Harga Minyak Dunia Sudah Turun, Pengamat UGM: Harusnya Pertamax Kembali ke Rp 12.300

3 hours ago 8
Ilustrasi SPBU. | pixabay

YOGYAKARTA, JOGLOSEMARNEWS.COM — Ketika harga minyak dunia terus bergerak turun dari level puncaknya, harga Pertamax yang masih bertahan tinggi mulai menuai pertanyaan. Sejumlah kalangan menilai kondisi tersebut tidak hanya membebani konsumen kelas menengah, tetapi juga berpotensi menambah beban subsidi pemerintah akibat meningkatnya perpindahan pengguna ke Pertalite.

Pengamat Ekonomi Energi Universitas Gadjah Mada (UGM), Fahmy Radhi, menilai pemerintah memiliki ruang yang cukup untuk menurunkan harga Pertamax seiring merosotnya harga minyak mentah dunia yang kini berada di kisaran US$ 77 per barel.

Menurut Fahmy, dasar yang digunakan pemerintah saat menaikkan harga Pertamax beberapa waktu lalu seharusnya juga menjadi acuan ketika harga minyak mengalami penurunan signifikan.

“Sangat memungkinkan dan pemerintah harus segera menurunkan harga Pertamax. Pada saat menaikkan harga Pertamax menjadi Rp 16.250 itu kan harga minyak kan di atas US$ 100. Kalau pertimbangan utamanya harga keekonomian, maka harus segera diturunkan,” ujarnya, Rabu (24/6/2026).

Ia menilai penyesuaian harga penting dilakukan untuk menjaga kemampuan belanja masyarakat, khususnya kelompok kelas menengah yang selama ini menjadi pengguna utama Pertamax.

Fahmy mengingatkan, apabila selisih harga antara Pertamax dan Pertalite terus melebar, masyarakat akan semakin terdorong beralih ke BBM bersubsidi. Kondisi itu justru berpotensi menambah tekanan terhadap anggaran negara.

“Jika pemerintah tidak menurunkan harga Pertamax, maka masyarakat akan berpindah ke Pertalite. Ini akan justru akan memperbesar atau menambah subsidi. Jadi dari kantong kanan pindah ke kantong kiri saja. Tidak meringankan beban fiskal, malah menaikkan,” katanya.

Menurutnya, kebijakan mempertahankan harga Pertamax dalam kondisi harga minyak dunia yang sudah jauh lebih rendah tidak akan memberikan keuntungan signifikan bagi negara. Sebaliknya, pemerintah justru harus menanggung konsekuensi meningkatnya konsumsi BBM subsidi.

Karena itu, Fahmy menyarankan pemerintah mempertimbangkan pengembalian harga Pertamax ke level sebelum kenaikan, yakni sekitar Rp 12.300 per liter.

Dengan harga yang lebih mendekati Pertalite, masyarakat kelas menengah dinilai akan kembali memilih Pertamax sehingga distribusi konsumsi BBM menjadi lebih seimbang.

“Dan ini kan juga menjadi tuntutan mahasiswa untuk menurunkan harga Pertamax. Paling tidak ke harga awal, supaya masyarakat bisa menggunakan Pertamax, karena selisihnya tidak banyak,” imbuhnya.

Desakan penyesuaian harga Pertamax belakangan memang semakin sering muncul seiring meredanya harga minyak global. Sejumlah pihak menilai pemerintah perlu mengevaluasi kembali kebijakan harga BBM nonsubsidi agar tetap mencerminkan kondisi pasar sekaligus menjaga daya beli masyarakat. [*] Disarikan dari sumber berita media daring

Harap bersabar jika Anda menemukan iklan di laman ini. Iklan adalah sumber pendapatan utama kami untuk tetap dapat menyajikan berita berkualitas secara gratis.

Read Entire Article
Politik | Local| Daerah| Finance| Sport|