Tiga Nyawa Melayang, DPRD Sumut Desak Rambu dan Penerangan

7 hours ago 12

BINJAI – Gelapnya malam dan minimnya rambu di ruas jalan yang terputus akibat abrasi sungai diduga menjadi salah satu faktor yang membuat mobil Toyota All New Avanza terjun bebas ke aliran Sungai Batangserangan, Langkat. Tiga dari tujuh wisatawan asal Kota Medan tewas dalam kecelakaan maut tersebut.

Peristiwa terjadi di Dusun Titi Kurus, Desa Karya Jadi, Kecamatan Batangserangan, Sabtu (19/9/2026) sekitar pukul 19.00 WIB. Lokasi kecelakaan merupakan akses menuju kawasan Ekowisata Tangkahan yang badan jalannya sebelumnya terputus akibat terkikis aliran sungai.

Kondisi tersebut kini mendapat sorotan dari DPRD Sumatera Utara. Legislator menilai, keberadaan rambu dan penerangan sangat penting untuk memberi peringatan kepada pengguna jalan bahwa ruas tersebut tidak dapat dilalui seperti biasa.

Wakil Ketua Fraksi PAN DPRD Sumut, Rudi Alfahri Rangkuti, meminta pemerintah provinsi dan pemerintah Kabupaten Langkat berkolaborasi menghadirkan pengamanan sementara di lokasi.

“Ya, kita meminta kepada pemerintah provinsi dan kabupaten, untuk saling menguatkan untuk memasang rambu maupun penerangan di lokasi kejadian,” kata Rudi, Senin (21/9/2026).

Menurut Rudi, kecelakaan mobil terjun ke sungai tersebut bukan kali pertama terjadi. Minimnya penerangan dan rambu di sekitar lokasi dinilai membuat pengguna jalan berisiko tidak menyadari bahwa badan jalan telah terputus.

Ia pun menilai kondisi tersebut menjadi perhatian serius karena ruas jalan tersebut merupakan salah satu akses menuju kawasan wisata Tangkahan.

“Dengan kejadian tersebut, pemerintah provinsi itu seharusnya malu, karena akses ini merupakan jalur wisata menuju Ekowisata Tangkahan. Seharusnya, akses tempat pariwisata itu bagus, bukan seperti ini,” ujarnya.

Rudi mengatakan, Tangkahan tidak hanya menjadi tujuan wisatawan domestik, tetapi juga telah dikenal hingga mancanegara. Kawasan tersebut menawarkan wisata alam, termasuk pengalaman menikmati keberadaan gajah dan aliran sungai.

Karena itu, menurutnya, pemerintah daerah tidak boleh hanya menunggu penanganan jalan secara permanen. Rambu dan penerangan sementara harus segera dihadirkan untuk mencegah korban kembali berjatuhan.

“Pemerintah kabupaten juga harus tanggap dan peduli terhadap jalan yang putus itu. Sebagai yang punya wilayah, hadirkan dulu rambu dan penerangan sementara atau kolaborasi dengan pemerintah provinsi,” katanya.

Terpisah, Kepala Dinas Perhubungan Kabupaten Langkat, Arie Ramadhany, mengatakan pihaknya telah memasang rambu dan penerangan di sekitar lokasi kecelakaan. “Sudah kami pasang rambu dan penerangan,” katanya.

Namun, Arie enggan memberikan penjelasan lebih jauh terkait kondisi jalan tersebut. Ia menegaskan, ruas jalan yang mengalami kerusakan merupakan kewenangan pemerintah provinsi. “Itu jalan provinsi,” ujarnya.

Sebelumnya, kecelakaan maut terjadi ketika Toyota All New Avanza BK 1821 AGI yang membawa tujuh orang wisatawan asal Kota Medan melaju dari arah Tangkahan menuju Padangtualang.

Mobil tersebut dikemudikan Ismail Sani (40). Diduga tidak mengetahui badan jalan telah terputus akibat abrasi, kendaraan terus melaju hingga akhirnya terjun ke aliran Sungai Batangserangan.

Kondisi lokasi yang gelap, ditambah hujan yang mengguyur kawasan tersebut, membuat badan jalan yang terputus sulit dikenali pengemudi.

Tiga penumpang meninggal dunia dalam kecelakaan itu. Mereka masing-masing Adit (20), Egi (18), dan Hasbi (25). Sementara Ismail Sani (40), M Iqbal Al-Fahri (26), dan Johan Tantawi (32) mengalami luka ringan. Sedangkan Nadin (18) mengalami luka berat dan mendapat penanganan medis. Seluruh korban diketahui merupakan warga Kota Medan. (ted/ila)

BINJAI – Gelapnya malam dan minimnya rambu di ruas jalan yang terputus akibat abrasi sungai diduga menjadi salah satu faktor yang membuat mobil Toyota All New Avanza terjun bebas ke aliran Sungai Batangserangan, Langkat. Tiga dari tujuh wisatawan asal Kota Medan tewas dalam kecelakaan maut tersebut.

