Prof. Dr. Chrismis Novalinda Ginting, M.Kes memaparkan tentang transformasi sistem kesehatan menuju pelayanan yang inklusif, preventif dan berkelanjutan pada kegiatan pemecahan Rekor Muri seminar jumlah peserta terbanyak di Indonesia mencapai 58 ribu peserta.
Seminar secara hybrid (offline dan online) ini dilaksanakan Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDikti) Wilayah I, pekan lalu. Terdapat sepuluh pemateri seminar yang terkemuka dari kalangan perguruan tinggi swasta di Sumut dari ’10 pohon ilmu’ jadi pembicara seminar tersebut.
Prof. Dr. Chrismis Novalinda Ginting, M.Kes yang juga rektor Universitas Prima Indonesia (Unpri) mengingatkan bahwa kesehatan adalah investasi masa depan peradaban bangsa. “Modal dasar (human capital investment). Kesehatan sebagai fondasi kesejahteraan sosial. Investasi jangka panjang pada peradaban yang melahirkan generasi produktif, kreatif dan kompetitif global,” sebutnya.
Rektor Unpri mengutarakan bahwa pergeseran paradigma sistem kesehatan nasional serta paradoks inklusivitas dan tantangan geografis Sumut. “Hambatan struktural. Distribusi geografis: fasilitas terpusat diperkotaan. Akses transportasi: infrastruktur fisik menunda penanganan darurat. Kesenjangan digital: kesulitan mengakses informasi valid,” katanya.
Dirinci juga tentang transformasi digital sebagai saraf pusat pelayanan kesehatan. Ekosistem digital health (konektivitas, efisiensi dan berbasis data). Dikupas juga tentang kecerdasan buatan (AI): presisi pada skala besar serta telemedicine: akses menembus batas geografis dan akses kesehatan tanpa batas.
Prof. Dr. Chrismis Novalinda Ginting, M.Kes juga membedah tentang siklus ketahanan sistem kesehatan. Demikian pula integrasi data dan literasi kesehatan masyarakat serta keterbatasan sektor tinggal mendorong kolaborasi lintas sektor.
Rektor Unpri juga menerangkan ekosistem quadruple helix mewujudkan co-creation kesehatan yakni pemerintah (regulator), masyarakat (co-creator), akademisi (inovator) dan industri (implementator).
“Perguruan tinggi sebagai nukleus inovasi kesehatan sebagai pusat riset berbasis kebutuhan (menghasilkan bukti ilmiah sebagai fondasi kebijakan publik yang presisi) dan pencetak talenta masa depan (mendidik tenaga medis yang tidak hanya kuat secara klinis, tetapi melek teknologi digital dan bertindak sebagai edukator).
Perguruan tinggi sebagai inkubator inovasi teknologi (mendorong pengembangan alat diagnostik lokal, aplikasi AI dan solusi digital health) serta agen pengabdian masyarakat (terjun langsung meningkatkan literasi kesehatan, mengubah perilaku dan memberdayakan komunitas akar rumput).
Prof. Dr. Chrismis Novalinda Ginting, M.Kes merinci cetak biru strategis pemangku kepentingan. Pemerintah prioritaskan anggaran pada program promotif dan preventif serta membangun infrastruktur telemedicine nasional dan integrasi rekam medis real-time. Sedangkan sektor swasta dan industri melakukan investasi pada inovasi digital health yang terjangkau dan menerapkan Public Private Partnership (PPP) demi pemerataan aksesibilitas.
Perguruan tinggi, lanjutnya, memimpin riset inovasi AI diagnostik lokal serta revolusi kurikulum menghasilkan tenaga kesehatan yang melek digital dan komunikator ulung. Sedangkan tenaga kesehatan beralih fungsi ganda sebagai agen perubahan perilaku dan masyarakat proaktif memanfaatkan teknologi untuk pencegahan.
Rektor Unpri menegaskan peran strategis perguruan tinggi sebagai motor penggerak riset (mengembangkan solusi berbasis kebutuhan nyata masyarakat) dan sebagai inovasi teknologi (menciptakan ekosistem inovasi untuk digital health dan AI diagnosis).
Kemudian pengabdian masyarakat (meningkatkan literasi kesehatan masyarakat untuk mewujudkan perilaku proaktif dan preventif) serta jembatan implementasi (menghubungkan teori akademik dengan kebijakan kesehatan publik berbasis bukti).
“Membangun fondasi peradaban yang tangguh. Sistem kesehatan yang inklusif, preventif dan didorong teknologi bukanlah sekadar peningkatan layanan medis. Ini adalah komitmen etis kita. Sebuah lompatan evolusi menuju peradaban bangsa yang adaptif, berkeadilan dan tak tergoyahkan oleh krisis di masa depan. Investasi pada kesehatan hari ini adalah jaminan kejayaan generasi esok,” tegas Prof. Dr. Chrismis Novalinda Ginting, M.Kes. (dmp)
Prof. Dr. Chrismis Novalinda Ginting, M.Kes memaparkan tentang transformasi sistem kesehatan menuju pelayanan yang inklusif, preventif dan berkelanjutan pada kegiatan pemecahan Rekor Muri seminar jumlah peserta terbanyak di Indonesia mencapai 58 ribu peserta.
