Benjamin Netanyahu Mulai Dikirik Tokoh Senior Israel

21 hours ago 2

JAKARTA – lKetegangan politik di dalam negeri Israel kian memanas setelah sejumlah tokoh senior secara terbuka melontarkan kritik tajam terhadap pemerintahan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu. Mereka menilai arah kebijakan negara telah melenceng, bahkan menyebut pemerintah saat ini ‘membajak’ Israel demi kepentingan segelintir elite. Kritik keras ini disampaikan oleh dua mantan kepala staf militer Israel, Dan Halutz dan Moshe Ya’alon, dalam sebuah artikel opini yang dimuat di harian Haaretz.

“Menjelang peringatan 78 tahun kemerdekaan Israel (menurut kalender Ibrani), dengan pahit kami harus mengatakan: Israel telah dibajak oleh rezim yang memandang sumber daya negara sebagai milik pribadi mereka,” tulis keduanya. Mereka juga menuding pemerintahan Netanyahu sepenuhnya terputus dari realitas masyarakat. Dalam kritiknya, Halutz dan Ya’alon menyebut negara seolah dijalankan seperti properti pribadi Netanyahu, istrinya Sara, serta Menteri Transportasi Miri Regev.

Tak hanya itu, keduanya turut menyinggung rencana pemilu umum yang diperkirakan berlangsung pada Oktober mendatang. Mereka menyerukan kepada publik untuk mengambil kembali kendali negara dari tangan pemerintah saat ini.

“Kami menyerukan kepada masyarakat untuk merebut kembali kendali atas negara,” tegas mereka.

Kritik serupa juga datang dari mantan Perdana Menteri Israel, Ehud Barak, yang menilai hasil operasi militer Israel, termasuk konflik dengan Iran, jauh dari target yang ditetapkan.

Dalam artikel terpisah di Haaretz, Barak mengakui bahwa musuh Israel memang mengalami pukulan berat. Namun, ia menegaskan bahwa tujuan utama perang tidak tercapai. Barak juga menyoroti bahwa rezim di Teheran tetap bertahan meski telah menghadapi serangan gabungan Israel dan Amerika Serikat. Ancaman nuklir dan rudal balistik Iran pun disebut belum berhasil dieliminasi.

Ia menyebut situasi ini sebagai kegagalan strategis dan politik yang serius, terutama jika melihat ekspektasi bahwa Israel dan Amerika Serikat seharusnya keluar sebagai pemenang dominan. Lebih jauh, Barak menilai posisi Israel kini justru melemah di hadapan sekutunya sendiri.

“Israel telah menjadi negara yang berada di bawah bayang-bayang Amerika Serikat, yang memaksakan keputusan operasional dan diplomatik melalui arahan keras, bahkan terkadang memalukan,” lanjutnya.

JAKARTA – lKetegangan politik di dalam negeri Israel kian memanas setelah sejumlah tokoh senior secara terbuka melontarkan kritik tajam terhadap pemerintahan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu. Mereka menilai arah kebijakan negara telah melenceng, bahkan menyebut pemerintah saat ini ‘membajak’ Israel demi kepentingan segelintir elite. Kritik keras ini disampaikan oleh dua mantan kepala staf militer Israel, Dan Halutz dan Moshe Ya’alon, dalam sebuah artikel opini yang dimuat di harian Haaretz.

“Menjelang peringatan 78 tahun kemerdekaan Israel (menurut kalender Ibrani), dengan pahit kami harus mengatakan: Israel telah dibajak oleh rezim yang memandang sumber daya negara sebagai milik pribadi mereka,” tulis keduanya. Mereka juga menuding pemerintahan Netanyahu sepenuhnya terputus dari realitas masyarakat. Dalam kritiknya, Halutz dan Ya’alon menyebut negara seolah dijalankan seperti properti pribadi Netanyahu, istrinya Sara, serta Menteri Transportasi Miri Regev.

Tak hanya itu, keduanya turut menyinggung rencana pemilu umum yang diperkirakan berlangsung pada Oktober mendatang. Mereka menyerukan kepada publik untuk mengambil kembali kendali negara dari tangan pemerintah saat ini.

“Kami menyerukan kepada masyarakat untuk merebut kembali kendali atas negara,” tegas mereka.

Kritik serupa juga datang dari mantan Perdana Menteri Israel, Ehud Barak, yang menilai hasil operasi militer Israel, termasuk konflik dengan Iran, jauh dari target yang ditetapkan.

Dalam artikel terpisah di Haaretz, Barak mengakui bahwa musuh Israel memang mengalami pukulan berat. Namun, ia menegaskan bahwa tujuan utama perang tidak tercapai. Barak juga menyoroti bahwa rezim di Teheran tetap bertahan meski telah menghadapi serangan gabungan Israel dan Amerika Serikat. Ancaman nuklir dan rudal balistik Iran pun disebut belum berhasil dieliminasi.

Ia menyebut situasi ini sebagai kegagalan strategis dan politik yang serius, terutama jika melihat ekspektasi bahwa Israel dan Amerika Serikat seharusnya keluar sebagai pemenang dominan. Lebih jauh, Barak menilai posisi Israel kini justru melemah di hadapan sekutunya sendiri.

“Israel telah menjadi negara yang berada di bawah bayang-bayang Amerika Serikat, yang memaksakan keputusan operasional dan diplomatik melalui arahan keras, bahkan terkadang memalukan,” lanjutnya.

Read Entire Article
Politik | Local| Daerah| Finance| Sport|