Abdul Razak Nasution dan Puji Syukran Bahas Untung/Rugi Lepas Status WNI di Titik Kumpul TVRI Sumut

11 hours ago 6

H. Abdul Razak Nasution, S.H.Int, M.Sc (pengamat hubungan internasional) dan Puji Syukran, B.Eng, M.Eng (akademisi) menjadi narasumber acara ‘Titik Kumpul TVRI Sumut’. Kegiatan ini disiarkan secara langsung dari Studio 2 TVRI Sumut Jalan Putri Hijau Medan, Senin (27/7).

Acara berdurasi satu jam ini dipandu Cik Zizi dan Bang Dika. Acara juga diselingi dengan hiburan musik. H. Abdul Razak Nasution, S.H.Int, M.Sc yang juga wakil rektor Universitas Panca Budi Medan mengatakan banyak berita bahwa banyak yang pindah kewarganegaraan.

“Ada fenomena #KaburAjaDulu. Ada alasan pribadi atau keluarga yang menikah dengan warga negara asing. Ada juga pertimbangan ekonomi dan peluang pekerjaan yang lebih besar di luar negeri. Ada juga karena faktor politik, bisa saja akibat kekecewaan dengan kondisi Indonesia saat ini sehingga muncullah narasi keinginan untuk pindah kewarganegaraan,” katanya.

H. Abdul Razak Nasution, S.H.Int, M.Sc mengatakan bahwa banyak tawaran dari negara-negara maju kepada negara lain untuk pindah kewarganegaraan.

Sedangkan Puji Syukran, B.Eng, M.Eng yang pernah kuliah dan berdomisili di Jerman selama 15 tahun ini mengutarakan bahwa alasan pindah kewarganegaraan pastilah berbeda-beda.

“Kita tak bisa menggeneralisir. Saat ini ada narasi yang dibangun seolah-olah hidup di luar negeri yang dipandang maju sangat menarik. Yang dibahas hanya yang enaknya aja. Yang tidak enak, jarang kita dengar,” ujarnya. Ia berharap pemerintah menyiapkan untuk menghindari kehilangan warga Indonesia yang produktif, terpelajar, teredukasi dan businessman.

Puji Syukran, B.Eng, M.Eng memberi pengalaman saat tinggal di luar negeri. Ia mengatakan bahwa sebagai pembeda di Jerman negara memang sangat-sangat hadir dalam setiap aspek kehidupan masyarakat.

“Jerman secara tatanan negara sebenarnya social state yang berdasarkan nilai-nilai kesosialan. Artinya yang muda menyuport yang tua atau kelas produktif menyuport pensiunan. Yang kaya menyuport yang miskin. Yang sehat menyuport yang miskin. Birokrasi lebih mudah dan transparan. Kita tahu uang pajak dari kita digunakan kemana aja. Hal seperti ini lebih ditingkatkan di Indonesia,” pesannya.

Akademisi perguruan tinggi ini mengungkapkan karena 70 persen penduduk Jerman adalah kelompok lanjut usia maka lebih proaktif menawarkan kepada warga negara lain untuk jadi warga Jerman sering disampaikan terutama saat perpanjangan visa. Selain itu mereka difisit penduduk lebih 300 ribu penduduk tiap tahun karena jumlah yang meninggal lebih besar dari jumlah kelahiran.

“Apakah anda berminat untuk naturalisasi? Hal ini mungkin menyebabkan informasi untuk jadi warga Jerman mudah didapatkan,” katanya.

Puji Syukran, B.Eng, M.Eng menambahkan bahwa di Eropa juga terdapat negara berkembang seperti eks Uni Soviet dan Moldova. “Jangan dianggap negara di Eropa, semua maju,” tegasnya. (dmp)

H. Abdul Razak Nasution, S.H.Int, M.Sc (pengamat hubungan internasional) dan Puji Syukran, B.Eng, M.Eng (akademisi) menjadi narasumber acara ‘Titik Kumpul TVRI Sumut’. Kegiatan ini disiarkan secara langsung dari Studio 2 TVRI Sumut Jalan Putri Hijau Medan, Senin (27/7).

Acara berdurasi satu jam ini dipandu Cik Zizi dan Bang Dika. Acara juga diselingi dengan hiburan musik. H. Abdul Razak Nasution, S.H.Int, M.Sc yang juga wakil rektor Universitas Panca Budi Medan mengatakan banyak berita bahwa banyak yang pindah kewarganegaraan.

“Ada fenomena #KaburAjaDulu. Ada alasan pribadi atau keluarga yang menikah dengan warga negara asing. Ada juga pertimbangan ekonomi dan peluang pekerjaan yang lebih besar di luar negeri. Ada juga karena faktor politik, bisa saja akibat kekecewaan dengan kondisi Indonesia saat ini sehingga muncullah narasi keinginan untuk pindah kewarganegaraan,” katanya.

H. Abdul Razak Nasution, S.H.Int, M.Sc mengatakan bahwa banyak tawaran dari negara-negara maju kepada negara lain untuk pindah kewarganegaraan.

Sedangkan Puji Syukran, B.Eng, M.Eng yang pernah kuliah dan berdomisili di Jerman selama 15 tahun ini mengutarakan bahwa alasan pindah kewarganegaraan pastilah berbeda-beda.

“Kita tak bisa menggeneralisir. Saat ini ada narasi yang dibangun seolah-olah hidup di luar negeri yang dipandang maju sangat menarik. Yang dibahas hanya yang enaknya aja. Yang tidak enak, jarang kita dengar,” ujarnya. Ia berharap pemerintah menyiapkan untuk menghindari kehilangan warga Indonesia yang produktif, terpelajar, teredukasi dan businessman.

Puji Syukran, B.Eng, M.Eng memberi pengalaman saat tinggal di luar negeri. Ia mengatakan bahwa sebagai pembeda di Jerman negara memang sangat-sangat hadir dalam setiap aspek kehidupan masyarakat.

“Jerman secara tatanan negara sebenarnya social state yang berdasarkan nilai-nilai kesosialan. Artinya yang muda menyuport yang tua atau kelas produktif menyuport pensiunan. Yang kaya menyuport yang miskin. Yang sehat menyuport yang miskin. Birokrasi lebih mudah dan transparan. Kita tahu uang pajak dari kita digunakan kemana aja. Hal seperti ini lebih ditingkatkan di Indonesia,” pesannya.

Akademisi perguruan tinggi ini mengungkapkan karena 70 persen penduduk Jerman adalah kelompok lanjut usia maka lebih proaktif menawarkan kepada warga negara lain untuk jadi warga Jerman sering disampaikan terutama saat perpanjangan visa. Selain itu mereka difisit penduduk lebih 300 ribu penduduk tiap tahun karena jumlah yang meninggal lebih besar dari jumlah kelahiran.

“Apakah anda berminat untuk naturalisasi? Hal ini mungkin menyebabkan informasi untuk jadi warga Jerman mudah didapatkan,” katanya.

Puji Syukran, B.Eng, M.Eng menambahkan bahwa di Eropa juga terdapat negara berkembang seperti eks Uni Soviet dan Moldova. “Jangan dianggap negara di Eropa, semua maju,” tegasnya. (dmp)

Read Entire Article
Politik | Local| Daerah| Finance| Sport|