WONOGIRI, JOGLOSEMARNEWS.COM – Apakah Anda merasakan datangnya hawa dingin menusuk tulang belakangan ini, terutama saat malam hingga pagi hari? Eits, jangan langsung mengira itu karena fenomena Aphelion, ya! Faktanya, hawa dingin yang terasa belakangan ini dikenal oleh masyarakat Jawa sebagai bediding, dan penyebabnya bukan jarak Bumi dari Matahari, melainkan angin muson timur dari Australia.
Menurut Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), fenomena bediding ini memang rutin terjadi setiap Juli hingga Agustus, bahkan kadang berlanjut hingga September. Kondisi ini adalah bagian dari siklus tahunan, dan masyarakat di dataran tinggi seperti Wonogiri, Wonosobo, Karanganyar hingga sebagian besar wilayah Jawa Tengah dan DIY sangat merasakannya.
Apa Itu Bediding?
Dalam istilah masyarakat Jawa, bediding merujuk pada hawa dingin yang menusuk tubuh, biasanya saat malam hingga pagi hari. Suasana menjadi lebih senyap, udara terasa kering, dan suhu bisa turun hingga belasan derajat Celsius.
“Jam 5 pagi rasanya kayak di pegunungan. Padahal ini cuma di Wonogiri. Tiap bangun tidur bawaannya mau meringkuk terus,” ujar Pak Slamet (53), warga Kecamatan Nguntoronadi, sambil mengenakan jaket tebal, Kamis (10/7/2025).
Hal senada juga diungkapkan Bu Rini (41), warga Jatisrono, “Setiap pagi saya selalu pakai kaos kaki dan selimut tebal. Anak-anak juga sering masuk angin karena udara dingin banget.”
Penyebab Hawa Dingin: Angin Muson Timur
Angin muson timur adalah penyebab utama suhu dingin saat ini. Angin ini berasal dari daratan Australia, yang sedang mengalami musim dingin. Karena tekanan udara di Australia tinggi, sementara Asia (termasuk Indonesia) tekanan udaranya rendah, maka angin bergerak dari selatan ke utara—melewati Indonesia.
Yang menarik, angin muson timur ini melewati laut sempit, sehingga tidak banyak membawa uap air. Itulah sebabnya musim ini cenderung kering dan dingin.
Jangan tertukar! Angin muson timur adalah angin musiman yang datang rutin setiap tahun antara April hingga Oktober. Sedangkan angin timuran tidak punya jadwal pasti dan dampaknya lebih lokal. Muson timur berkaitan langsung dengan pergantian musim, sedangkan angin timuran hanya sesekali terasa saat cuaca panas.
Dampak Angin Muson Timur Bagi Indonesia
✔ Positif:
• Menurunkan kelembapan udara sehingga lebih kering dan segar.
• Mengurangi risiko banjir dan longsor karena minim curah hujan.
• Membantu proses pengeringan hasil panen bagi petani.
✔ Negatif:
• Suhu dingin bisa memicu masalah pernapasan, terutama pada anak-anak dan lansia.
• Kulit lebih cepat kering dan pecah-pecah akibat minim kelembapan.
• Meningkatkan risiko penyakit musiman seperti flu dan batuk.
• Kekeringan di lahan pertanian non-irigasi dan penurunan debit air sungai.
Diimbau masyarakat untuk tetap menjaga kondisi tubuh dengan istirahat cukup, memakai pakaian hangat saat malam hari, serta mengonsumsi makanan sehat dan air putih yang cukup.
Jadi, hawa dingin yang Anda rasakan saat ini bukan hal aneh, melainkan bagian dari siklus alam tahunan yang dibawa oleh angin muson timur. Istilah bediding bukan sekadar mitos atau perasaan, tapi benar-benar punya penjelasan ilmiah. Tetap waspada dan jaga kesehatan ya, terutama di musim kemarau yang makin terasa dingin menusuk seperti sekarang! Aris Arianto
Harap bersabar jika Anda menemukan iklan di laman ini. Iklan adalah sumber pendapatan utama kami untuk tetap dapat menyajikan berita berkualitas secara gratis.