Peristiwa terjadi di Dusun Titi Kurus, Desa Karya Jadi, Kecamatan Batangserangan, Sabtu (19/9/2026) sekitar pukul 19.00 WIB. Lokasi kecelakaan merupakan akses menuju kawasan Ekowisata Tangkahan yang badan jalannya sebelumnya terputus akibat terkikis aliran sungai.

Kondisi tersebut kini mendapat sorotan dari DPRD Sumatera Utara. Legislator menilai, keberadaan rambu dan penerangan sangat penting untuk memberi peringatan kepada pengguna jalan bahwa ruas tersebut tidak dapat dilalui seperti biasa.

Wakil Ketua Fraksi PAN DPRD Sumut, Rudi Alfahri Rangkuti, meminta pemerintah provinsi dan pemerintah Kabupaten Langkat berkolaborasi menghadirkan pengamanan sementara di lokasi.

“Ya, kita meminta kepada pemerintah provinsi dan kabupaten, untuk saling menguatkan untuk memasang rambu maupun penerangan di lokasi kejadian,” kata Rudi, Senin (21/9/2026).

Menurut Rudi, kecelakaan mobil terjun ke sungai tersebut bukan kali pertama terjadi. Minimnya penerangan dan rambu di sekitar lokasi dinilai membuat pengguna jalan berisiko tidak menyadari bahwa badan jalan telah terputus.

Ia pun menilai kondisi tersebut menjadi perhatian serius karena ruas jalan tersebut merupakan salah satu akses menuju kawasan wisata Tangkahan.

“Dengan kejadian tersebut, pemerintah provinsi itu seharusnya malu, karena akses ini merupakan jalur wisata menuju Ekowisata Tangkahan. Seharusnya, akses tempat pariwisata itu bagus, bukan seperti ini,” ujarnya.

Rudi mengatakan, Tangkahan tidak hanya menjadi tujuan wisatawan domestik, tetapi juga telah dikenal hingga mancanegara. Kawasan tersebut menawarkan wisata alam, termasuk pengalaman menikmati keberadaan gajah dan aliran sungai.

Karena itu, menurutnya, pemerintah daerah tidak boleh hanya menunggu penanganan jalan secara permanen. Rambu dan penerangan sementara harus segera dihadirkan untuk mencegah korban kembali berjatuhan.

“Pemerintah kabupaten juga harus tanggap dan peduli terhadap jalan yang putus itu. Sebagai yang punya wilayah, hadirkan dulu rambu dan penerangan sementara atau kolaborasi dengan pemerintah provinsi,” katanya.

Terpisah, Kepala Dinas Perhubungan Kabupaten Langkat, Arie Ramadhany, mengatakan pihaknya telah memasang rambu dan penerangan di sekitar lokasi kecelakaan. “Sudah kami pasang rambu dan penerangan,” katanya.

Namun, Arie enggan memberikan penjelasan lebih jauh terkait kondisi jalan tersebut. Ia menegaskan, ruas jalan yang mengalami kerusakan merupakan kewenangan pemerintah provinsi. “Itu jalan provinsi,” ujarnya.

Sebelumnya, kecelakaan maut terjadi ketika Toyota All New Avanza BK 1821 AGI yang membawa tujuh orang wisatawan asal Kota Medan melaju dari arah Tangkahan menuju Padangtualang.

Mobil tersebut dikemudikan Ismail Sani (40). Diduga tidak mengetahui badan jalan telah terputus akibat abrasi, kendaraan terus melaju hingga akhirnya terjun ke aliran Sungai Batangserangan.

Kondisi lokasi yang gelap, ditambah hujan yang mengguyur kawasan tersebut, membuat badan jalan yang terputus sulit dikenali pengemudi.

Tiga penumpang meninggal dunia dalam kecelakaan itu. Mereka masing-masing Adit (20), Egi (18), dan Hasbi (25). Sementara Ismail Sani (40), M Iqbal Al-Fahri (26), dan Johan Tantawi (32) mengalami luka ringan. Sedangkan Nadin (18) mengalami luka berat dan mendapat penanganan medis. Seluruh korban diketahui merupakan warga Kota Medan. (ted/ila)

Read Entire Article
Politik | Local| Daerah| Finance| Sport|