Seminar secara hybrid (offline dan online) ini dilaksanakan Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDikti) Wilayah I, pekan lalu. Terdapat sepuluh pemateri seminar yang terkemuka dari kalangan perguruan tinggi swasta di Sumut dari ’10 pohon ilmu’ jadi pembicara seminar tersebut.
Prof. Dr. Chrismis Novalinda Ginting, M.Kes yang juga rektor Universitas Prima Indonesia (Unpri) mengingatkan bahwa kesehatan adalah investasi masa depan peradaban bangsa. “Modal dasar (human capital investment). Kesehatan sebagai fondasi kesejahteraan sosial. Investasi jangka panjang pada peradaban yang melahirkan generasi produktif, kreatif dan kompetitif global,” sebutnya.
Rektor Unpri mengutarakan bahwa pergeseran paradigma sistem kesehatan nasional serta paradoks inklusivitas dan tantangan geografis Sumut. “Hambatan struktural. Distribusi geografis: fasilitas terpusat diperkotaan. Akses transportasi: infrastruktur fisik menunda penanganan darurat. Kesenjangan digital: kesulitan mengakses informasi valid,” katanya.
Dirinci juga tentang transformasi digital sebagai saraf pusat pelayanan kesehatan. Ekosistem digital health (konektivitas, efisiensi dan berbasis data). Dikupas juga tentang kecerdasan buatan (AI): presisi pada skala besar serta telemedicine: akses menembus batas geografis dan akses kesehatan tanpa batas.
Prof. Dr. Chrismis Novalinda Ginting, M.Kes juga membedah tentang siklus ketahanan sistem kesehatan. Demikian pula integrasi data dan literasi kesehatan masyarakat serta keterbatasan sektor tinggal mendorong kolaborasi lintas sektor.
Rektor Unpri juga menerangkan ekosistem quadruple helix mewujudkan co-creation kesehatan yakni pemerintah (regulator), masyarakat (co-creator), akademisi (inovator) dan industri (implementator).
“Perguruan tinggi sebagai nukleus inovasi kesehatan sebagai pusat riset berbasis kebutuhan (menghasilkan bukti ilmiah sebagai fondasi kebijakan publik yang presisi) dan pencetak talenta masa depan (mendidik tenaga medis yang tidak hanya kuat secara klinis, tetapi melek teknologi digital dan bertindak sebagai edukator).
Perguruan tinggi sebagai inkubator inovasi teknologi (mendorong pengembangan alat diagnostik lokal, aplikasi AI dan solusi digital health) serta agen pengabdian masyarakat (terjun langsung meningkatkan literasi kesehatan, mengubah perilaku dan memberdayakan komunitas akar rumput).
Prof. Dr. Chrismis Novalinda Ginting, M.Kes merinci cetak biru strategis pemangku kepentingan. Pemerintah prioritaskan anggaran pada program promotif dan preventif serta membangun infrastruktur telemedicine nasional dan integrasi rekam medis real-time. Sedangkan sektor swasta dan industri melakukan investasi pada inovasi digital health yang terjangkau dan menerapkan Public Private Partnership (PPP) demi pemerataan aksesibilitas.
Perguruan tinggi, lanjutnya, memimpin riset inovasi AI diagnostik lokal serta revolusi kurikulum menghasilkan tenaga kesehatan yang melek digital dan komunikator ulung. Sedangkan tenaga kesehatan beralih fungsi ganda sebagai agen perubahan perilaku dan masyarakat proaktif memanfaatkan teknologi untuk pencegahan.
Rektor Unpri menegaskan peran strategis perguruan tinggi sebagai motor penggerak riset (mengembangkan solusi berbasis kebutuhan nyata masyarakat) dan sebagai inovasi teknologi (menciptakan ekosistem inovasi untuk digital health dan AI diagnosis).
Kemudian pengabdian masyarakat (meningkatkan literasi kesehatan masyarakat untuk mewujudkan perilaku proaktif dan preventif) serta jembatan implementasi (menghubungkan teori akademik dengan kebijakan kesehatan publik berbasis bukti).
“Membangun fondasi peradaban yang tangguh. Sistem kesehatan yang inklusif, preventif dan didorong teknologi bukanlah sekadar peningkatan layanan medis. Ini adalah komitmen etis kita. Sebuah lompatan evolusi menuju peradaban bangsa yang adaptif, berkeadilan dan tak tergoyahkan oleh krisis di masa depan. Investasi pada kesehatan hari ini adalah jaminan kejayaan generasi esok,” tegas Prof. Dr. Chrismis Novalinda Ginting, M.Kes. (dmp)

8 hours ago
5

















































