Gelar Pengabdian di Desa Sempajaya, Tim Teknik USU Ubah Limbah Sayur Menjadi Bioetanol Bertenaga Surya

17 hours ago 6

BERASTAGI, SumutPos.co– Masalah limbah pertanian di Desa Sempajaya, Kecamatan Berastagi, Kabupaten Karo, kini menemukan solusi cerdas. Tim dosen dan mahasiswa Fakultas Teknik Universitas Sumatera Utara (USU) kembali hadir melakukan gebrakan melalui program pengabdian masyarakat untuk memperkuat ekonomi sirkular desa berbasis energi terbarukan, Rabu (18/2).

Program bertajuk “Penguatan Ekonomi Sirkular Desa Sempajaya pada Produksi Bioetanol Berbasis Limbah Organik Pertanian melalui Focus Group Discussion dan Diseminasi Internasional” ini fokus menyulap limbah kentang, kubis, tomat, hingga wortel menjadi bioetanol bernilai ekonomi.

Inovasi Distilasi Tenaga Surya
Berbeda dari tahun sebelumnya, pengabdian yang diketuai oleh Ir. Rivaldi Sidabutar, S.T., M.T. ini memperkenalkan inovasi mutakhir berupa unit distilasi (penyulingan) berbasis energi surya. Teknologi ini terintegrasi dengan panel fotovoltaik dan sistem penyimpanan daya, sehingga proses produksi tidak lagi bergantung pada listrik konvensional.

Proses perakitan dan pemasangan panel surya fotovoltaik beserta sistem penyimpanan daya yang dilakukan oleh tim dosen dan mahasiswa Fakultas Teknik USU di Desa Sempajaya, Kecamatan Berastagi, Kabupaten Karo.Proses perakitan dan pemasangan panel surya fotovoltaik beserta sistem penyimpanan daya yang dilakukan oleh tim dosen dan mahasiswa Fakultas Teknik USU di Desa Sempajaya, Kecamatan Berastagi, Kabupaten Karo.

“Kami melihat tantangan utama ada pada sumber energi. Dengan panel fotovoltaik, proses penyulingan bioetanol kini lebih mandiri, hemat energi, dan berkelanjutan,” ujar Rivaldi Sidabutar saat memberikan penjelasan kepada warga.

Antusiasme Warga dan Praktik Lapangan
Tidak sekadar teori, tim yang beranggotakan pakar seperti Prof. Dr. Eng. Ir. Irvan, M.Si. dan Dr. Ir. Bambang Trisakti, M.Si., Farida Hanum, S.T., M.T., Ir. Sheylin Wimora Lumban Tobing, dan Hendrik Voice Sihombing S.T., M.T. ini mengajak warga terjun langsung dalam proses instalasi.

Empat mahasiswa S-1 Teknik USU yakni Daniel S Marbun, Muhammad Faiz Abdurrahman, Fairuz Fuad Hasibuan dan Wahyu Pramudya Syafutra, turut mendampingi warga memahami cara kerja sistem, mulai dari penyerapan sinar matahari hingga konversi menjadi daya listrik untuk alat penyulingan.

Antusiasme ini disambut baik oleh Kepala Desa Sempajaya, Meliala Purba. Ia menilai kehadiran Tim USU memberikan dampak nyata yang mudah dipahami oleh masyarakat awam. “Program ini sangat tepat sasaran. Hasilnya memuaskan dan sistemnya mudah dipahami. Kami merasa sangat terbantu dalam mendorong energi terbarukan di desa kami,” ungkap Meliala Purba.

Menuju Kemandirian Ekonomi
Melalui skema Focus Group Discussion (FGD), tim pengabdian berharap masyarakat tidak hanya menjadi penonton, tetapi mampu mengimplementasikan teknologi ini secara mandiri. Selain mengurangi beban biaya energi, produksi bioetanol dari limbah ini diproyeksikan mampu meningkatkan kesejahteraan ekonomi masyarakat setempat melalui pemanfaatan aset yang selama ini dianggap sampah.

