MEDAN, SumutPos.co– Ada yang berbeda di ruang tunggu Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Medan Perjuangan, Kamis (26/03). Alih-alih disambut dengan wajah kaku di balik tumpukan berkas, warga yang datang justru disambut dengan senyuman hangat dan deretan stoples berisi aneka kue khas Idulfitri yang menggugah selera.
Suasana pasca-libur Lebaran yang biasanya identik dengan ketegangan administrasi dan antrean yang membosankan, disulap oleh instansi di bawah naungan Kementerian Agama ini menjadi momen silaturahmi yang penuh kehangatan.
Kepala KUA Medan Perjuangan, H. Ramlan, MA, mengungkapkan, langkah ini bukanlah sekadar basa-basi seremonial. Di balik sajian nastar dan putri salju yang tersusun rapi, terdapat filosofi pelayanan yang mendalam: memanusiakan manusia.
“Kami ingin memecahkan stigma bahwa kantor pemerintahan itu kaku dan menegangkan. Sebaliknya, kami ingin setiap tamu merasa seperti sedang berkunjung ke rumah kerabat sendiri,” ujar Ramlan sembari menyapa warga yang baru masuk.
Pria yang dikenal progresif ini tampak duduk bersahaja di sela kesibukannya. Sesekali ia mempersilakan warga mencicipi kudapan yang tersedia sebelum mereka mulai mengurus keperluan administratif.
Bagi Ramlan, pelayanan publik bukan hanya soal dokumen, melainkan tentang menyentuh sisi kemanusiaan..“Menyajikan kue Lebaran adalah cara sederhana kami agar masyarakat merasa lebih dekat. Kami ingin membangun kedekatan emosional, sehingga tidak ada lagi rasa sungkan atau canggung saat berurusan di sini,” tambahnya dengan nada rendah hati.
Visi yang diusung Ramlan sangat jelas: menjadikan KUA tempat yang nyaman, ramah, dan inklusif. Ia menegaskan bahwa setiap warga—tanpa memandang status atau tujuan kedatangannya—berhak mendapatkan perlakuan yang memuliakan. Kue-kue di atas meja itu adalah simbol bahwa pintu KUA Medan Perjuangan terbuka lebar bagi siapa saja.
Misi “manis” ini pun dijalankan dengan kompak oleh seluruh staf. Mereka tidak hanya sigap memeriksa kelengkapan dokumen pernikahan atau memberikan konsultasi keagamaan, tetapi juga luwes dalam menjamu warga. Sinergi inilah yang membuat atmosfer kantor terasa lebih hidup dan humanis.
Respon masyarakat pun sangat positif. Fatma, seorang calon pengantin yang sedang mengurus berkas pernikahan, mengaku terkejut sekaligus terkesan. “Sajian kue Lebaran ini sangat inspiratif. Saya melihat KUA hari ini adalah wajah instansi pemerintah yang dekat dan melekat kepada masyarakat. Saya berharap layanan seperti ini tidak hanya ada di momen Lebaran saja,” ungkap Fatma yang awalnya datang dengan raut wajah serius namun perlahan mencair setelah ditawari penganan kecil.
Ramlan meyakini bahwa lingkungan yang nyaman akan membuat komunikasi antara petugas dan warga berjalan lebih efektif. Masalah-masalah pelik yang dikonsultasikan warga pun diharapkan dapat diselesaikan dengan kepala dingin karena diawali dengan suasana santai.
Sore itu, KUA Medan Perjuangan memberikan pelajaran berharga bagi dunia birokrasi: bahwa profesionalisme kerja bisa berjalan beriringan dengan kehangatan tradisi. Sebuah stoples kue mungkin terlihat sederhana, namun di sana tersimpan pesan besar tentang melayani dengan hati, menjadikan urusan pemerintahan terasa jauh lebih manis dan membumi. (omi/adz)
MEDAN, SumutPos.co– Ada yang berbeda di ruang tunggu Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Medan Perjuangan, Kamis (26/03). Alih-alih disambut dengan wajah kaku di balik tumpukan berkas, warga yang datang justru disambut dengan senyuman hangat dan deretan stoples berisi aneka kue khas Idulfitri yang menggugah selera.
Suasana pasca-libur Lebaran yang biasanya identik dengan ketegangan administrasi dan antrean yang membosankan, disulap oleh instansi di bawah naungan Kementerian Agama ini menjadi momen silaturahmi yang penuh kehangatan.
Kepala KUA Medan Perjuangan, H. Ramlan, MA, mengungkapkan, langkah ini bukanlah sekadar basa-basi seremonial. Di balik sajian nastar dan putri salju yang tersusun rapi, terdapat filosofi pelayanan yang mendalam: memanusiakan manusia.
“Kami ingin memecahkan stigma bahwa kantor pemerintahan itu kaku dan menegangkan. Sebaliknya, kami ingin setiap tamu merasa seperti sedang berkunjung ke rumah kerabat sendiri,” ujar Ramlan sembari menyapa warga yang baru masuk.
Pria yang dikenal progresif ini tampak duduk bersahaja di sela kesibukannya. Sesekali ia mempersilakan warga mencicipi kudapan yang tersedia sebelum mereka mulai mengurus keperluan administratif.
Bagi Ramlan, pelayanan publik bukan hanya soal dokumen, melainkan tentang menyentuh sisi kemanusiaan..“Menyajikan kue Lebaran adalah cara sederhana kami agar masyarakat merasa lebih dekat. Kami ingin membangun kedekatan emosional, sehingga tidak ada lagi rasa sungkan atau canggung saat berurusan di sini,” tambahnya dengan nada rendah hati.
Visi yang diusung Ramlan sangat jelas: menjadikan KUA tempat yang nyaman, ramah, dan inklusif. Ia menegaskan bahwa setiap warga—tanpa memandang status atau tujuan kedatangannya—berhak mendapatkan perlakuan yang memuliakan. Kue-kue di atas meja itu adalah simbol bahwa pintu KUA Medan Perjuangan terbuka lebar bagi siapa saja.
Misi “manis” ini pun dijalankan dengan kompak oleh seluruh staf. Mereka tidak hanya sigap memeriksa kelengkapan dokumen pernikahan atau memberikan konsultasi keagamaan, tetapi juga luwes dalam menjamu warga. Sinergi inilah yang membuat atmosfer kantor terasa lebih hidup dan humanis.
Respon masyarakat pun sangat positif. Fatma, seorang calon pengantin yang sedang mengurus berkas pernikahan, mengaku terkejut sekaligus terkesan. “Sajian kue Lebaran ini sangat inspiratif. Saya melihat KUA hari ini adalah wajah instansi pemerintah yang dekat dan melekat kepada masyarakat. Saya berharap layanan seperti ini tidak hanya ada di momen Lebaran saja,” ungkap Fatma yang awalnya datang dengan raut wajah serius namun perlahan mencair setelah ditawari penganan kecil.
Ramlan meyakini bahwa lingkungan yang nyaman akan membuat komunikasi antara petugas dan warga berjalan lebih efektif. Masalah-masalah pelik yang dikonsultasikan warga pun diharapkan dapat diselesaikan dengan kepala dingin karena diawali dengan suasana santai.
Sore itu, KUA Medan Perjuangan memberikan pelajaran berharga bagi dunia birokrasi: bahwa profesionalisme kerja bisa berjalan beriringan dengan kehangatan tradisi. Sebuah stoples kue mungkin terlihat sederhana, namun di sana tersimpan pesan besar tentang melayani dengan hati, menjadikan urusan pemerintahan terasa jauh lebih manis dan membumi. (omi/adz)

15 hours ago
5

















































