Menengok Korban Musibah Kebakaran di Barak Kodam XVII/Cenderawasih.
Kepulan asap itu memang telah hilang. Bara api yang sempat melahap deretan rumah barak di Kompleks Kodam XVII/Cenderawasih pada Selasa (10/3) lalu, kini hanya menyisakan puing-puing arang. Namun, bagi puluhan keluarga yang terdampak, luka itu belum padam ia masih menyala dalam ingatan, perlahan menghanguskan rasa aman yang selama ini mereka miliki.
Laporan: Karolus Daot _Jayapura
Selasa (17/3) sore kemarin, suasana di tenda pengungsian terasa jauh berbeda dari hari-hari sebelumnya. Tak ada lagi hiruk-pikuk petugas yang lalu lalang. Bantuan logistik yang sempat ramai didistribusikan kini tinggal sisa-sisa. Waktu tanggap darurat telah usai. Para pengungsi pun bersiap meninggalkan tempat yang selama sepekan menjadi rumah sementara mereka.
Di depan sebuah masjid di kawasan Kodam, dua perempuan lanjut usia duduk bersandar. Di sekeliling mereka, anak-anak dan cucu-cucu bercengkrama, mencoba mencairkan suasana. Tumpukan pakaian dan makanan terkemas rapi di depan mereka tanda bahwa perpisahan dengan tenda pengungsian tinggal menunggu waktu.
“Saat ini kami masih menunggu jemputan. Mau pindah ke rumah anak saya di Holtekamp,” ujar Yeni Marseni (74), dengan suara pelan.
Bagi Yeni, barak yang terbakar itu bukan sekadar tempat tinggal. Ia adalah rumah yang menyimpan kenangan hampir setengah abad perjalanan hidup. Sejak tahun 1977 ia menetap di sana bersama almarhum suaminya, keduanya merupakan aparatur sipil negara di lingkungan Kodam.
Waktu berjalan, anaknya tumbuh dan mengikuti jejak sebagai anggota TNI. Barak itu pun tetap menjadi pusat kehidupan keluarga mereka. Namun dalam sekejap, semua berubah api meluluhlantakkan tempat tinggal mereka.
Saat kebakaran terjadi, Yeni sedang berada di dapur, menyiapkan bahan untuk jualan takjil. Seperti hari-hari selama Ramadan, ia rutin berjualan es buah dan kue di kawasan Paldam. Ia tak menyadari bahaya yang datang mendekat.
“Saya tidak tahu sama sekali. Untung anak saya datang mau ambil barang jualan. Dari situ baru kami tahu ada kebakaran karena mes saya ada di ujung jadi jauh dari titik awal api muncul,” tuturnya.
Ia dan keluarganya selamat. Tapi tidak dengan isi rumah mereka. “Uang, perhiasan, foto-foto kenangan dengan almarhum semua tidak ada yang tersisa,” katanya lirih.
Kata-katanya terhenti sejenak. Matanya tampak berkaca-kaca, seolah mencoba mencari kembali potongan masa lalu yang kini telah menjadi abu. “Hal yang menyedihkan uang pensiunan saya yang baru saja ambil di Kantor Pos rencananya untuk lebaran semuanya hangus terbakar,” sesal Yeni.
Cucunya bernama Adifa yang kini kelas empat SD juga turut merasakan dampak dari peristiwa tersebut. Di mana uang celengannya hangus terbakar. “Saya punya boneka sama tas sekolah juga ikut terbakar,” ujarnya
Di sudut lain, kisah tak kalah pilu datang dari Yeni Pramudianti (43). Ia sama sekali tidak memiliki tempat untuk kembali. Sebagai seorang janda dengan tiga anak perempuan, ia selama ini menggantungkan hidup di barak tersebut.
Suaminya, seorang anggota TNI, telah meninggal dunia pada 2020. Sejak itu, barak menjadi satu-satunya tempat berlindung bagi keluarganya. “Kami tidak punya rumah di Jayapura. Hanya di barak ini saja,” ujarnya.
Selama masa pengungsian, ia bertahan hingga hari terakhir bersama tiga anak dan ibunya. Bukan karena nyaman, tetapi karena tak punya pilihan lain.
Ironisnya, rumah barak yang kini hangus itu baru saja direnovasi menggunakan dana kompensasi dari mendiang suami dan ayahnya. Seolah harapan untuk hidup lebih layak baru saja tumbuh, namun akhirnya kembali runtuh.
“Andai kami tahu akan ada kejadian ini, mungkin kami sudah cicil rumah di luar. Sekarang harus mulai dari nol lagi,” katanya.
Menengok Korban Musibah Kebakaran di Barak Kodam XVII/Cenderawasih.
