa Sirnoboyo dan Desa Selomarto. Meski tidak semua penerima bantuan mengalami kondisi yang sama, laporan yang masuk dinilai cukup serius karena berkaitan langsung dengan bahan pangan yang dikonsumsi masyarakat setiap hari.

Kekhawatiran warga semakin bertambah setelah diketahui bahwa produk Minyakita yang dibagikan berasal dari perusahaan yang sebelumnya sempat menjadi perhatian publik. Berdasarkan informasi pada kemasan, minyak goreng tersebut diproduksi oleh perusahaan yang berlokasi di Kabupaten Karanganyar.

Perusahaan tersebut pernah dikaitkan dengan temuan ketidaksesuaian volume kemasan dalam operasi pengawasan yang dilakukan Satgas Pangan Polda Jawa Tengah pada tahun 2025. Meski kasus saat ini berbeda dan belum ada kesimpulan resmi mengenai kualitas produk yang dibagikan kepada warga Wonogiri, informasi tersebut turut memicu perhatian masyarakat.

Menanggapi berbagai laporan yang berkembang, Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan dan Perikanan (DKPKP) Kabupaten Wonogiri segera melakukan koordinasi dengan Perum Bulog selaku penyedia komoditas bantuan pangan pemerintah.

Pihak terkait menyatakan bahwa Bulog akan melakukan verifikasi terhadap produk yang dikeluhkan warga. Pemeriksaan dilakukan untuk memastikan penyebab munculnya aroma tidak biasa tersebut sekaligus berkoordinasi dengan produsen guna memperoleh penjelasan yang lebih lengkap.

DKPKP juga menjelaskan bahwa dalam petunjuk teknis program bantuan pangan pemerintah terdapat mekanisme penggantian apabila ditemukan komoditas yang tidak memenuhi standar kualitas maupun kuantitas yang telah ditetapkan.

Saat ini masyarakat masih menunggu hasil pemeriksaan resmi dari pihak berwenang. Warga berharap ada kejelasan mengenai kondisi minyak goreng yang telah mereka terima, sekaligus langkah cepat apabila nantinya ditemukan adanya masalah pada produk tersebut.

Kasus ini menjadi perhatian luas karena menyangkut kebutuhan pokok yang digunakan setiap hari oleh ribuan keluarga penerima bantuan. Hasil investigasi dari Bulog, pemerintah daerah, serta pihak produsen akan menjadi dasar penting dalam menentukan langkah lanjutan, termasuk kemungkinan penggantian produk bagi masyarakat yang terdampak.

Di tengah meningkatnya keresahan warga, satu pertanyaan masih terus bergema di berbagai desa di Wonogiri: mengapa minyak goreng bantuan yang seharusnya membantu kebutuhan dapur keluarga justru mengeluarkan aroma menyerupai solar dan minyak tanah saat digunakan memasak?

Jawaban atas pertanyaan itu kini ditunggu masyarakat, sembari berharap kualitas bahan pangan yang mereka terima benar-benar aman untuk dikonsumsi. Aris Arianto

Harap bersabar jika Anda menemukan iklan di laman ini. Iklan adalah sumber pendapatan utama kami untuk tetap dapat menyajikan berita berkualitas secara gratis.

Read Entire Article
Politik | Local| Daerah| Finance| Sport|