JAYAPURA – Tekanan ekonomi dan sulitnya mendapatkan lapangan pekerjaan ternyata tidak hanya berdampak pada tingkat kesejahteraan, tetapi juga berimbas serius pada kesehatan mental masyarakat. Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Abepura mengungkap fakta lapangan yang cukup memprihatinkan, dimana mayoritas pasien Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) yang menjalani perawatan didominasi oleh warga yang belum berumah tangga atau bujangan.
Ketimpangan angka ini terbilang sangat mencolok jika dibandingkan dengan pasien yang sudah memiliki pasangan atau menikah. Direktur RSJ Abepura, dr. Edyson ML Gaol, mengungkapkan bahwa perbandingan pasien ODGJ yang belum menikah mencapai porsi yang sangat besar dalam catatan medis pihak rumah sakit.
“Untuk persentasenya gangguan kejiwaan itu hampir antara yang sudah berumah tangga dengan ini, 90 persen banding 10 persen, 80 sampai 90 persen itu belum berumah tangga semua,” kata dr. Edyson saat dikonfirmasi Cenderawasih Pos, Jumat (11/9).
Menurut dr. Edyson, akar penyebab utama dari kondisi ini berpusat pada masalah finansial dan ketiadaan pekerjaan. Dalam tatanan sosial masyarakat, ketidakmampuan memiliki penghasilan tetap menciptakan tekanan mental tersendiri ketika seorang individu dihadapkan pada tuntutan untuk membangun rumah tangga.
Menurutnya, rasa ketakutan dan keraguan akan masa depan kerap membebani pikiran calon mempelai maupun keluarga besar, hingga akhirnya menjadi beban psikologis yang menumpuk.
Selain itu, ketidaktersediaan lapangan kerja atau tidak adanya penghasilan tetap membuat banyak individu merasa tertekan dan tidak percaya diri untuk melangkah ke jenjang pernikahan.
“Karena kebanyakan di sini faktor ekonominya. Kalau ibaratnya kita tidak punya penghasilan, berani tidak kita melamar anak orang? Kan begitu, toh? Jangankan kita sendiri, orang tua kita juga tidak berani. Mantu mau dikasih makan apa? Orang tua berpikir bagaimana kasih makannya ke depan,” jelasnya.
JAYAPURA – Tekanan ekonomi dan sulitnya mendapatkan lapangan pekerjaan ternyata tidak hanya berdampak pada tingkat kesejahteraan, tetapi juga berimbas serius pada kesehatan mental masyarakat. Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Abepura mengungkap fakta lapangan yang cukup memprihatinkan, dimana mayoritas pasien Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) yang menjalani perawatan didominasi oleh warga yang belum berumah tangga atau bujangan.
Ketimpangan angka ini terbilang sangat mencolok jika dibandingkan dengan pasien yang sudah memiliki pasangan atau menikah. Direktur RSJ Abepura, dr. Edyson ML Gaol, mengungkapkan bahwa perbandingan pasien ODGJ yang belum menikah mencapai porsi yang sangat besar dalam catatan medis pihak rumah sakit.
“Untuk persentasenya gangguan kejiwaan itu hampir antara yang sudah berumah tangga dengan ini, 90 persen banding 10 persen, 80 sampai 90 persen itu belum berumah tangga semua,” kata dr. Edyson saat dikonfirmasi Cenderawasih Pos, Jumat (11/9).
Menurut dr. Edyson, akar penyebab utama dari kondisi ini berpusat pada masalah finansial dan ketiadaan pekerjaan. Dalam tatanan sosial masyarakat, ketidakmampuan memiliki penghasilan tetap menciptakan tekanan mental tersendiri ketika seorang individu dihadapkan pada tuntutan untuk membangun rumah tangga.
Menurutnya, rasa ketakutan dan keraguan akan masa depan kerap membebani pikiran calon mempelai maupun keluarga besar, hingga akhirnya menjadi beban psikologis yang menumpuk.
Selain itu, ketidaktersediaan lapangan kerja atau tidak adanya penghasilan tetap membuat banyak individu merasa tertekan dan tidak percaya diri untuk melangkah ke jenjang pernikahan.
“Karena kebanyakan di sini faktor ekonominya. Kalau ibaratnya kita tidak punya penghasilan, berani tidak kita melamar anak orang? Kan begitu, toh? Jangankan kita sendiri, orang tua kita juga tidak berani. Mantu mau dikasih makan apa? Orang tua berpikir bagaimana kasih makannya ke depan,” jelasnya.


















































