WONOGIRI, JOGLOSEMARNEWS.COM — Kawasan hutan di Wonogiri kini dilirik bukan hanya sebagai ruang konservasi, tetapi juga sebagai lahan produktif yang bisa menghasilkan nilai ekonomi. Perum Perhutani KPH Surakarta menawarkan kerja sama pemanfaatan lahan di bawah tegakan pinus untuk pengembangan kopi robusta dan nilam dengan luas mencapai ratusan hektare.
Peluang tersebut dibahas saat jajaran Perhutani KPH Surakarta bertemu Pemerintah Kabupaten Wonogiri di Kantor Kabupaten Wonogiri, Senin (24/8/2026).
Bagi Wonogiri, tawaran ini menarik karena lahan yang disiapkan berada pada ketinggian sekitar 130-141 meter di atas permukaan laut (mdpl). Karakter wilayah tersebut dinilai sesuai untuk pengembangan kopi robusta dan tanaman nilam.
Administratur Perhutani KPH Surakarta, Agus Supriyanto, mengatakan kerja sama tersebut merupakan bagian dari upaya mengoptimalkan kawasan hutan tanpa mengabaikan prinsip kelestarian.
“Peluang kerja sama ini diarahkan untuk mengoptimalkan pemanfaatan kawasan hutan secara berkelanjutan, sekaligus memberikan nilai tambah ekonomi bagi masyarakat dan mitra,” kata Agus.
Konsepnya bukan sekadar membuka lahan untuk budidaya. Perhutani menawarkan pola kemitraan yang melibatkan masyarakat dan mitra usaha sehingga kawasan hutan dapat memberikan manfaat ekonomi dengan tetap mempertahankan fungsi ekologisnya.
Bupati Wonogiri, Setyo Sukarno, menyambut peluang tersebut. Menurutnya, pengembangan kopi dan nilam bisa menjadi ruang baru untuk memperkuat kerja sama antara pemerintah daerah, Perhutani, masyarakat hingga dunia usaha.
“Pengembangan kopi dan nilam ini diharapkan tidak hanya memanfaatkan lahan, tetapi juga menciptakan aktivitas ekonomi baru dan membuka kesempatan kerja bagi masyarakat sekitar hutan,” ujar Setyo Sukarno.
Ratusan Hektare di Wonogiri, Lima Kawasan Ditawarkan
Dalam pemetaan Perhutani KPH Surakarta, peluang pengembangan komoditas tersebut tidak hanya berada di Wonogiri. Sedikitnya terdapat lima kawasan yang masuk dalam penawaran kerja sama.
✓ Wonogiri: 73 hektare, ketinggian 130-141 mdpl, cocok untuk kopi robusta dan nilam.
✓ Baturetno: 111 hektare, dengan 1,5 hektare di antaranya telah berjalan, cocok untuk kopi robusta dan nilam.
✓ Lawu Selatan: berada pada ketinggian 200-700 mdpl, dengan pengembangan yang telah berjalan sekitar 51 hektare.
✓ Purwantoro: berada pada ketinggian 210-1.275 mdpl, dengan sekitar 9,5 hektare telah berjalan. Kawasan ini berpotensi untuk kopi arabika, robusta dan nilam.
✓ Lawu Utara: memiliki potensi 115 hektare, dengan rencana pengembangan awal sekitar 20 hektare. Ketinggiannya mencapai 685-2.400 mdpl sehingga sesuai untuk kopi arabika dan nilam.
Dari tiga komoditas yang ditawarkan, karakter produksinya juga berbeda. Kopi arabika optimal dikembangkan pada ketinggian 1.000-2.000 mdpl dengan mulai berproduksi sekitar tiga tahun dan memiliki daur hidup hingga 20 tahun.
Sementara kopi robusta lebih cocok pada ketinggian 100-600 mdpl. Tanaman ini mulai berproduksi sekitar tiga tahun dan dapat memiliki daur hidup hingga 20 tahun.
Adapun nilam menawarkan siklus yang jauh lebih cepat. Tanaman ini dapat dipanen mulai sekitar 6-8 bulan dan memiliki daur hidup sekitar tiga tahun. Kondisi tersebut membuat nilam berpotensi menjadi komoditas yang lebih cepat menghasilkan dibandingkan tanaman kopi.
Bukan Sekadar Tanam, Ada Skema Bagi Hasil
Perhutani menyiapkan pola kerja sama dengan mekanisme fixed sharing dan variable sharing. Jangka waktu kerja sama berada pada rentang dua hingga lima tahun.
Untuk kegiatan bernilai komersial, kerja sama dapat dilakukan melalui mekanisme penunjukan langsung sesuai ketentuan yang berlaku.
Model tersebut membuka peluang bagi badan usaha, koperasi maupun BUMD untuk ikut masuk dalam pengembangan komoditas di kawasan hutan.
Bagi masyarakat sekitar hutan, peluang paling besar berada pada terciptanya aktivitas ekonomi baru. Mulai dari penyiapan lahan, penanaman, pemeliharaan, pemanenan hingga kegiatan pascapanen berpotensi membutuhkan tenaga kerja lokal.
Jika dikembangkan secara konsisten, kopi dan nilam tidak hanya menjadi tanaman sela di bawah tegakan pinus. Keduanya berpotensi berkembang menjadi bagian dari rantai ekonomi baru di kawasan hutan Wonogiri.
Namun, pengembangan tetap harus mempertimbangkan kesesuaian komoditas, kondisi lahan dan daya dukung lingkungan. Prinsipnya, aktivitas ekonomi tidak boleh mengorbankan fungsi utama kawasan hutan.
Perhutani menempatkan pengelolaan hutan lestari, kepentingan masyarakat dan tata kelola perusahaan yang baik sebagai bagian dari landasan kerja sama tersebut.
Dengan luas lahan yang ditawarkan dan karakter komoditas yang relatif sesuai, ratusan hektare kawasan hutan di Wonogiri kini memiliki peluang baru untuk menghasilkan nilai ekonomi. Tantangannya adalah bagaimana peluang tersebut diterjemahkan menjadi kemitraan yang benar-benar produktif, melibatkan masyarakat dan memberikan manfaat jangka panjang tanpa mengganggu kelestarian hutan. Aris Arianto
Harap bersabar jika Anda menemukan iklan di laman ini. Iklan adalah sumber pendapatan utama kami untuk tetap dapat menyajikan berita berkualitas secara gratis.

1 hour ago
3


















