Hasil dari program ini pun direncanakan akan didiseminasi secara internasional sebagai model percontohan ekonomi sirkular desa yang sukses mengintegrasikan riset kampus dengan kebutuhan masyarakat pedesaan. (adz)

BERASTAGI, SumutPos.co– Masalah limbah pertanian di Desa Sempajaya, Kecamatan Berastagi, Kabupaten Karo, kini menemukan solusi cerdas. Tim dosen dan mahasiswa Fakultas Teknik Universitas Sumatera Utara (USU) kembali hadir melakukan gebrakan melalui program pengabdian masyarakat untuk memperkuat ekonomi sirkular desa berbasis energi terbarukan, Rabu (18/2).

Program bertajuk “Penguatan Ekonomi Sirkular Desa Sempajaya pada Produksi Bioetanol Berbasis Limbah Organik Pertanian melalui Focus Group Discussion dan Diseminasi Internasional” ini fokus menyulap limbah kentang, kubis, tomat, hingga wortel menjadi bioetanol bernilai ekonomi.

Inovasi Distilasi Tenaga Surya
Berbeda dari tahun sebelumnya, pengabdian yang diketuai oleh Ir. Rivaldi Sidabutar, S.T., M.T. ini memperkenalkan inovasi mutakhir berupa unit distilasi (penyulingan) berbasis energi surya. Teknologi ini terintegrasi dengan panel fotovoltaik dan sistem penyimpanan daya, sehingga proses produksi tidak lagi bergantung pada listrik konvensional.

Proses perakitan dan pemasangan panel surya fotovoltaik beserta sistem penyimpanan daya yang dilakukan oleh tim dosen dan mahasiswa Fakultas Teknik USU di Desa Sempajaya, Kecamatan Berastagi, Kabupaten Karo.Proses perakitan dan pemasangan panel surya fotovoltaik beserta sistem penyimpanan daya yang dilakukan oleh tim dosen dan mahasiswa Fakultas Teknik USU di Desa Sempajaya, Kecamatan Berastagi, Kabupaten Karo.

“Kami melihat tantangan utama ada pada sumber energi. Dengan panel fotovoltaik, proses penyulingan bioetanol kini lebih mandiri, hemat energi, dan berkelanjutan,” ujar Rivaldi Sidabutar saat memberikan penjelasan kepada warga.

Antusiasme Warga dan Praktik Lapangan
Tidak sekadar teori, tim yang beranggotakan pakar seperti Prof. Dr. Eng. Ir. Irvan, M.Si. dan Dr. Ir. Bambang Trisakti, M.Si., Farida Hanum, S.T., M.T., Ir. Sheylin Wimora Lumban Tobing, dan Hendrik Voice Sihombing S.T., M.T. ini mengajak warga terjun langsung dalam proses instalasi.

Empat mahasiswa S-1 Teknik USU yakni Daniel S Marbun, Muhammad Faiz Abdurrahman, Fairuz Fuad Hasibuan dan Wahyu Pramudya Syafutra, turut mendampingi warga memahami cara kerja sistem, mulai dari penyerapan sinar matahari hingga konversi menjadi daya listrik untuk alat penyulingan.

Antusiasme ini disambut baik oleh Kepala Desa Sempajaya, Meliala Purba. Ia menilai kehadiran Tim USU memberikan dampak nyata yang mudah dipahami oleh masyarakat awam. “Program ini sangat tepat sasaran. Hasilnya memuaskan dan sistemnya mudah dipahami. Kami merasa sangat terbantu dalam mendorong energi terbarukan di desa kami,” ungkap Meliala Purba.

Menuju Kemandirian Ekonomi
Melalui skema Focus Group Discussion (FGD), tim pengabdian berharap masyarakat tidak hanya menjadi penonton, tetapi mampu mengimplementasikan teknologi ini secara mandiri. Selain mengurangi beban biaya energi, produksi bioetanol dari limbah ini diproyeksikan mampu meningkatkan kesejahteraan ekonomi masyarakat setempat melalui pemanfaatan aset yang selama ini dianggap sampah.

Hasil dari program ini pun direncanakan akan didiseminasi secara internasional sebagai model percontohan ekonomi sirkular desa yang sukses mengintegrasikan riset kampus dengan kebutuhan masyarakat pedesaan. (adz)

Read Entire Article
Politik | Local| Daerah| Finance| Sport|