JAKARTA, JOGLOSEMARNEWS.COM – Harapan besar pemerintah menjadikan Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) sebagai lokomotif investasi nasional mulai menuai sorotan. Di tengah berbagai persoalan ekonomi dan kebutuhan penciptaan lapangan kerja, lembaga yang digadang-gadang menjadi pengelola aset strategis negara itu dinilai belum menunjukkan hasil konkret yang benar-benar dirasakan masyarakat.
Kritik tersebut disampaikan Ketua Umum DPP Logis 08, Anshar Ilo. Organisasi relawan pendukung Prabowo-Gibran pada Pilpres 2024 itu menilai hingga kini gaung Danantara jauh lebih terdengar dibanding capaian riil yang berdampak langsung terhadap pertumbuhan ekonomi nasional.
Menurut Anshar, publik memiliki alasan kuat untuk mempertanyakan efektivitas lembaga tersebut jika belum ada kontribusi nyata yang terlihat di sektor riil.
“Kalau sampai hari ini belum ada kontribusi konkret terhadap pertumbuhan ekonomi nasional, maka publik wajar mempertanyakan apa yang sebenarnya dikerjakan oleh para petinggi Danantara. Jangan sampai hanya menjadi lembaga yang menghabiskan anggaran negara tanpa hasil. Istilah kasarnya, jangan sampai mereka makan gaji buta,” tegas Anshar Ilo kepada wartawan, Senin (11/5/2026).
Danantara sendiri diketahui dipimpin Rosan Roeslani sebagai Chief Executive Officer (CEO), Dony Oskaria sebagai Chief Operating Officer (COO), serta Pandu Patria Sjahrir yang menjabat Chief Investment Officer (CIO).
Anshar menilai keberadaan Danantara semestinya mampu bergerak lebih agresif dalam mengelola investasi strategis negara, terutama untuk mendorong pembukaan lapangan pekerjaan, memperkuat industri nasional, serta mempercepat pertumbuhan ekonomi.
Namun sejauh ini, ia mengaku belum melihat adanya proyek investasi besar maupun kebijakan strategis yang memberikan efek langsung kepada masyarakat luas.
“Danantara dibentuk dengan harapan besar untuk mengelola aset negara dan menarik investasi produktif. Tetapi sejauh ini gaungnya lebih besar daripada hasilnya. Belum terlihat langkah strategis yang mampu memberikan kontribusi signifikan bagi ekonomi nasional,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan agar Danantara tidak hanya menjadi lembaga baru dengan struktur besar dan biaya operasional tinggi tanpa ukuran keberhasilan yang jelas. Karena itu, ia meminta pemerintah melakukan evaluasi menyeluruh terhadap efektivitas lembaga tersebut.
“Presiden perlu melakukan evaluasi total. Jangan sampai harapan besar masyarakat terhadap Danantara berubah menjadi kekecewaan karena tidak ada hasil nyata,” katanya.
Lebih jauh, Anshar menegaskan Indonesia membutuhkan lembaga investasi yang benar-benar fokus menggarap sektor produktif seperti manufaktur, pangan, energi, hilirisasi, hingga pembangunan infrastruktur strategis.
“Kalau Danantara hanya sibuk mengelola aset tanpa memberikan dampak signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi dan penciptaan lapangan kerja, maka tujuan pembentukannya patut dipertanyakan,” pungkasnya. [*] Disarikan dari sumber berita media daring
Harap bersabar jika Anda menemukan iklan di laman ini. Iklan adalah sumber pendapatan utama kami untuk tetap dapat menyajikan berita berkualitas secara gratis.

4 hours ago
8


















































