DELI SERDANG, sumutpos.co– Kepatuhan minum obat menjadi salah satu faktor penting dalam keberhasilan pengobatan tuberkulosis (TBC). Pengobatan yang berlangsung dalam waktu panjang memerlukan dukungan keluarga dan masyarakat agar pasien tetap mengonsumsi obat serta menjalani pemeriksaan sesuai jadwal yang telah ditetapkan.
Untuk memperkuat dukungan tersebut, tim dosen Jurusan Farmasi Poltekkes Kemenkes Medan melaksanakan kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat di Desa Laut Dendang, Kecamatan Percut Sei Tuan, Kabupaten Deli Serdang, pada 20 Juli 2026.
Kegiatan bertajuk “Pemberdayaan Peran Masyarakat sebagai Pengawas Menelan Obat (PMO) Berbasis Teknologi: Pemanfaatan Aplikasi SINOTESIS untuk Pemantauan Kepatuhan Minum Obat Pasien TBC” tersebut diikuti oleh 60 peserta yang berasal dari unsur masyarakat, keluarga pasien, kader, dan calon Pengawas Menelan Obat (PMO).

Tim pengabdian dipimpin Zulfa Ismaniar Fauzi, SE., M.Si., dengan anggota apt. Hilda S, M.Sc., dan Masrah, M.Kes., serta melibatkan tiga mahasiswa. Kegiatan dilaksanakan melalui Program Kemitraan Masyarakat dengan dukungan kelompok masyarakat setempat sebagai mitra pelaksana.
Program ini dirancang untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat mengenai TBC sekaligus memberikan keterampilan awal dalam mendampingi pasien selama menjalani pengobatan. Peserta memperoleh edukasi mengenai penularan TBC, gejala yang perlu diperiksakan, proses pengobatan, risiko menghentikan obat sebelum waktunya, efek samping obat, serta langkah pencegahan penularan.
Dalam kegiatan tersebut, tim menekankan bahwa pasien tidak boleh menghentikan pengobatan hanya karena merasa kondisi tubuhnya telah membaik. Apabila pasien mengalami efek samping, melewatkan dosis, atau tidak hadir pada jadwal kontrol, PMO perlu membantu pasien menghubungi tenaga kesehatan dan tidak mengambil keputusan penghentian obat secara mandiri.
Selain penyampaian materi, peserta diperkenalkan dengan aplikasi Sistem Informasi dan Optimalisasi Terapi Tuberkulosis atau SINOTESIS. Aplikasi tersebut memiliki sejumlah fitur pendukung, seperti informasi mengenai TBC dan terapinya, pengingat jadwal minum obat, pencatatan jadwal kontrol, serta pemantauan keluhan atau efek samping yang dialami pasien.
Peserta mengikuti demonstrasi dan praktik terbimbing untuk memahami tahapan penggunaan fitur utama aplikasi. Pendampingan dilakukan agar teknologi tidak hanya diperkenalkan secara teoritis, tetapi juga dapat digunakan sesuai kebutuhan pasien, keluarga, dan PMO.
Aplikasi SINOTESIS ditempatkan sebagai alat pendukung dalam pemantauan pengobatan. Penggunaan aplikasi tidak menggantikan komunikasi langsung antara pasien, PMO, dan tenaga kesehatan. Data yang dimasukkan juga harus dicatat secara benar serta tetap memperhatikan kerahasiaan kondisi kesehatan pasien.
Untuk peserta yang memiliki keterbatasan perangkat, jaringan internet, atau kemampuan menggunakan aplikasi, tim turut memperkenalkan kartu pemantauan manual. Pendekatan ini dilakukan agar proses pendampingan pasien tetap berjalan dan tidak sepenuhnya bergantung pada teknologi digital.
Penguatan peran PMO dilakukan melalui kegiatan role play atau simulasi pendampingan pasien. Peserta bergantian menjalankan peran sebagai pasien dan PMO dengan beberapa contoh kasus, seperti pasien yang lupa minum obat, ingin menghentikan pengobatan karena merasa sehat, mengalami keluhan setelah minum obat, atau tidak hadir pada jadwal kontrol.
Melalui simulasi tersebut, peserta dilatih untuk menyampaikan informasi dengan benar, berkomunikasi tanpa menghakimi, memberikan dukungan kepada pasien, serta mengenali kondisi yang harus segera dilaporkan kepada tenaga kesehatan.
Evaluasi kegiatan dilakukan menggunakan kuesioner sebelum dan setelah edukasi. Pengukuran tersebut digunakan untuk menilai perubahan pengetahuan dan sikap peserta segera setelah mengikuti kegiatan. Namun, peningkatan kepatuhan pasien dan keberhasilan pengobatan dalam jangka panjang tetap memerlukan pemantauan selama masa terapi.
Pelaksanaan program diharapkan dapat menghasilkan calon PMO yang memiliki pengetahuan dan keterampilan awal dalam mendampingi pasien TBC. Kegiatan ini juga menjadi langkah untuk membangun mekanisme komunikasi yang lebih terarah antara pasien, keluarga, masyarakat, PMO, dan fasilitas pelayanan kesehatan.
Keberlanjutan program memerlukan pendampingan berkala, pemantauan penggunaan aplikasi, serta koordinasi dengan pemerintah desa dan puskesmas. Kolaborasi tersebut penting agar pemanfaatan teknologi benar-benar mendukung pelayanan kesehatan dan membantu pasien menyelesaikan pengobatan sesuai anjuran.
Melalui kegiatan pengabdian ini, Poltekkes Kemenkes Medan terus menjalankan Tri Dharma Perguruan Tinggi dengan menghadirkan edukasi dan inovasi yang dapat diterapkan langsung di tengah masyarakat. Penguatan peran masyarakat sebagai PMO diharapkan menjadi bagian dari upaya bersama dalam mendukung pengendalian TBC di Kabupaten Deli Serdang. (adz)

2 hours ago
4

















































