Ya Allah! Minyak Goreng Bau Minyak Tanah dan Solar Beredar di Wonogiri, Padahal Bantuan Pemerintah Loh

5 hours ago 3
Warga membeli minyak goreng bersubsidi Minyakita di Pasar Induk Rau kota Serang, Banten, Minggu (12/2/2023). Pedagang membatasi warga maksimal hanya bisa membeli 2 liter perorang dengan harga Rp 15.000 perliter atau diatas HET yang ditetapkan pemerintah Rp 14.000 per liter akibat terjadi kelangkaan | tempo.co

WONOGIRI, JOGLOSEMARNEWS.COM – Program bantuan Cadangan Pangan Pemerintah (CPP) yang seharusnya membantu meringankan beban masyarakat justru memunculkan keresahan di sejumlah wilayah Kabupaten Wonogiri. Warga penerima bantuan di Kecamatan Kismantoro dan Kecamatan Giriwoyo mengaku menemukan kejanggalan pada produk Minyakita yang mereka terima dalam paket bantuan tersebut.

Keluhan bermula saat warga hendak menggunakan minyak goreng bantuan untuk memasak di rumah. Sejumlah penerima manfaat mengaku mencium aroma menyengat yang disebut-sebut menyerupai bau minyak tanah hingga solar ketika minyak dipanaskan di atas wajan. Kondisi itu membuat warga merasa khawatir dan memilih tidak mengonsumsi minyak goreng tersebut.

Informasi yang dihimpun, paket bantuan CPP yang dibagikan pekan lalu terdiri dari beras sebanyak 20 kilogram dan dua kantong Minyakita ukuran dua liter. Namun, alih-alih dimanfaatkan untuk kebutuhan dapur sehari-hari, sebagian warga justru menyimpan minyak tersebut karena takut berdampak pada kesehatan keluarga.

Beberapa warga bahkan mengaku sempat mencoba menggunakan minyak goreng bantuan itu untuk memasak. Namun hasil masakan dinilai memiliki aroma dan rasa yang berbeda dari biasanya sehingga makanan yang sudah diolah akhirnya tidak jadi dikonsumsi dan terpaksa dibuang.

Keresahan warga semakin meluas setelah keluhan serupa muncul di beberapa desa sekaligus. Informasi yang beredar menyebutkan aroma tidak biasa baru terdeteksi setelah minyak dipanaskan, sehingga saat proses pembagian bantuan berlangsung tidak ada indikasi yang mencurigakan.

Di Kecamatan Kismantoro, laporan datang dari sejumlah wilayah seperti Desa Miri, Desa Gedawung, dan Kelurahan Kismantoro. Warga di lokasi tersebut mengaku mengalami pengalaman yang hampir sama ketika mencoba menggunakan minyak goreng bantuan.

Camat Kismantoro, Sularto, membenarkan adanya laporan masyarakat terkait dugaan aroma menyerupai minyak tanah pada Minyakita yang dibagikan melalui program CPP.

Menurutnya, saat distribusi berlangsung tidak ditemukan keluhan dari penerima bantuan. Aroma tersebut baru diketahui setelah produk digunakan di rumah masing-masing.

“Katanya saat penyaluran awal tidak tercium bau. Warga baru mengetahuinya saat hendak dikonsumsi di rumah. Pembagiannya sendiri sudah selesai pekan lalu,” ujar Sularto, Kamis (18/6/2026).

Fenomena yang sama ternyata juga ditemukan di Kecamatan Giriwoyo. Camat Giriwoyo, Sri Sundoro, mengungkapkan bahwa pihaknya menerima aduan dari sejumlah warga penerima bantuan di Desa Sirnoboyo dan Desa Selomarto.

Meski tidak seluruh penerima bantuan mengalami hal serupa, laporan yang masuk dinilai cukup untuk menjadi perhatian serius karena menyangkut kualitas bahan pangan yang akan dikonsumsi masyarakat.

Berdasarkan informasi pada kemasan produk, Minyakita yang dibagikan dalam program bantuan tersebut diproduksi oleh sebuah perusahaan yang berlokasi di Kabupaten Karanganyar. Nama perusahaan itu sebelumnya sempat menjadi perhatian publik setelah pernah tersangkut temuan ketidaksesuaian volume kemasan dalam operasi pengawasan yang dilakukan Satgas Pangan Polda Jawa Tengah pada tahun 2025.

Menanggapi laporan yang berkembang di masyarakat, Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan dan Perikanan (DKPKP) Kabupaten Wonogiri langsung bergerak melakukan koordinasi dengan Perum Bulog sebagai pihak penyedia komoditas bantuan.

Otoritas dinas menyebutkan, Bulog akan melakukan verifikasi langsung terhadap produk yang dikeluhkan warga sekaligus berkoordinasi dengan pihak produsen guna memastikan penyebab munculnya aroma yang dipersoalkan tersebut.

DKPKP juga menegaskan berdasarkan petunjuk teknis program bantuan pangan, komoditas yang tidak memenuhi standar kualitas maupun kuantitas dapat dilakukan penggantian sesuai ketentuan yang berlaku.

Kini warga menunggu hasil pemeriksaan resmi dari pihak terkait. Mereka berharap ada kejelasan mengenai kualitas Minyakita yang diterima, sekaligus solusi cepat apabila terbukti terdapat masalah pada produk yang telah dibagikan kepada masyarakat penerima bantuan.

Kasus ini pun menjadi perhatian karena menyangkut kebutuhan pokok yang digunakan setiap hari oleh ribuan keluarga. Hasil investigasi dan pemeriksaan lanjutan dari Bulog maupun produsen akan menjadi penentu langkah berikutnya, termasuk kemungkinan penggantian produk bagi warga yang terdampak. Aris Arianto

Harap bersabar jika Anda menemukan iklan di laman ini. Iklan adalah sumber pendapatan utama kami untuk tetap dapat menyajikan berita berkualitas secara gratis.

Read Entire Article
Politik | Local| Daerah| Finance| Sport|