Foto sebatas ilustrasi. Ibu-ibu pengupas bawang di Ngadirojo, Wonogiri ini bisa bercengkerama namun tetap produktif dan dapat untung | Foto: Dok. Joglosemarnews.comSOLO, JOGLOSEMARNEWS.COM – Pernyataan pidato siden Prabowo Subianto mengenai upah seorang buruh pengupas bawang sebesar Rp 700.000 per kilogram menuai tanda tanya. Angka tersebut kini ramai diperbincangkan di media sosial dan bahkan memantik respons berbeda dari buruh pengupas bawang di Pasar Legi, Kota Solo.
Salah seorang buruh pengupas bawang di Pasar Legi, Gini (53), mengaku kaget ketika mendengar angka Rp 700.000 per kilogram disebut Presiden dalam pidato kenegaraan di Kompleks Parlemen, Jakarta, Jumat (14/8/2026).
Menurut dia, pola pembayaran buruh pengupas bawang di Pasar Legi sama sekali tidak menggunakan hitungan per kilogram.
Ia mengatakan para buruh dibayar berdasarkan jumlah karung bawang yang berhasil dikupas. Nilainya pun jauh berbeda dari angka yang disampaikan Prabowo.
“Pasar mana itu? Tidak mungkin. Kalau di Solo ini hitungannya bukan satu kilogram. Tetapi satu karung krawang. Jadi hitungannya satu karung krawang itu Rp10 ribu, bukan kiloan,” kata Gini, Sabtu (15/8/2026).
Gini bahkan menunjukkan karung krawang yang biasa digunakan untuk mengangkut bawang di kawasan Pasar Legi.
Menurut dia, satu karung tersebut dapat memuat lebih dari 20 kilogram bawang. Namun, upah yang diterima buruh untuk mengupas seluruh isi karung tersebut hanya Rp 10.000.
“Satu karung ini isinya kurang lebih 20 kilo lebih. Tidak ada per kilo di sini, jadi satu karung seperti ini Rp 10.000,” ujarnya.
Kesaksian tersebut membuat pernyataan mengenai upah Rp 700.000 per kilogram menjadi semakin menarik untuk dicermati. Sebab, jika pola pembayaran di Pasar Legi menjadi gambaran, buruh justru menerima bayaran berdasarkan satu karung, bukan berat setiap kilogram bawang yang dikupas.
Gini sendiri mengatakan dirinya selama ini khusus mengupas bawang putih. Ia belum mengetahui apakah buruh yang mengupas bawang merah mendapatkan sistem pembayaran yang berbeda.
“Kalau bawang merah saya kurang tahu. Kemungkinan juga sama. Saya cuma bawang putih saja ngupasnya,” katanya.
Pekerjaan itu sudah dijalani Gini sekitar tiga tahun. Setiap hari ia datang ke Pasar Legi dan mengambil karung bawang dari gudang untuk kemudian dibawa ke tempat pengupasan.
Tidak ada sistem pemanggilan khusus bagi para pekerja. Para buruh datang sendiri ke pasar dan mencari pekerjaan yang tersedia.
“Semua pengupas bawang di sini harganya sama, Rp10 ribu per karung,” jelasnya.
Dalam sehari, Gini mengaku biasanya mampu menyelesaikan sekitar tiga karung. Dengan tarif Rp 10.000 untuk setiap karung, penghasilannya dari pekerjaan mengupas bawang sekitar Rp 30.000 sehari.
Jumlah tersebut tentu sangat jauh jika dibandingkan dengan angka Rp 700.000 per kilogram yang disebut Prabowo dalam pidatonya.
Dalam pidato tersebut, Prabowo memang menyebut seorang buruh harian pengupas bawang bernama Susanah dari Kabupaten Bogor. Susanah disebut menerima upah sekitar Rp 700.000 per kilogram.
“Hadir bersama kita Ibu Susanah dari Kabupaten Bogor. Ia bekerja sebagai buruh harian mengupas bawang dengan upah sekitar Rp 700.000 per kilogram. Program Keluarga Harapan dan Program Sembako membantu menjaga pendidikan anak-anaknya,” ujar Prabowo.
Pernyataan itu kemudian menjadi bahan perbincangan luas setelah potongan video pidato Presiden beredar di media sosial.
Sorotan terutama mengarah pada kewajaran angka tersebut dan bagaimana sistem pembayaran buruh pengupas bawang sebenarnya berlangsung di lapangan.
Istana Kepresidenan pun belum memberikan penjelasan rinci mengenai angka tersebut.
Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi mengatakan pemerintah akan mengecek kembali data yang disampaikan Presiden.
“Nanti kita cek ya,” ujar Prasetyo Hadi di Istana Negara, Jakarta, Sabtu (15/8/2026).
Prasetyo menegaskan pemerintah akan menelusuri detail angka yang dibacakan dalam pidato tersebut.
“Kalau detailnya kita cek,” pungkasnya.
Dengan demikian, angka Rp 700.000 per kilogram yang disampaikan dalam pidato Presiden masih menunggu verifikasi pemerintah. Sementara di Pasar Legi Solo, kesaksian seorang buruh menunjukkan gambaran yang berbeda: Rp 10.000 per karung dengan isi lebih dari 20 kilogram, atau sekitar Rp 30.000 untuk tiga karung yang mampu diselesaikannya dalam sehari. [*] Disarikan dari sumber berita media daring
Harap bersabar jika Anda menemukan iklan di laman ini. Iklan adalah sumber pendapatan utama kami untuk tetap dapat menyajikan berita berkualitas secara gratis.

1 day ago
16
















