Kepulan asap itu memang telah hilang. Bara api yang sempat melahap deretan rumah barak di Kompleks Kodam XVII/Cenderawasih pada Selasa (10/3) lalu, kini hanya menyisakan puing-puing arang. Namun, bagi puluhan keluarga yang terdampak, luka itu belum padam ia masih menyala dalam ingatan, perlahan menghanguskan rasa aman yang selama ini mereka miliki.
Laporan: Karolus Daot _Jayapura
Selasa (17/3) sore kemarin, suasana di tenda pengungsian terasa jauh berbeda dari hari-hari sebelumnya. Tak ada lagi hiruk-pikuk petugas yang lalu lalang. Bantuan logistik yang sempat ramai didistribusikan kini tinggal sisa-sisa. Waktu tanggap darurat telah usai. Para pengungsi pun bersiap meninggalkan tempat yang selama sepekan menjadi rumah sementara mereka.
Di depan sebuah masjid di kawasan Kodam, dua perempuan lanjut usia duduk bersandar. Di sekeliling mereka, anak-anak dan cucu-cucu bercengkrama, mencoba mencairkan suasana. Tumpukan pakaian dan makanan terkemas rapi di depan mereka tanda bahwa perpisahan dengan tenda pengungsian tinggal menunggu waktu.
“Saat ini kami masih menunggu jemputan. Mau pindah ke rumah anak saya di Holtekamp,” ujar Yeni Marseni (74), dengan suara pelan.
Bagi Yeni, barak yang terbakar itu bukan sekadar tempat tinggal. Ia adalah rumah yang menyimpan kenangan hampir setengah abad perjalanan hidup. Sejak tahun 1977 ia menetap di sana bersama almarhum suaminya, keduanya merupakan aparatur sipil negara di lingkungan Kodam.
Waktu berjalan, anaknya tumbuh dan mengikuti jejak sebagai anggota TNI. Barak itu pun tetap menjadi pusat kehidupan keluarga mereka. Namun dalam sekejap, semua berubah api meluluhlantakkan tempat tinggal mereka.
Saat kebakaran terjadi, Yeni sedang berada di dapur, menyiapkan bahan untuk jualan takjil. Seperti hari-hari selama Ramadan, ia rutin berjualan es buah dan kue di kawasan Paldam. Ia tak menyadari bahaya yang datang mendekat.
“Saya tidak tahu sama sekali. Untung anak saya datang mau ambil barang jualan. Dari situ baru kami tahu ada kebakaran karena mes saya ada di ujung jadi jauh dari titik awal api muncul,” tuturnya.
Ia dan keluarganya selamat. Tapi tidak dengan isi rumah mereka. “Uang, perhiasan, foto-foto kenangan dengan almarhum semua tidak ada yang tersisa,” katanya lirih.
Kata-katanya terhenti sejenak. Matanya tampak berkaca-kaca, seolah mencoba mencari kembali potongan masa lalu yang kini telah menjadi abu. “Hal yang menyedihkan uang pensiunan saya yang baru saja ambil di Kantor Pos rencananya untuk lebaran semuanya hangus terbakar,” sesal Yeni.
Cucunya bernama Adifa yang kini kelas empat SD juga turut merasakan dampak dari peristiwa tersebut. Di mana uang celengannya hangus terbakar. “Saya punya boneka sama tas sekolah juga ikut terbakar,” ujarnya
Di sudut lain, kisah tak kalah pilu datang dari Yeni Pramudianti (43). Ia sama sekali tidak memiliki tempat untuk kembali. Sebagai seorang janda dengan tiga anak perempuan, ia selama ini menggantungkan hidup di barak tersebut.
Suaminya, seorang anggota TNI, telah meninggal dunia pada 2020. Sejak itu, barak menjadi satu-satunya tempat berlindung bagi keluarganya. “Kami tidak punya rumah di Jayapura. Hanya di barak ini saja,” ujarnya.
Selama masa pengungsian, ia bertahan hingga hari terakhir bersama tiga anak dan ibunya. Bukan karena nyaman, tetapi karena tak punya pilihan lain.
Ironisnya, rumah barak yang kini hangus itu baru saja direnovasi menggunakan dana kompensasi dari mendiang suami dan ayahnya. Seolah harapan untuk hidup lebih layak baru saja tumbuh, namun akhirnya kembali runtuh.
“Andai kami tahu akan ada kejadian ini, mungkin kami sudah cicil rumah di luar. Sekarang harus mulai dari nol lagi,” katanya.

















































