Bentrok FPI dan PWI LS di Pemalang Dipicu Masalah Lama, Soal Nasab

1 month ago 17
Ilustrasi tawuran.

PEMALANG, JOGLOSEMARNEWS.COM – Ketegangan antara dua organisasi masyarakat, Front Persaudaraan Islam (FPI) dan Perjuangan Walisongo Indonesia Laskar Sabilillah (PWI LS), akhirnya meledak dalam bentrokan fisik saat acara ceramah Rizieq Shihab di Desa Pegundan, Kecamatan Petarukan, Pemalang, Rabu (23/7/2025) malam.

Insiden yang berlangsung dalam agenda peringatan bulan Muharam itu menyebabkan sedikitnya 15 orang luka-luka, termasuk empat anggota polisi. Perseteruan antara kedua kubu ternyata bukan perkara baru. Tokoh FPI, Novel Bamukmin, mengungkapkan bahwa konflik sudah bersemi sejak dua setengah tahun lalu, dengan akar persoalan pada isu sensitif, yakni soal  nasab.

“Sebenarnya kejadian ini sudah berlarut-larut, ya. Sebelumnya sudah 2,5 tahun, kami sudah berseteru dengan PWI LS. Di antara kejadian-kejadian, pangkal tolaknya, inti permasalahan adalah soal nasab,” ujar Novel, Kamis (24/7/2025).

Nasab, sebagaimana dijelaskan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, merujuk pada hubungan keturunan, khususnya dari jalur ayah. Dalam hukum Islam, nasab berpengaruh besar terhadap hak waris dan perwalian. Kementerian Agama menyebutnya sebagai hubungan darah yang sah melalui garis paternal.

Novel menyebutkan bahwa polemik tentang nasab sejatinya telah dibahas secara mendalam dan dituangkan dalam sebuah buku tebal yang telah mendapat pengakuan dari berbagai ormas Islam.

“Masalah nasab, debat demi debat, dialog demi dialog, sudah kami tempuh. Bahkan kami terakhir dari spirit 212 seperti FPI, ada Persada 212, dan GNPF Ulama, itu semuanya sudah sepakat, bahwa permasalahan ini sudah selesai. Karena kita buat buku setebal 547 halaman yang sudah menuntaskan permasalahan yang selama ini diributkan oleh mereka,” jelasnya.

Meski secara akademik dan teologis dianggap tuntas, Novel menilai PWI LS masih menyimpan ketegangan dan memilih untuk menyulut permusuhan. Ia bahkan menyebut ormas tersebut melakukan langkah yang “terstruktur, sistematis, masif, dan brutal”.

“Cuma memang ada keinginan yang lebih yang PWI LS ini ingin ternyata bukan sekedar bahasan ilmiah dan terus menebar kebencian,” katanya.

Yang menarik, Novel menyebut nama musisi legendaris Rhoma Irama ikut terlibat dalam dinamika perdebatan mengenai nasab, meskipun tidak dirinci secara gamblang keterlibatannya.

Puncak dari konflik ini, menurut Novel, adalah ketika Rizieq Shihab hendak memberikan ceramah di Pemalang. Ia menduga kuat bahwa PWI LS sudah merancang kericuhan tersebut sejak jauh hari.

“Mereka PWI LS sudah merencanakan jauh-jauh hari dengan adanya terjadwal daripada Imam Besar Habib Rizieq Shihab, mereka ingin mengganggu panggung-panggung ceramah yang di mana FPI selama ini berceramah,” ungkapnya.

Novel pun menyebut pihak kepolisian sempat mengarahkan Rizieq agar melewati bagian belakang panggung, tempat di mana massa PWI LS sudah bersiap. Hal ini dinilainya sebagai bagian dari skenario penyerangan.

“Yang arah ke belakang ini mereka menyerang, sudah terencana, dan mereka laksanakan perencanaan itu dan menyerang FPI lewat belakang panggung dan FPI sudah siapkan dan terjadi bentrokan,” imbuhnya.

Sebaliknya, pihak PWI LS memberikan bantahan tegas. Melalui Koordinator Komunikasi Antar Wilayah DPP PWI LS, Andi Rustono, mereka menyatakan justru menjadi korban dari provokasi.

“Tidak benar menggunakan senjata tajam, justru pihak kami yang menjadi korban dan bentrok itu. Salah satu korban terdapat luka serius di kepala dan bola mata nyaris lepas,” ujarnya, dikutip dari Kompas.com.

Andi mengklaim bahwa alat berupa kayu dan bambu baru mereka ambil dari lingkungan sekitar lokasi setelah massa FPI melemparkan batu dan bata merah ke arah mereka. Ia menolak tudingan bahwa PWI LS membawa senjata dari awal.

Kepolisian memastikan total korban luka mencapai 15 orang, terdiri dari sembilan dari kubu PWI LS, dua dari FPI, dan empat polisi. Kabid Humas Polda Jateng, Kombes Artanto, menyebut petugas mengalami cedera akibat lemparan batu.

“Korban polisi ini terkena lemparan batu di bagian kepala maupun wajah. Ada yang dirawat di rumah sakit, adapula yang rawat jalan,” ujar Artanto.

Pihak kepolisian saat ini masih menyelidiki penyebab pasti bentrokan dan mendalami kemungkinan adanya unsur provokasi yang disengaja. Sejumlah saksi juga telah diperiksa untuk mengungkap kronologi yang utuh.

Sementara itu, Ketua Umum FPI, Muhammad Alattas, menuding adanya upaya pengerahan massa secara terorganisir oleh PWI LS. Ia merujuk pada surat bertanggal 12 Juli 2025 yang menyebutkan adanya permintaan pengerahan anggota PWI LS dari sejumlah daerah.

“Bahwa penyerangan yang dilakukan oleh gerombolan PWI LS kepada acara keagamaan di Pemalang dilakukan terencana secara sistematis, yang dapat diketahui lewat tersebarnya di media sosial, surat Permohonan Pengerahan Pasukan No: 48/PWI-LS-pml/VII/2025,” katanya.

Alattas menambahkan, surat itu ditandatangani oleh Wahyudin dan Wahyani, yang disebut meminta dukungan dari berbagai wilayah, termasuk Batang, Pekalongan, hingga Brebes.

Kapolres Pemalang, AKBP Eko Sunaryo, mengonfirmasi bahwa empat personel kepolisian menjadi korban luka, dan dua di antaranya harus dirawat di RS Siaga Medika. Ia juga menyebut bahwa tablig akbar tetap berjalan sampai dini hari.

“Kami berupaya maksimal mengamankan jalannya kegiatan sejak awal hingga selesai, dan setelah kejadian tersebut, kami langsung lakukan evakuasi,” tegas Eko.

Situasi terkini di Desa Pegundan disebut telah pulih. Namun, aparat tetap disiagakan di lapangan guna mencegah potensi bentrok lanjutan. Para pimpinan ormas juga diminta memberikan arahan menyejukkan kepada anggotanya.

“Kami minta agar para pimpinan kelompok baik PWI LS serta FPI, memberikan instruksi yang menenangkan kepada anggotanya. Jangan ada lagi bentrokan, jangan sampai ada korban susulan. Mari bersama-sama jaga keamanan wilayah,” tegas Kapolres. [*] Berbagai sumber

Harap bersabar jika Anda menemukan iklan di laman ini. Iklan adalah sumber pendapatan utama kami untuk tetap dapat menyajikan berita berkualitas secara gratis.

Read Entire Article
Politik | Local| Daerah| Finance| Sport|