Pascasarjana Universitas Medan Area (UMA) menggelar diskusi panel Pengembangan Wilayah Berbasis Komoditas Unggulan: Integrasi Perkebunan Presisi dan Manajemen Rantai Pasok Pisang Kepok. Diskusi panel digelar di Ruang Ujian Terbuka Lantai 3 MA-DIP Kampus UMA, Sabtu (25/7).
Diskusi panel menghadirkan Bupati Mandailingnatal H. Saipullah Nasution, S.H, M.M sebagai keynote speaker. Kegiatan ini juga diikuti Rektor UMA Prof. Dr. Dadan Ramdan, M.Eng, M.Sc, Direktur Pascasarjana UMA Prof. Dr. Ir. Retna Astuti Kuswardani, MS serta Ketua Program Studi Doktor Pertanian dan Magister Agribisnis UMA Prof. Ir. Zulkarnain Lubis, MS, Ph.D.
Tiga panelis pada diskusi panel yang diikuti sivitas akademika Pascasarjana UMA ini adalah Guru Besar Ekonomi Pertanian dan Agribisnis USU Prof. Dr. Ir. Satia Negara Lubis, M.Ec, Guru Besar Agroteknologi UMA Prof. Dr. Ir. Suswati, MP dan Bisnis Eksport Hortikultura yang juga mahasiswa Pascasarjana UMA Mitra Sembiring, S.Pd.
H. Saipullah Nasution, S. H, M.M menjabarkan kebijakan Pemkab Mandailingnatal dalam mengakomodasi isu terkini pertanian dan investasi komoditas lokal. Demikian juga rencana revitalisasi komoditas pisang kepok mandailing (musa paradisiaca) yang pernah menjadi produk unggulan di kabupaten tersebut.
Mengapa pisang kepok? Bupati yang pernah menjabat Kakanwil Ditjen Bea Cukai di Kalimantan Barat dan Jawa Barat ini menyebut terdapat kesesuaian lahan agro klimat ideal untuk pisang kepok yang tumbuh optimal di iklim tropis dengan curah hujan dan suhu yang mendukung.
Mantan direktur Keberatan Banding dan Peraturan Ditjen Bea Cukai yang lahir di Gunung Baringin pada 30 September 1961 ini juga menjelaskan bahwa terdapat budaya lokal dan keahlian turun temurun dalam bertanam pisang. Didukung pengalaman petani lokal menjadi kekuatan dalam kualitas dan konsistensi.
Selain itu, kata alumni S1 Universitas 17 Agustus Surabaya dan S2 Universitas Bhayangkara Jakarta, Mandailingnatal memiliki ketersediaan lahan yang luas dan potensi tumpang sari pada perkebunan. Lahan tersedia dan cocok untuk sistem tumpang sari demi hasil yang berkelanjutan.
H. Saipullah Nasution, S.H, M.M juga memaparkan berbagai upaya untuk pengembangan pisang kepok mandailing secara berkelanjutan. Diantaranya monitoring, evaluasi lahan dan pengambilan sampel tanah lokasi yang direncanakan untuk memastikan kesesuaian lahan dan kualitas tanah dalam mendukung produktivitas pisang kepok.
Upaya lain adalah pembuatan kebun percontohan di Desa Hutatonga Kecamatan Panyabungan Barat sebagai model kebun pisang kepok yang dapat menjadi contoh dan pusat pembelajaran bagi petani. Selanjutnya juga dilakukan penelitian kesesuaian bibit dan perlakuan tanah untuk meningkatkan hasil dan kualitas produksi.
Bupati optimis program ini bermanfaat untuk penguatan ekonomi lokal, peningkatan produktivitas, dukungan untuk petani lokal dan investasi berkelanjutan.
Untuk itu, lanjutnya, diperlukan transformasi budidaya modern sebagai upaya bersama untuk membangun Mandailingnatal menuju daerah yang maju, mandiri dan sejahtera. Sinergi dan kolaborasi ini diharapkan terwujud Mandailingnatal sebagai sentra pisang kepok unggulan yang berdaya saing dan berkelanjutan serta menyejahterakan petani.
“Hulu dengan penggunaan bibit kultur jaringan yang bebas penyakit, penerapan food agricultural practices dan pembentukan food estate lokal (zonasi lokasi produksi). Hilir dengan menciptakan nilai tambah, tepung pisang, kripik dan pakan ternak serta suplay ke pasar modern dan orientasi ekspor,” kata bupati didampingi asisten Setdakab beserta kepala dinas pendidikan dan kepala dinas pendidikan Mandailingnatal.
Rektor UMA Prof. Dr. Dadan Ramdan, M.Eng, M.Sc saat membuka acara mengapresiasi dan berterima kasih atas kehadiran bupati Mandailingnatal, panelis beserta peserta diskusi panel yang sangat penting karena pisang baik kulit, buah dan bagian lain dapat diolah dan memiliki nilai ekonomis.
Direktur Pascasarjana UMA Prof. Dr. Ir. Retna Astuti Kuswardani, MS mengatakan pisang bukan komoditas pertanian biasa. Sebab sudah merupakan bagian dari sistem pangan dan budayanya sekaligus penopang ekonomi petani, pelaku usaha dan masyarakat.
“Begitupun masih ditemukan berbagai tantangan, baik dari sisi tata kelola pascapanen, standar mutu, akses pasar, hilirisasi produk maupun keberlanjutan lingkungan dalam pengembangannya. Program Pascasarjana UMA memiliki tanggung jawab moral menjembatani kajian-kajian ilmiah dan kebutuhan nyata dilapangan,” katanya.
Diskusi panel, lanjutnya, jadi ruang bertemu berbagai perspektif pemerintah, praktisi dan masyarakat untuk menyusun strategi pengembangan wilayah berbagai komoditas unggulan. Dalam kesempatan ini, direktur memotivasi masyarakat dan pegawai Pemkab Mandailingnatal untuk kuliah di pascasarjana UMA.
Ketua Program Studi Doktor Pertanian dan Magister Agribisnis UMA Prof. Ir. Zulkarnain Lubis, MS, Ph.D memberikan pengantar untuk diskusi panel tersebut

6 hours ago
7

















































